Senin, 25 Agustus 2014

Hebat, Mahasiswa UGM Ciptakan Obat Luka Bakar dari Darah Sapi

Hebat, Mahasiswa UGM Ciptakan Obat Luka Bakar dari Darah Sapi
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM memanfaatkan limbah darah sapi sebagai obat luka bakar. Di tangan mahasiswa Fakultas kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada, limbah darah tersebut dapat disulap menjadi obat luka bakar.

Mereka adalah Rahmad Dwi Ardhiansyah, Riefky Pradipta Baihaqie, Muhammad Nuri Nuha Naufal, Muhammad Atabika Farma Nanda dan Aprilia Maharani.  Rahmad Dwi Ardhiansyah yang merupakan ketua tim ini mengatakan bahwa ini adalah suatu inovasi baru untuk memanfaatkan limbah darah sapi yang belum pernah dimanfaatkan sebagai produk.

Selanjutnya ketua tim penelitian ini menambahkan bahwa selama ini sudah banyak pemanfaatan ekstrak-ekstrak dari tanaman tetapi belum banyak yang memanfaatkan limbah asal hewan.
Berdasarkan data penelitian, mereka menguji obat ciptaannya dengan menggunakan tikus, ternyata obat yang dibuat dari limbah darah sapi tersebut sangat efektif untuk mengobati luka bakar.
Bahkan obat yang nereka ciptakan juga tidak kalah kualitasnya dengan obat luka bakar yang beredar di pasaran.  

Awalnya, tikus diperlakukan terkena luka bakar setelas dianastesi dan dikenai besi panas.
Setelah diberi salep darah sapi, luka bakar tersebut bisa sembuh lebih cepat dibanding dengan obat luka bakar komersial lainnya.

"Selama satu bulan, kita olesi luka tikus ini setiap pagi, siang dan malam, ternyata bisa sembuh kurang dari 21 hari," kata Rahmad Dwi Ardhiansyah saat menyampaikan hasil penelitiannya, Jumat (22/8).

Selain Rahmad, penelitian ini melibatkan empat mahasiswa FKH UGM lainnya, yakni Riefky Pradipta Baihaqie, Muhammad Nuri Nuha Naufal, Muhammad Atabika Farma Nanda dan Aprilia Maharani.
Dibuat dalam bentuk salep, dalam proses pembuatannya, setiap darah sapi yang diambil lalu kemudian disentrifugasi.  Setelah mendapatkan bagian darah yang diinginkan, dicampur dengan dengan vaselin album sebagai bahan dasar salep.  Percampuaran dari kedua bahan ini menghasilkan salep yang mereka namakan salep Platelet Rich Plasma (PRP).

Menurut Rahmad, dalam darah mengandung platelet. Dari platelet tersebut mengandung 7 macam growth factor penyembuh luka.  Faktor penyembuh luka ini selain mempercepat kesembuhan luka tapi juga memiliki kandungan antimikrobial.

Hasil dari penelitian mereka menunjukan bahwa salep hasil produksi mereka memiliki tingkat kesembuhan yang baik dengan ditandai tidak adanya bekas luka pada kulit tikus.

"Saat ini untuk membuat obat luka bakar komersial kita masih bergantung pada bahan baku obat luka bakar dari luar negeri. Maka dari itu kami menciptakan produk dari limbah darah sapi yang jumlahnya tidak terbatas karena setiap hari pasti akan ada limbah darah sapi di RPH, sehingga kita tidak perlu tergantung dengan produk-produk luka bakar dari luar," ungkap Rahmad.

Selain sebagai obat luka bakar, produk ini bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka gores, luka bekas bedah, dan berbagai macam luka pada kulit.  Produk ini juga memiliki keunggulan dibanding produk lain, yaitu pembuatannya yang mudah, praktis, murah, dapar mengurangi pencemaran, dan menghasilkan produk obat luka bakar dengan kesembuhan yang optimal.

Saat ini produk ini dalam proses paten dan hasil penelitian ini akan dipublikasikan baik pada jurnal nasional maupun internasional.  Walaupun obat ini telah menunjukan hasil yang cukup baik bagi kesembuhan luka bakar, hingga saat ini mereka mengaku masih aktif melakukan penelitian untuk menyempurnakan obat ini

Sumber: www.tribunnews.com/iptek/2014/08/24/hebat-mahasiswa-ugm-ciptakan-obat-luka-bakar-dari-darah-sapi
Baca SelengkapnyaHebat, Mahasiswa UGM Ciptakan Obat Luka Bakar dari Darah Sapi

ARYA, MAHASISWA TERMUDA UGM DI USIA 14 TAHUN

Usia 14 Tahun Arya Sudah  Menjadi  Mahasiswa UGM
Arya Bagus Kevin (Kanan) berbincang dengan Anies Baswedan di sela upacara penerimaan mahasiswa baru UGM, 

YOGYAKARTA -Arya Bagus Kevin menjadi mahasiswa termuda yang diterima masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dia diterima di jurusan Teknik Sipil tahun akademik 2014/2015 pada umur 14 tahun, enam bulan 14 hari.

Arya, panggilan akrabnya itu berasal dari Karanganyar. Dia menempuh pendidikan terakhir di SMA 3 Solo. "Saya masuk sekolah dasar pada usia empat tahun," ungkap Arya kepada wartawan seusai mengikuti acara penerimaan mahasiswa baru di Lapangan Graha Sabha Pramana (GSP), Bulaksumur Yogyakarta, Senin (18/8).

Dia mengaku mengikuti program akselerasi sewaktu SD, SMP dan SMA. Pada waktu lulus SD, dia masih berusia 10 tahun. Selanjutnya pada saat belajar di bangku SMP juga diselesaikan sekitar dua tahun sehingga lulus pada usia 12 tahun. Demikian pula saat lulus SMA 3 Solo juga cepat, sehingga dalam usia 14 tahun sudah lulus SMA. "Alhamdulillah program akselerasi saya berjalan lancar," kata Arya kelahiran Solo, 23 Februari 2000 itu.

Pilihan masuk kuliah di Jurusan Teknik Sipil UGM termotivasi oleh pekerjaan ayahnya, Aris Murtopo yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Pekerjaan Umum di Karanganyar."Saya memilih teknik sipil karena selama negeri ini terus membangun, lulusan teknik sipil akan terus dibutuhkan," katanya.

Ketika ditanya, apa cita-citanya, Arya tersipu malu dan tersenyum mengatakan ingin menjadi Menteri Pekerjaan Umum. "Kalau cita-cita ingin jadi Menteri PU," ujarnya.

Saat mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru dengan jaket almamater, kemeja putih dan celana panjang hitam, wajah Arya yang masih seperti anak SMP itu sedikit canggung ketika dipanggil panitia acara untuk menuju panggung. Sambil berlari dia menuju ke atas panggung. "Ya senang bisa masuk UGM melalui ujian tulis SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Tidak sulit saat mengerjakan soal ujian dulu. Yang paling mudah matematika," katanya.

Usai wawancara dengan sejumlah wartawan, Arya sempat bersalaman dengan cendekiawan Anies Baswedan yang hadir memberikan motivasi kepada mahasiswa baru. Anies juga sempat berbincang dengan Arya. Selama studi di UGM, Arya mengaku sudah siap berpisah dengan kedua orangtuanya. Dia juga telah kos tidak jauh dari kampusnya.

Sebanyak 9.133 orang dinyatakan diterima sebagai mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun ajaran 2014/2015. Angka itu terdiri atas 6.851 mahasiswa program sarjana dan 2.282 pada program diploma.

Para mahasiswa baru mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru di lapangan Grha Sabha Pramana UGM, Bulaksumur, Senin pagi. Sebanyak 46 mahasiswa baru berasal dari luar negeri, yaitu Prancis, Jerman, Qatar, dan Malaysia.

Dalam sambutannya, Rektor UGM Prof Pratikno mengatakan, ia berharap mahasiswa baru yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama, serta berbeda disiplin ilmu, dapat tetap menjaga harmoni. Menurut Pratikno hal itu merupakan bagian dari kekayaan Indonesia. "Saudara akan menigkuti Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru bersama mahasiswa dari fakultas lain. Saya harap saudara bisa belajar bertoleransi dan berhubungan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang," ujar Pratikno. Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru merupakan sebutan bagi kegiatan orientasi yang dijalani para mahasiswa baru UGM.

Terpisah, Direktur Akademik UGM, Sri Peni Wastutiningsih mengatakan, jumlah peminat masuk UGM tahun 2014 meningkat cukup signifikan. Dari 263.831 pendaftar pada tahun 2013 menjadi 295.395 yang tersebar di 68 program studi S1.

Peningkatan jumlah pendaftar dengan sendirinya diikuti makin ketatnya angka selektivitas mahasiswa baru Kampus Biru. Dari rata-rata 1:33,5 di tahun 2013 menjadi 1:37,5 di tahun 2014. "Pada program diploma juga terjadi peningkatan jumlah pendaftar yaitu 19.782 pendaftar ditahun 2013 maka di tahun 2014 menjadi 25.480 pendaftar. Tingkat selektivitas pun menjadi ketat dari 1;5,6 menjadi 1:7,2,"  kata Sri Peni. (tribun jogja/niti bayu indrakrista)

Sumber: www.tribunnews.com/regional/2014/08/19/usia-14-tahun-arya-sudah-menjadi-mahasiswa-ugm
Baca SelengkapnyaARYA, MAHASISWA TERMUDA UGM DI USIA 14 TAHUN

Kakak Beradik Berseteru Hak Pemeliharaan Ibu Hingga ke Pengadilan.



 

#2 Orang Kakak Beradik (Di Saudi Arabia) Berseteru Memperebutkan Hak Pemeliharaan Ibunya Yang Sudah Tua Renta Hingga ke Pengadilan.#


 Di salah 1 pengadilan Qasim, Kerajaan Saudi Arabia, berdiri Hizan al Fuhaidi dg air mata yg bercucuran shg membasahi janggutnya,,!! Knp? Krn ia kalah terhadap perseteruannya dg saudara kandungnya!!

Tentang apakah perseteruannya dg saudaranay?? Ttng tanah kah?? atau warisan yg mereka saling perebutkan??

Bkn krn itu semua!! Ia kalah terhdp saudaranya terkait pemeliharaan ibunya yg sdh tua renta & bahkan hanya memakai sebuah cincin timah di jarinya yg tlh keriput,,

Seumur hidupnya, beliau tinggal dg Hizan yg selama ini menjaganya,,

Tatkala beliau telah manula, datanglah adiknya yg tinggal di kota lain, utk mengambil ibunya agar tinggal bersamanya, dng alasan, fasilitas kesehatan dll di kota jauh lbh lengkap drpd di desa,,

Namun Hizan menaolak dg alasan, selama ini ia mampu utk menjaga ibunya. Perseteruan ini tdk berhenti sampai di sini, hingga berlanjut ke pengadilan!!

Sidang demi sidang dilalui,, hingga sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan di majelis..

Kedua bersaudara ini membopong ibunya yg sdh tua renta yg beratnya sdh tdk sampai 40 Kg!!

Sang Hakim bertanya kpdnya, siapa yg lbh berhak tinggal bersamanya. Sang ibu memahami pertanyaan sang hakim, ia pun mnjawab , sambil menunjuk ke Hizan, “Ini mata kananku!”

Kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata, “Ini mata kiriku!!

Sang Hakim brpikir sejenak kmudian memutuskan hak kpd adik Hizan, brdasar kemaslahatan2 bagi si ibu!!

Betapa mulia air mata yg dikucurkan oleh Hizan!!

Air mata penyesalan krn tdk bisa memelihara ibunya tatkala beliau tlh menginjak usia lanjutnya!!

Dan, betapa trhormat dan agungnya sang ibu!! yg diperebutkan oleh anak2nya hingga seperti ini,,!!

Andaikata kita bisa memahami, bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya hingga ia mnjdi ratu dan mutiara termahal bagi anak2nya!!

Ini adalah pelajaran mahal tentang berbakti,, tatkala durhaka sudah menjadi budaya,,

“Ya ALLAH, Tuhan kami!! Anugerahkan kepada kami keridhoan ibu kami dan berilah kami kekuatan agar selalu bisa berbakti kepadanya!!” Aaamiiinn!!!

Semoga yang "like" dan "bagikan" tausiyah ini semua dosanya diampuni Allah, diangkat derajatnya, dikabulkan segala hajatnya dan mendapatkan pasangan yang sakinah serta anak yang sholeh/sholeha hingga bisa masuk surga melalui pintu mana saja yang dikehendaki. Aamiin ya Rabbal'alamiin
Baca SelengkapnyaKakak Beradik Berseteru Hak Pemeliharaan Ibu Hingga ke Pengadilan.

Senin, 11 Agustus 2014

Pimpinan Universitas Ini Rela Potong Gaji demi Pegawainya


Raymond Burse

New York - Raymond Burse, pemimpin sementara Kentucky State University memotong gajinya sekitar US$ 90 ribu atau setara Rp 1,06 miliar (asumsi kurs Rp 11.778 per dolar Amerika Serikat) untuk menaikkan upah pekerja berjumlah 24 di kampus yang dipimpinnya.

Pegawai itu diharapkan mendapatkan penghasilan US$ 10,25 per jam. "Saya melakukannya untuk memberikan penghasilan yang seharusnya diberikan kepada karyawan karena kerja keras mereka, dan telah membuat universitas ini kelihatan baik," ujar Burse, seperti dikutip dari CNNMoney, yang ditulis Minggu (10/8/2014).

Banyak pekerja termasuk penjaga, penjaga lapangan, dan pekerja administrasi yang bekerja dengan gaji US$ 7,25 per jam di Kentucky. Langkah Burse membuat kejutan bagi dewan universitas. Ia menggambarkan pimpinan dewan universitas begitu shock dengan apa yang dilakukan Burse.

Burse memiliki pendapatan tahunan sekitar US$ 350 ribu atau sekitar Rp 4,12 miliar (asumsi kurs Rp 11.778 per dolar Amerika Serikat). Keputusan penerimaan pemotongan gaji ini memakan waktu delapan minggu. Burse menegaskan, langkah yang dilakukannya bukan untuk membuat dirinya tenar.

"Saya melakukan sesuatu yang saya pikir biasa, dan kemudian saya dibanjiri dengan telepon," ujar Burse.
Keputusan untuk memotong gajinya itu membuat surat kabar Lexington Herald mengejar berita tentang keputusannya. Juru bicara Kentucky menjelaskan, dirinya belajar nilai arti kerja kerasa dari seorang pemuda. Ketika ia memiliki pekerjaan dengan upah minimum sebagai caddy dan tobacco cutter.

Burse, anak bungsu dari 13 bersaudara. Kedua orangtuanya hanya memiliki pendidikan rendah. Akan tetapi, ia belajar kerja keras dari orang tuanya.

"Orang tua saya mengajarkan tentang kerja keras dan pendidikan, sehingga Anda dapat unggul di dunia," tutur Burse yang kemudian lulus dari Harvard Law School, dan menjadi Rhodes Scholar.

Saat ditanya apakah keputusannya untuk memotong gajinya sendiri dapat menjadi tren di universitas lain. Burse mengatakan, ia tidak mengetahui hal itu. "Aku melakukan sebagai individu, dan saya mampu untuk melakukannnya," kata Burse.

Sebelum berkarier di Kentucky State University, ia berpraktik hukum selama enam tahun, dan melanjutkan pekerjaan sebagai eksekutif di General Electric selama 17 tahun. Pada masa pensiun, ia menerima tawaran dari dewan universitas untuk kembali datang sebagai pimpinan sementara.

 Sumber: http://m.liputan6.com/bisnis/read/2089089/pimpinan-universitas-ini-rela-potong-gaji-demi-pegawainya
Baca SelengkapnyaPimpinan Universitas Ini Rela Potong Gaji demi Pegawainya

Musa, Hafiz Termuda Indonesia itu, kini Fokus Menghafal Hadis


"Meskipun tengah menghafal hadis, pelajaran lain seperti Bahasa Arab dan Inggris tetap dipelajari," tutur paman Musa, Abu Unaisah.

 Meski baru berusia enam tahun, Musa sudah hafal 30 juz Alquran. Bocah asal Bangka Belitung itu kini mulai fokus menghafal hadis.
"Insya Allah Kitab Shahih Bukhari akan dihafal oleh Musa," tutur paman Musa, Abu Unaisah, saat berbincang dengan Dream, Rabu 6 Agustus 2014.


Saat ini, tambah Abu Unaisah, Musa sudah menghafal sejumlah hadis. Namun dia mengaku tak tahu pasti berapa hadis yang sudah dihafal oleh keponakannya tersebut. "Kalau hadis yang sudah dihafal oleh Musa, saya kurang tahu juga."

Selain tengah sibuk menghafal hadis, saat ini Musa juga sibuk memperdalam ilmu bahasa. "Meskipun tengah menghafal hadis, pelajaran lain seperti Bahasa Arab dan Inggris tetap dipelajari," tutur Abu Unaisah.

Sejak kecil, Musa memang sudah giat mempelajari ilmu agama. Sejak usia dua tahun, Musa telah diperkenalkan huruf-huruf hijaiyah. Metodenya sederhana. Sang ayah hanya menempel satu atau dua huruf hijaiyah di dinding untuk selalu diulang-ulang oleh Musa. Setelah Musa hafal, huruf itu diganti dengan yang lainnya. Metode ini dilakukan hingga Musa hafal seluruh huruf hijaiyah.

Sekitar usia 3,5 tahun, Musa pernah merasa bosan. Musa yang kala itu masih balita selalu menangis saat diajak mengaji. Namun sang ayah tetap saja memberi Musa pelajaran menghafal Alquran dengan dibantu oleh penghafal Alquran, Sabilar Rosyad.

www.dream.co.id/orbit/setelah-alquran-musa-fokus-menghafal-hadis-140806v.html
Baca SelengkapnyaMusa, Hafiz Termuda Indonesia itu, kini Fokus Menghafal Hadis

Anak Pencari Ikan Jadi Wisudawan Terbaik

Mengajar mengaji merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan Zumrotul di desanya, untuk menggerakan warga setempat mendalami pendidikan agama.

Kerja keras hijaber bernama Zumrotul Choiriyah (23) terbayar sudah. Setelah ia berhasil menjadi wisuda Sarjana ke-LXV Diploma XV Magister (S2) XXXII Doktor (S3) VIII IAIN Walisongo.

Zumrotul diwisuda bersama 1.114 mahasiswa program Sarjana, Magister dan Doktor di universitas tersebut, pada Rabu kemarin. Saat diwisuda, gadis asal Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur itu, ditemani kedua orangtuanya.

Ia merupakan mahasiswa pertama yang mendapatkan Beasiswa Pendidikan Miskin Berprestasi (Bidikmisi), untuk Angkatan Tahun 2010. Sejak 2010-2013 lalu, jumlah mahasiswa miskin di IAIN Walisongo yang mendapatkan beasiswa telah mencapai 360 orang.

Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan IAIN Walisongo, Siti Nurfaizah mengatakan, Zumrotul mendapat predikat wisudawan terbaik karena mampu meraih nilai indeks prestasi 3,93.
Atas raihan prestasi tersebut, gadis kelahiran 11 November 1991 silam itu bisa melanjutkan kuliah S2 di IAIN Walisongo.
Pencapaian prestasi Zumrotul kali ini diluar dugaan dan terbilang istimewa. Sebab, Zumrotul merupakan anak buruh tambak ikan di Bojonegoro yang tidak terlalu menonjol di kampus.

"Jadi dia anak buruh tani yang terkadang juga membantu mencari ikan di tambak milik warga desanya. Ekonominya memang pas-pasan sekali. Saking miskinnya dia tidak pernah punya handphone," ujar Siti kepada 

Bagi mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini, berkuliah merupakan kebutuhan mewah. Namun siapa sangka, dari latarbelakang keluarga kurang mampu, prestasi akademik bisa diukir Zumrotul. Kemiskinan tidak menyurutkan niatnya untuk mencapai prestasi terbaik.

"Selama kuliah di sini, dia mondok di Ponpes As-Salawi Mangkang. Tapi kalau waktu libur kuliah dia memilih pulang ke Bojonegoro untuk mengajar TPQ di desanya," kata Siti.

Mengajar mengaji, kata Siti, merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan Zumrotul di desanya untuk menggerakan warga setempat mendalami pendidikan agama. "Bahkan, dia juga mengisi waktu luangnya dengan menjadi hafitz atau penghafal Alquran," urainya. 

Sumber: http://www.dream.co.id/orbit/hijaber-anak-pencari-ikan-jadi-wisudawan-s2-terbaik-140807k.html
Baca SelengkapnyaAnak Pencari Ikan Jadi Wisudawan Terbaik

Perjuangan Anak Kondektur Diterima Kuliah Kedokteran


Kata dia, keterbatasan biaya ternyata bukan alasan meraih cita-cita asalkan mau belajar keras dan disertai keyakinan selalu akan ada jalan.
 Impian Yuli Lusiani kuliah di Fakultas Kedokteran akhirnya tercapai. Dia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Jember melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dengan fasilitas Beasiswa Bidik Misi.

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur karena akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Jember, apalagi dengan fasilitas Beasiswa Bidik Misi," tutur gadis berhijab yang merupakan alumnus SMA Negeri 2 Kediri dikutip Dream.co.id dari laman Unej.ac.id, Sabtu 9 Agustus 2014.

Persaingan untuk masuk ke Fakultas Kedokteran termasuk sangat ketat. Terlebih yang mendaftar melalui fasilitas Beasiswa Bidik Misi.

Keberhasilan Yuli menembus Fakultas Kedokteran juga disyukuri oleh keluarganya. Orangtua Yuli yang tinggal di Desa Bangsongan Kecamatan Kajen Kidul, Kediri, termasuk dalam golongan keluarga yang tidak mampu.

Ayah Yuli, Hientoro, bekerja serabutan, sementara yang lebih luar biasa adalah apa yang dikerjakan sang Ibu, Sri Sari. Untuk menghidupi keluarga sang ibu menjadi kondektur bus Harapan Jaya jurusan Surabaya-Tulungangung.

"Tetapi tidak tiap hari. Jika sedang tidak menjadi kondektur, ibu berjualan pakaian dan seprei. Sebulan gabungan penghasilan Ibu dan Bapak yang bekerja serabutan berkisar satu juta setengah, tapi bisa juga kurang ,” kata gadis kelahiran 9 Juli 1996 ini.

Keterbatasan biaya ternyata tidak membuat Yuli dan orangtuanya putus asa dalam usaha mencapai cita-cita menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Mengetahui ada program Beasiswa Bidik Misi, Yuli aktif menanyakan mengenai bagaimana cara mendapatkan Beasiswa Bidik Misi melalui guru-guru di sekolahnya.

"Ibu bahkan bertanya tentang seluk beluk Bidik Misi kepada tetangga yang kebetulan anaknya kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri, dengan fasilitas Beasiswa Bidik Misi," kata Yuli.

Perjuangan Yuli tidak berhenti di sini saja. Anak kedua dari tiga bersaudara ini menyempatkan diri rutin belajar tiga jam setiap harinya.Semua mata pelajaran dikaji mulai dari bab awal hingga akhir. "Saya juga beruntung dibiayai oleh paman untuk ikut bimbingan belajar," kata Yuli.

Sebenarnya, Yuli merasa kaget dapat diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Jember yang memang menjadi cita-citanya. Dia merasa prestasinya selama sekolah di SMAN 2 Kediri tidak terlalu mentereng. "Memang beberapa kali saya masuk dalam 10 besar di kelas," kata gadis yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anak atau jantung ini.

Terbersit juga rasa ragu di hati Yuli saat memutuskan memilih Fakultas Kedokteran sebagai pilihan. Kedua orangtuanya pun sempat menyampaikan rasa khawatir terkait biaya yang nanti akan ditanggung. "Tapi saya sudah mantap masuk Fakultas Kedokteran, lagipula ada beasiswa Bidik Misi," kata Yuli.

Kata dia, keterbatasan biaya ternyata bukan alasan meraih cita-cita asalkan mau belajar keras dan disertai keyakinan selalu akan ada jalan. "Untuk kawan-kawan yang kebetulan senasib dengan saya, jangan putus asa karena jalan untuk meraih cita-cita tetap terbuka asal mau sungguh-sungguh belajar dan berdoa".

Sumber: http://www.dream.co.id/orbit/perjuangan-hijaber-anak-kondektur-diterima-kuliah-kedokteran-140808c.html
Baca SelengkapnyaPerjuangan Anak Kondektur Diterima Kuliah Kedokteran