Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UMUM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Oktober 2014

Cerita Sepiring Nasi Goreng Gratis untuk Ibu Hamil

 Aktivitas menggoreng nasi itu sudah diakrabi Suyoto hampir dua tahun terakhir ini. Sejak itu, racikan bumbu dan penggorengan panas hampir tak pernah absen dari kedua tangannya. Sepintas Suyoto memang serupa dengan pedagang nasi goreng pinggir jalan lainnya. Hanya satu yang beda: Suyoto tak berpikir dua kali memberi nasi goreng gratis pada ibu hamil.

"Kita sebagai umat Islam harus banyak-banyak beramal. Kalau orang kaya kan punya harta. Kalau saya orang susah, punya nasi goreng ya beramal dengan nasi goreng. Saya senang kalau bisa memberi pada ibu hamil," kata Suyoto.

Hal itu disampaikan pria kelahiran Semarang 16 Juni 1963 itu kepada detikcom, Selasa (6/12/2011).

Bagi dia memberi nasi goreng gratis pada ibu hamil yang makan di warung tendanya adalah kebahagiaan tersendiri. Suyoto membayangkan, calon bayi yang ada di perut ibu hamil turut memakan nasi goreng bikinannya. Karena dilandasi niat tulus memberi, dia berharap kelak anak-anak yang dilahirkan ibu hamil yang sempat mampir di warungnya tumbuh sebagai anak yang baik, berbakti pada orang tua dan juga senang beramal pada sesama.

"Kalau dalam sehari ada 15 ibu hamil yang makan di warung saya, akan tetap saya beri gratis. Memang sudah niat saya memberi nasi goreng gratis pada ibu hamil yang makan di tempat," tuturnya.

Tidak takut rugi? "Saya tidak pernah merasa dirugikan dengan ini. Semakin banyak ibu hamil yang makan di warung saya, saya merasa semakin banyak rezeki yang saya dapat," ucap pria yang rambutnya mulai memutih ini.

Tidak setiap hari selalu ada ibu hamil yang mampir ke warung nasi goreng Suyoto yang berada di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan ini. Tapi malam itu ketika detikcom menyambangi warung Suyoto, kebetulan ada ibu hamil yang sedang makan di sana.

"Yang dimakan Mbak, gratis," ujar istri Suyoto saat ibu hamil itu hendak membayar makanannya.

"Lho kenapa?" ucap perempuan berbadan dua itu dengan wajah bingung.

"Untuk ibu hamil memang gratis. Ini sudah kami tulis di sini," ucap istri Suyoto sambil menyodorkan daftar menu.

 
Di bagian paling bawah daftar menu memang tertulis 'Khusus ibu hamil makan gratis'. Melihat itu, sang ibu hamil pun mengangguk mengerti.

Suyoto bersyukur nasi gorengnya bisa diterima masyarakat. Awalnya dia hanya menjual nasi goreng biasa. Namun perlahan, dia mulai 'berkreasi' dengan nasi goreng bikinannya. Ada nasi goreng teri, nasi goreng pete, nasi goreng kambing, nasi goreng seafood dan sebagainya.

"Tambahan ati ampela, ikan asin dan sebagainya ini juga masukan dari konsumen. Kata mereka, kalau dasar nasi gorengnya sudah enak, mau ditambahi apa saja tetap saja enak," lanjut ayah dua anak ini.

Dari nasi goreng, Suyoto mampu membiayai pendidikan kedua anaknya. Anak sulungnya kuliah kebidanan di Solo sedangkan anak bungsunya masih SMA. Bagi dia, mampu membayar kuliah anaknya adalah suatu rezeki yang tak henti-hentinya dia syukuri.

Sebelum membuka warung nasi goreng, Suyoto lama membuka warung rokok kecil-kecilan. 7 Tahun dia mengelola warung rokoknya itu. Sebelum menjalani aktivitas dagang, Suyoto dan istrinya sempat bekerja di pabrik garmen. Bahkan Suyoto pernah menduduki posisi sebagai supervisor. Sayang, pabrik tempat dia mencari makan gulung tikar.

"Sesuatu itu selalu bermula dari yang kecil. Kalau mau berhasil harus mau usaha. Semua itu tergantung orangnya. Kalau tekun, rajin dan disertai doa, saya yakin pasti bisa berhasil," tutur Suyoto.

Dia berharap suatu saat nanti bisa memiliki warung nasi goreng di bangunan permanen, sehingga bisa lebih nyaman. Jika selama ini warung nasi gorengnya tak punya nama, dalam waktu sebulan ke depan dia akan memberi nama warungnya 'Sadakur'. Dia baru sadar, identitas pun memegang peranan penting saat membuka usaha.

"Sadakur itu artinya sabar dan bersyukur. Keinginan saya lainnya adalah bisa buka cabang di tempat lain dan bisa menjalankan rukun Islam ke-lima, naik haji," harapnya.

Bagi Suyoto, mencari makan dengan berdagang adalah aktivitas yang menyenangkan. Sebab dia bisa mengatur sendiri waktu kerjanya dan tidak tergantung pada atasan. Bahkan jika mungkin, Suyoto ingin membuka lapangan kerja bagi orang lain.

"Suatu hari nanti saya ingin bisa menulis buku. Ingin membagi kisah saya dengan orang lain. Dan sampai kapan pun selama saya jualan nasi goreng, saya akan tetap memberi gratis untuk ibu hamil. Benar, rezeki itu tidak tertukar," ucap Suyoto.

Sumber: http://imampriestian.blogspot.com/2011/12/jakarta-aktivitas-menggoreng-nasi-itu.html

Baca SelengkapnyaCerita Sepiring Nasi Goreng Gratis untuk Ibu Hamil

24 Tahun Rela Mencicil Hutang, Demi Biayai Istri yang Sakit

Mei Guanghan (66) 24 tahun lalu meminjam uang sebesar 70.000 yuan atau sekitar Rp 124 juta dari puluhan tetangganya di Desa Tingpang, Provinsi Zhejiang, China, untuk biaya pengobatan istrinya. Sejak saat itu, satu-satunya tujuan hidup Guanghan adalah membayar lunas utangnya kepada semua tetangga yang telah membantunya.

Dulu, Guanghan, istrinya, Ren Chun'ai, dan seorang putri berusia 15 tahun hidup berkecukupan dan bahagia. Namun, kehidupan pria ini berubah pada April 1990 ketika sang istri pergi ke kota untuk membeli makanan. Ren Chun'ai mengendarai traktor untuk pergi ke kota. Dalam perjalanan pulang, dia terlibat kecelakaan yang cukup fatal.

"Di pegunungan dua traktor berjalan dengan arah yang sama. Saya membelokkan traktor, tetapi rodanya tergelincir dan saya terjatuh ke dalam lembah," kenang Ren Chun'ai.

Saat jatuh, Ren menghantam bebatuan yang kemudian menyebabkannya koma. Biaya pengobatan untuk menyelamatkan Ren sangat besar dan tak bisa ditanggung pendapatan Guanghan yang hanya seorang petani biasa.

Karena cintanya yang besar kepada sang istri, Guanghan akhirnya harus mengetuk pintu setiap rumah tetangga di desanya untuk meminjam uang berapa pun yang mereka punya demi membayar biaya perawatan sang istri.

Tak hanya meminjam, Guanghan mencatat nama semua orang yang membantunya dan jumlah uang yang mereka pinjamkan. Kepada semua orang yang membantunya, Guanghan berjanji akan membayar utangnya.

"Satu hari kelak, saya akan datang kembali, mengetuk pintu dan mengembalikan uang Anda," kata Guanghan saat itu.

Rupanya, Guanghan tidak main-main dengan janjinya itu. Selama 15 tahun berikutnya, dia rela hidup pas-pasan agar bisa menyisihkan uang untuk membayar utang-utangnya. Saat uang yang dikumpulkan sudah cukup, dia akan mendatangi seorang tetangganya dan mengembalikan uang yang pernah dipinjamnya.

Pekan ini, adalah tahun ke-24 Guanghan tak lupa membayar utangnya, dan pekan ini lunas sudah dia membayar seluruh utangnya, kecuali untuk empat keluarga yang pindah dari desa itu dan tidak bisa dihubungi.

Namun, Guanghan tetap berencana untuk melacak keberadaan keempat bekas tetangganya itu dan mengembalikan uang mereka. Keteguhan Guanghan memegang janji memang berimbas pada kehidupannya. Pendapatannya yang rendah membuat dia dan istrinya harus hidup di sebuah gubuk satu kamar yang nyaris tanpa perabotan.

Sangat menakjubkan melihat Guanghan mampu menyisihkan uang yang seharusnya bisa dia gunakan untuk membeli keperluan sehari-hari. "Saya tak mempunyai pilihan. Janji adalah janji dan saya tak bisa mengambil tanpa memberi sesuatu," kata dia.

Di samping itu, Guanghan juga harus merawat sang istri, yang meskipun nyawanya terselamatkan, tetapi menjadi lumpuh akibat kecelakaan itu. Setiap pagi selama 24 tahun Guanghan secara rutin memandikan lalu memberi istrinya makan. Semuanya dilakukan karena Guanghan yakin rumahnya akan kosong tanpa kehadiran sang istri.

Meski Guanghan sudah membayar lunas semua utangnya, dia tetap menyimpan buku kecil berisi catatan nama-nama tetangga yang membantu memberi pinjaman uang.  Dia berniat mewariskan buku itu kepada anak cucunya agar mereka tak pernah melupakan jasa orang-orang yang menyelamatkan nyawa sang ibu. "Jangan pernah tidak berterima kasih," kata Guanghan penuh ketulusan. 

SUMBER: http://rizkimegasaputra.blogspot.com/2014/05/biayai-istri-yang-sakit-petani-ini.html

Baca KISAH BIGMOTIVASI LAINNYA

Baca Selengkapnya 24 Tahun Rela Mencicil Hutang, Demi Biayai Istri yang Sakit

Kisah Tempe dan Telur Mata Sapi Buatan Ibu

 

Perjuangan seseorang demi mengurus kebahagiaan keluarga kecilnya tak dapat dibandingkan dengan hal apapun. Sepanjang hari ibu melakukan segala hal yang terbaik untuk anggota keluarganya.

Ibu yang bangun sejak pagi, tak kenal lelah bekerja keras sepanjang hari. Ia membereskan rumah seorang diri, hingga tiba jam makan malam pun ibu masih saja sibuk sendiri di dapur kecil kami.


Tepat jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah, sangat sederhana, berupa telur mata kerbau, tempe goreng, sambal ikan bilis dan nasi.


Sayangnya, kerena sibuk mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit hangus.
Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tidak dapat berbuat apa. Minyak goreng pun sudah habis.

Kami menunggu dengan tegang, apa reaksi ayah yang pulang kerja? Sudah letih, kemudian melihat makan malamnya hanya dengan tempe dan telur hangus.
Namun sungguh luar biasa! Ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan senyuman yang tak hilang dari pandangan.

Ayah bahkan berkata,
“Bu terima kasih ya!” Lalu ayah juga menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah.

Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar ibu meminta maaf kerana telor dan tempe yang hangus itu.


Dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan:

“Sayang, aku suka telor dan tempe yang hangus.”
Sebelum tidur, saya pergi ke bilik ayah dan bertanya, “Apakah ayah benar-benar menyukai telur dan tempe hangus?”

Ayah memeluk saya dengan kedua lengannya erat sekali sambil berkata,
“Anakku, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah letih . Jadi, sepotong telor dan tempe yang hangus tidak akan menyakiti siapa pun anakku.”
Ini pelajaran yang saya praktikkan di tahun-tahun berikutnya, “Belajar menerima kesalahan orang lain adalah kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh & abadi.”
 
Sumber: http://www.zulfanafdhilla.com/2013/06/kisah-tempe-telur-hangus.html#ixzz3FdQI0gCj



Baca SelengkapnyaKisah Tempe dan Telur Mata Sapi Buatan Ibu

Rabu, 27 Agustus 2014

Adinda, Siswi SMK Juara Riset se Asia Fasifik

Adinda mengharumkan nama Indonesia pada lomba riset tingkat SMA Asia-Pacific Conference of Young Scientist (APCYS) ke-3 di Taiwan.

Sempat Minder, Adinda Raih Emas pada Kompetisi Riset di Taiwan
Adinda Alifiansi Candra Dewi (18), pelajar SMK Theresiana Semarang yang meraih medali emas pada lomba riset tingkat SMA Asia-Pacific Conference of Young Scientist (APCYS) ke-3 di Taiwan, saat ditemui di sekolahnya, Selasa (26/8/2014) (Puji Utami/Kompas.com)
 Adinda Alifiansi Candra Dewi (18), siswi kelas 12 Jurusan Farmasi SMK Theresiana Semarang tak pernah menyangka penelitiannya berbuah medali emas di Taiwan. Mengaku sempat minder, Adinda akhirnya mampu mengharumkan nama Indonesia pada lomba riset tingkat SMA Asia-Pacific Conference of Young Scientist (APCYS) ke-3 di Taiwan. 

Penelitiannya berjudul "Kelor Seed as Water Cleanser" membuat Adinda menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang meraih emas di ajang itu. "Nggak pernah terpikir bisa dapat emas, karena yang lain penelitiannya juga keren-keren," kata dia saat ditemui di SMK Theresiana, Jalan Gajahmada, Semarang, Selasa (26/8).

Adinda menceritakan, penelitiannya berawal dari kegalauannya melihat sungai-sungai yang kotor di tengah Kota Semarang. Terlebih lagi, warga di sekitar sungai tersebut tidak bisa mendapatkan pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Padahal air bersih merupakan kebutuhan utama masyarakat.

"Saya kan setiap berangkat dan pulang sekolah melewati sungai itu, selain itu juga banyak penelitian tentang biji kelor yang bisa menjernihkan air. Makanya saya coba," ujar dia.

Adinda kemudian melakukan penelitian tentang biji kelor tersebut dengan dibantu guru pembimbingnya Shierly Veronica Mayasari. Akhirnya lewat penelitian tersebut ia bisa meraih medali perak pada lomba penelitian belia tingkat Provinsi Jawa Tengah Oktober 2013 lalu.

Kemudian di tingkat nasional, Adinda meraih perunggu pada November tahun lalu. Ia mengatakan perjalanan penelitian ini juga terbilang panjang, kurang lebih sampai satu tahun. Ia juga sudah melakukan beberapa kali percobaan dengan air dari dua sungai berbeda dengan tingkat kekeruhan yang berbeda pula.

"Dari setiap tingkatan lomba itu ada evaluasi dan perbaikan, awalnya dengan dosis 400 mg serbuk biji kelor untuk satu liter air dan waktu penjernihan hingga delapan jam, dan untuk yang ke Taiwan sudah dengan dosis tepat yakni 30 mg untuk satu liter air dengan waktu lebih efektif hanya satu jam, akhirnya malah dapat medali emas," kata dia.

Adinda menjelaskan, dengan biji kelor yang sudah menjadi bubuk itu bisa untuk menjernihkan air. Air yang sudah jernih bisa bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga. "Kalau untuk langsung diminum harus diteliti lagi di laboratorium, tapi ini sudah bisa untuk mencuci, mandi dan kebutuhan air bersih lain," ujar siswi kelahiran Semarang, 3 April 1996.

Berada di ajang internasional, bagi Adinda merupakan pengalaman berharga dan luar biasa. Dengan penelitiannya itu, ia juga bisa memperkenalkan biji kelor dengan nama latin moringa oleivera yang banyak ditemukan di Indonesia.

Saat presentasi, ia juga membawa contoh berupa biji kelor kering untuk diperlihatkan. Terdapat tujuh negara yang turut serta pada ajang tersebut, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, Korea dan Guam.

"Bawa sedikit untuk contoh, dan ternyata yang banyak ditanyakan juga keberadaan kelor sendiri apakah banyak di Indonesia. Dan penelitian ini saya lakukan karena kelor banyak ditemukan di sekitar kita dan mudah tumbuh," tutur putri pertama pasangan Kodrat Agung Ari Winanto dan Andrini Widiasari.

Sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/08/sempat-minder-adinda-raih-emas-pada-kompetisi-riset-di-taiwan
Baca SelengkapnyaAdinda, Siswi SMK Juara Riset se Asia Fasifik

Senin, 25 Agustus 2014

Hebat, Mahasiswa UGM Ciptakan Obat Luka Bakar dari Darah Sapi

Hebat, Mahasiswa UGM Ciptakan Obat Luka Bakar dari Darah Sapi
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM memanfaatkan limbah darah sapi sebagai obat luka bakar. Di tangan mahasiswa Fakultas kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada, limbah darah tersebut dapat disulap menjadi obat luka bakar.

Mereka adalah Rahmad Dwi Ardhiansyah, Riefky Pradipta Baihaqie, Muhammad Nuri Nuha Naufal, Muhammad Atabika Farma Nanda dan Aprilia Maharani.  Rahmad Dwi Ardhiansyah yang merupakan ketua tim ini mengatakan bahwa ini adalah suatu inovasi baru untuk memanfaatkan limbah darah sapi yang belum pernah dimanfaatkan sebagai produk.

Selanjutnya ketua tim penelitian ini menambahkan bahwa selama ini sudah banyak pemanfaatan ekstrak-ekstrak dari tanaman tetapi belum banyak yang memanfaatkan limbah asal hewan.
Berdasarkan data penelitian, mereka menguji obat ciptaannya dengan menggunakan tikus, ternyata obat yang dibuat dari limbah darah sapi tersebut sangat efektif untuk mengobati luka bakar.
Bahkan obat yang nereka ciptakan juga tidak kalah kualitasnya dengan obat luka bakar yang beredar di pasaran.  

Awalnya, tikus diperlakukan terkena luka bakar setelas dianastesi dan dikenai besi panas.
Setelah diberi salep darah sapi, luka bakar tersebut bisa sembuh lebih cepat dibanding dengan obat luka bakar komersial lainnya.

"Selama satu bulan, kita olesi luka tikus ini setiap pagi, siang dan malam, ternyata bisa sembuh kurang dari 21 hari," kata Rahmad Dwi Ardhiansyah saat menyampaikan hasil penelitiannya, Jumat (22/8).

Selain Rahmad, penelitian ini melibatkan empat mahasiswa FKH UGM lainnya, yakni Riefky Pradipta Baihaqie, Muhammad Nuri Nuha Naufal, Muhammad Atabika Farma Nanda dan Aprilia Maharani.
Dibuat dalam bentuk salep, dalam proses pembuatannya, setiap darah sapi yang diambil lalu kemudian disentrifugasi.  Setelah mendapatkan bagian darah yang diinginkan, dicampur dengan dengan vaselin album sebagai bahan dasar salep.  Percampuaran dari kedua bahan ini menghasilkan salep yang mereka namakan salep Platelet Rich Plasma (PRP).

Menurut Rahmad, dalam darah mengandung platelet. Dari platelet tersebut mengandung 7 macam growth factor penyembuh luka.  Faktor penyembuh luka ini selain mempercepat kesembuhan luka tapi juga memiliki kandungan antimikrobial.

Hasil dari penelitian mereka menunjukan bahwa salep hasil produksi mereka memiliki tingkat kesembuhan yang baik dengan ditandai tidak adanya bekas luka pada kulit tikus.

"Saat ini untuk membuat obat luka bakar komersial kita masih bergantung pada bahan baku obat luka bakar dari luar negeri. Maka dari itu kami menciptakan produk dari limbah darah sapi yang jumlahnya tidak terbatas karena setiap hari pasti akan ada limbah darah sapi di RPH, sehingga kita tidak perlu tergantung dengan produk-produk luka bakar dari luar," ungkap Rahmad.

Selain sebagai obat luka bakar, produk ini bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka gores, luka bekas bedah, dan berbagai macam luka pada kulit.  Produk ini juga memiliki keunggulan dibanding produk lain, yaitu pembuatannya yang mudah, praktis, murah, dapar mengurangi pencemaran, dan menghasilkan produk obat luka bakar dengan kesembuhan yang optimal.

Saat ini produk ini dalam proses paten dan hasil penelitian ini akan dipublikasikan baik pada jurnal nasional maupun internasional.  Walaupun obat ini telah menunjukan hasil yang cukup baik bagi kesembuhan luka bakar, hingga saat ini mereka mengaku masih aktif melakukan penelitian untuk menyempurnakan obat ini

Sumber: www.tribunnews.com/iptek/2014/08/24/hebat-mahasiswa-ugm-ciptakan-obat-luka-bakar-dari-darah-sapi
Baca SelengkapnyaHebat, Mahasiswa UGM Ciptakan Obat Luka Bakar dari Darah Sapi

ARYA, MAHASISWA TERMUDA UGM DI USIA 14 TAHUN

Usia 14 Tahun Arya Sudah  Menjadi  Mahasiswa UGM
Arya Bagus Kevin (Kanan) berbincang dengan Anies Baswedan di sela upacara penerimaan mahasiswa baru UGM, 

YOGYAKARTA -Arya Bagus Kevin menjadi mahasiswa termuda yang diterima masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dia diterima di jurusan Teknik Sipil tahun akademik 2014/2015 pada umur 14 tahun, enam bulan 14 hari.

Arya, panggilan akrabnya itu berasal dari Karanganyar. Dia menempuh pendidikan terakhir di SMA 3 Solo. "Saya masuk sekolah dasar pada usia empat tahun," ungkap Arya kepada wartawan seusai mengikuti acara penerimaan mahasiswa baru di Lapangan Graha Sabha Pramana (GSP), Bulaksumur Yogyakarta, Senin (18/8).

Dia mengaku mengikuti program akselerasi sewaktu SD, SMP dan SMA. Pada waktu lulus SD, dia masih berusia 10 tahun. Selanjutnya pada saat belajar di bangku SMP juga diselesaikan sekitar dua tahun sehingga lulus pada usia 12 tahun. Demikian pula saat lulus SMA 3 Solo juga cepat, sehingga dalam usia 14 tahun sudah lulus SMA. "Alhamdulillah program akselerasi saya berjalan lancar," kata Arya kelahiran Solo, 23 Februari 2000 itu.

Pilihan masuk kuliah di Jurusan Teknik Sipil UGM termotivasi oleh pekerjaan ayahnya, Aris Murtopo yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Pekerjaan Umum di Karanganyar."Saya memilih teknik sipil karena selama negeri ini terus membangun, lulusan teknik sipil akan terus dibutuhkan," katanya.

Ketika ditanya, apa cita-citanya, Arya tersipu malu dan tersenyum mengatakan ingin menjadi Menteri Pekerjaan Umum. "Kalau cita-cita ingin jadi Menteri PU," ujarnya.

Saat mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru dengan jaket almamater, kemeja putih dan celana panjang hitam, wajah Arya yang masih seperti anak SMP itu sedikit canggung ketika dipanggil panitia acara untuk menuju panggung. Sambil berlari dia menuju ke atas panggung. "Ya senang bisa masuk UGM melalui ujian tulis SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Tidak sulit saat mengerjakan soal ujian dulu. Yang paling mudah matematika," katanya.

Usai wawancara dengan sejumlah wartawan, Arya sempat bersalaman dengan cendekiawan Anies Baswedan yang hadir memberikan motivasi kepada mahasiswa baru. Anies juga sempat berbincang dengan Arya. Selama studi di UGM, Arya mengaku sudah siap berpisah dengan kedua orangtuanya. Dia juga telah kos tidak jauh dari kampusnya.

Sebanyak 9.133 orang dinyatakan diterima sebagai mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun ajaran 2014/2015. Angka itu terdiri atas 6.851 mahasiswa program sarjana dan 2.282 pada program diploma.

Para mahasiswa baru mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru di lapangan Grha Sabha Pramana UGM, Bulaksumur, Senin pagi. Sebanyak 46 mahasiswa baru berasal dari luar negeri, yaitu Prancis, Jerman, Qatar, dan Malaysia.

Dalam sambutannya, Rektor UGM Prof Pratikno mengatakan, ia berharap mahasiswa baru yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama, serta berbeda disiplin ilmu, dapat tetap menjaga harmoni. Menurut Pratikno hal itu merupakan bagian dari kekayaan Indonesia. "Saudara akan menigkuti Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru bersama mahasiswa dari fakultas lain. Saya harap saudara bisa belajar bertoleransi dan berhubungan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang," ujar Pratikno. Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru merupakan sebutan bagi kegiatan orientasi yang dijalani para mahasiswa baru UGM.

Terpisah, Direktur Akademik UGM, Sri Peni Wastutiningsih mengatakan, jumlah peminat masuk UGM tahun 2014 meningkat cukup signifikan. Dari 263.831 pendaftar pada tahun 2013 menjadi 295.395 yang tersebar di 68 program studi S1.

Peningkatan jumlah pendaftar dengan sendirinya diikuti makin ketatnya angka selektivitas mahasiswa baru Kampus Biru. Dari rata-rata 1:33,5 di tahun 2013 menjadi 1:37,5 di tahun 2014. "Pada program diploma juga terjadi peningkatan jumlah pendaftar yaitu 19.782 pendaftar ditahun 2013 maka di tahun 2014 menjadi 25.480 pendaftar. Tingkat selektivitas pun menjadi ketat dari 1;5,6 menjadi 1:7,2,"  kata Sri Peni. (tribun jogja/niti bayu indrakrista)

Sumber: www.tribunnews.com/regional/2014/08/19/usia-14-tahun-arya-sudah-menjadi-mahasiswa-ugm
Baca SelengkapnyaARYA, MAHASISWA TERMUDA UGM DI USIA 14 TAHUN

Senin, 11 Agustus 2014

Ilmuwan Muslim Ini Pesaing Stephen Hawking


Sebut saja nama besar Ibnu Sina yang dikenal sebagai bapak medis dunia. Lantas bagaimana dengan ilmuwan muslim di abad 21?
 Para Ilmuwan di jazirah Islam sekitar abad ke-9 sampai 13 M telah meletakkan dasar penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Dari fisika, kimia, astronomi hingga kedokteran. Sebut saja nama besar Ibnu Sina yang dikenal sebagai bapak medis dunia. Lantas bagaimana dengan ilmuwan muslim di abad 21?

Yang cukup membetot perhatian adalah fisikawan matematika dari Universitas Harvard, Cumrun Vafa. Pria asal Teheran, Iran ini dianggap memberikan terobosan penting atas studi fisika matematis lewat teori String dan objek astrofisika lubang hitam (Black Hole).

Hampir empat dekade teori String jadi 'kiblat' para fisikawan teoritis mempelajari teori dasar alam secara terpadu. Kata pria kelahiran 1960 ini, teori String menyediakan kerangka menyatukan segala sesuatu kita ketahui tentang alam, termasuk semua partikel dan kekuatan di dalamnya.
Lewat terori ini dia ingin menggambarkan fenomena fisik yang melibatkan skala 1025 lebih lebih kecil dari atom. Sementara kosmologi seluruh alam semesta kita melibatkan skala 1037 lebih besar dari atom.

Tak heran jika teori String disebut-sebut persimpangan dari berbagai disiplin, termasuk matematika, partikel fenomenologi dan astrofisika. Apa yang digagas dia sontak memukau Amerika. Nama Cumrun Vafa melejit di 2008, setelah ia menerima Dirac Medal--penghargaan paling bergengsi di kalangan ilmuwan.

Melalui teori String dan Geometri, Vafa mencermati gejala misterius astrofisika Black Hole di alam semesta. Teori Black Hole merupakan buah karya ilmuwan jenius Stephen Hawking. Lewat buku "A Brief History of Time" atau Sejarah Singkat Waktu, ia membuat gambaran sederhana, dari alam semesta yang terbentuk dari Black Hole dan Big Bang, bukan ciptaan Tuhan.

Sepanjang karir akademiknya, Cumrun Vafa sudah bolak-balik tampil di panggung penghargaan fisika dan matematika. Dengan semua pencapaian itu tak membuat Vafa lupa akan tanah kelahiran.


Selain sibuk mengajar di Harvard sebagai profesor besar ilmu sains sejak 2003, ia juga aktif sebagai komisaris di Network of Iranians for Knowledge and Innovation (NIKI), organisasi non-pemerintah digagas para akademisi Iran yang tersebar di AS dan Eropa.

Sumber: http://www.dream.co.id/jejak/ilmuwan-muslim-pesaing-stephen-hawking-140716w.html
Baca SelengkapnyaIlmuwan Muslim Ini Pesaing Stephen Hawking

Labinote, Muslimah Berhijab Pertama di Parlemen Kosovo


Terpilihnya Labinote menjadi angin segar bagi para muslimah berhijab. Sebab, negara itu melarang pemakaian hijab bagi siswi-siswi di sekolah.
HotMotivasi.blogspot.com | Muslimah berhijab asal Kosovo ini baru saja mecetak sejarah. Dia menjadi perempuan muslim berhijab pertama yang terpilih menjadi anggota parlemen nasional Centar Balkan.

Dialah Labinote Demi-Murtezi. Dia meraup enam ribu suara dalam pemilihan pada Minggu 8 Juni, mengalahkan seluruh kandidat perempuan dalam pemilihan angota parlemen di negara Eropa Tenggara itu.

Dilansir The Bosnia Times, Rabu 12 Juni 2014, pemilihan itu dimenangkan oleh The Democratic Party of Kosovo (PDK) dengan memperoleh 31 persen suara.

Terpilihnya Labinote menjadi angin segar bagi para muslimah berhijab. Sebab, negara yang tingkat kemiskinan dan korupsi paling tinggi di Eropa itu melarang pemakaian hijab bagi siswi-siswi di sekolah.

Menjelang pemilihan, Perdana Menteri Hashim Thaci yang berasal dari PDK, telah berjanji akan mengakhiri pelarangan hijab itu.

Muslim Albania menjadi penduduk mayoritas di Kosovo. Jumlahnya sekitar 95 persen dari 1,86 juta penduduk di negara yang menyatakan kemerdekaan pada tahun 2008 dengan lepas dari Federasi Serbia itu.
Baca SelengkapnyaLabinote, Muslimah Berhijab Pertama di Parlemen Kosovo

Kisah Hijaber Jadi Dokter Termuda di Indonesia


Riana mulai masuk Sekolah Dasar (SD) pada usia 4 tahun. Bukan lantaran paksaan dari kedua orangtua. Namun, kecerdasan Riana memang sudah tampak setahun sebelumnya.
Sobat HotMotivasi, Kisah mahasiswa lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) 2014, Raeni menjadi sumber inspirasi bagi semua orang, termasuk hijabers. Ia membuktikan kepada kita, kondisi keluarga yang berkekurangan tak jadi kendala jika diiringi tekad kuat memperoleh prestasi cemerlang.

Kisah lain yang layak jadi panutan adalah seorang remaja putri berusia 19 tahun 9 bulan yang berhasil lulus sebagai dokter termuda di Indonesia. Dia adalah Riana Helmi, gadis berhijab kelahiran Banda Aceh 22 Maret 1991 yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Gadjah Mada (UGM).

Putri pasangan Helmi dan Rofi’ah ini juga tercatat sebagai sarjana termuda di Indonesia dengan predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,67. Riana sebelumnya pernah tercatat dalam rekor MURI saat menjadi dokter muda pada usia 17 tahun 9 bulan pada Mei 2009. Kemudian ia menyelesaikan kuliahnya hingga menjadi dokter penuh di usia 19 tahun 9 bulan.

Keberhasilan Riana tentu melalui proses tidak mudah. Riana Helmi hidup di keluarga sederhana. Ayahnya seorang polisi, membuat anak pertama dari tiga bersaudara ini beserta keluarganya terpaksa berpindah-pindah domisili. Mulai Aceh, Karawang dan berakhir di Sukabumi, tergantung tugas yang diemban sang ayah.

Di usia 3 tahun, Riana sudah pandai membaca. "Beliau sendiri yang mengajari saya membaca, menulis, berhitung, juga membaca Alquran," kenang Riana.

Sang ayah juga berperan aktif. Riana menilai ayahnya sebagai orangtua yang sangat peduli terhadap perkembangan pendidikan anaknya. Ayahnya selalu mengajarkan tentang kegigihan, sifat bersunguh-sungguh dan kerja keras.

Riana mulai masuk Sekolah Dasar (SD) pada usia 4 tahun. Bukan lantaran paksaan dari kedua orangtua. Namun, kecerdasan Riana memang sudah tampak setahun sebelumnya. Riana sejak kecil memang jarang bermain layaknya anak seusianya. Ia menghabiskan waktunya dengan banyak belajar dan ia sangat menikmatinya.

Riana menyelesaikan SD selama 6 tahun dengan prestasi sangat memuaskan. Setelah itu ia mengikuti program percepatan (akselerasi) di SMP dan SMA melalui beberapa tes IQ akademik.
Hasilnya, Riana selalu lolos uji, sehingga ia bisa menamatkan SMP dan SMA, masing-masing 2 tahun lamanya. Dia pun sudah lulus SMA saat usianya baru 14 tahun.

Cita-citanya sejak kecil yang ingin menjadi dokter, membuat dia begitu mantap untuk mendaftar ke Fakultas kedokteran di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melalui jalur Penelusuran Bakat Skolastik (PBS).

Masuk dunia kampus, Riana menghabiskan waktu dengan banyak membaca buku serta berdiskusi dengan teman-teman kuliahnya. Bagi Riana gerbang menuju ilmu pengetahun tiada lain adalah dengan rajin membaca. Selain aktif belajar di kampus ia juga rutin mengikuti kajian Islam ilmiah di sekitar kampus.

"Banyak sekali waktu untuk membaca. Terkadang, saya menargetkan 1 buku untuk tiap akhir pekan, jika tidak ada tugas kuliah yang harus segera diselesaikan," kata Riana.
Selain bercita-cita menjadi dokter, ia juga ingin menjadi dosen. Alasannya, agar bisa terus belajar dan mengajarkan, serta terus terdorong untuk menambah pengetahuan.

(Sumber: Ugm.ac.id)
Baca SelengkapnyaKisah Hijaber Jadi Dokter Termuda di Indonesia

Sabtu, 09 Agustus 2014

Kisah Tukang Tambal Ban dan Pedagang Susu yang Kalahkan Insinyur Lulusan Oxford

Kisah Tukang Tambal Ban dan Pedagang Susu yang Kalahkan Insinyur Lulusan Oxford
Arfi an Fuadi dan M. Arie Kurniawan, kakak beradik lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) bisa mengalahkan insinyur lulusan University of Oxford
Kakak beradik asal Salatiga, Arfian Fuadi (28) dan Arie Kurniawan (23), sukses menyabet juara pertama dalam "3D Printing Challenge" yang diadakan General Electric (GE) tahun ini. Hebatnya, mereka mengalahkan para insinyur lulusan universitas top di dunia. Yang semakin membanggakan, Arfian dan Arie hanya lulusan SMA, yaitu SMA Negeri 7 Semarang dan SMK Negeri 2 Salatiga, Jawa Tengah.

Apa yang dicapai Arfian dan Arie dalam kancah internasional tidak terjadi tiba-tiba. Sebelum berkecimpung di dunia desain engineering  mereka adalah pedagang susu dan tukang tambal ban. 
Kehidupan ekonomi  keluarga yang tidak mencukupi membuat mereka harus bekerja apa saja untuk mendapatkan penghasilan.  

“Rumah sudah hampir rubuh jadi kita butuh kerjaan. Dari kecil memang kita diwajibkan berwirausaha, bahkan pernah jualan susu, pernah juga jadi tukang tambal ban,” kata Arie kepadakompas.com
Lucunya, kalau lah boleh dibilang begitu, baik Arfian dan Arie tak memiliki latar belakang akademis di dunia desain engineering. Arfian yang lahir pada 2 Juli 1986 lulusan SMA, sedang Arie yang lahir pada 11 Juli 1991 lulusan SMK jurusan otomotif.

Arfian lah yang pertama-tama tertarik dengan dunia ini. Ia semata-mata hobi, belajar sendiri dengan meminjam komputer milik sepupunya. Komputer adalah barang yang amat mewah yang tidak mungkin mereka miliki. 
“Dulu ketika masih sekolah, sering pinjam komputer sepupu untuk belajar. Tapi minjem-nya kalau sepupu sudah tidur,” kata dia. 
 
Arie mengenal desain engineering dari kakaknya. Arie mengaku secara akademis dirinya tidak cemerlang di bangku sekolah. Ia mengalami kesulitan memahami setiap pelajaran. Kata dia, materi pelajaran di sekolah kebanyak disampaikan dalam bentuk teori tanpa praktik. Siswa di kelas hanya membayangakan apa yang diajarkan oleh guru.

Sumber: http://www.tribunnews.com/regional/2014/07/29/kisah-tukang-tambal-ban-dan-pedagang-susu-yang-kalahkan-insinyur-lulusan-oxford
Baca SelengkapnyaKisah Tukang Tambal Ban dan Pedagang Susu yang Kalahkan Insinyur Lulusan Oxford

Kamis, 07 Agustus 2014

Berharap Ada Perwira Indonesia Tampil di Jalur Gaza

ORANG PENTING: Rais Abin di kantor pusat LVRI, lantai 11 Plaza Semanggi, Jakarta. Foto: Bayu Putra/Jawa Pos
ORANG PENTING: Rais Abin di kantor pusat LVRI, lantai 11 Plaza Semanggi, Jakarta. Foto: Bayu Putra/Jawa Pos

KONFLIK di Jalur Gaza antara Palestina dan Israel mengingatkan Letjen (pur) Rais Abin pada peristiwa 36 tahun silam. Saat itu dia dipercaya sebagai panglima pasukan perdamaian PBB. Kiprahnya ikut mendamaikan Mesir dan Israel membuahkan Perjanjian Camp David.

 PERISTIWA penandatanganan Perjanjian Camp David itu tidak bisa dilupakan Rais Abin. Perjanjian tersebut telah meredakan konflik antara Mesir dan Israel yang menduduki wilayah Gurun Sinai.
Perjanjian Camp David juga nyaris berdampak kepada perdamaian Israel-Palestina kalau saja presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, tidak terbunuh.

Saat ditemui di kantor pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) di kawasan Semanggi, Jakarta, Selasa lalu (22/7), wajah Rais tampak berseri-seri. Dia selalu bersemangat setiap kali diminta bercerita tentang memori ketika memimpin pasukan perdamaian PBB di Gurun Sinai, Mesir.

Hingga saat ini Rais tercatat sebagai satu-satunya perwira militer Indonesia yang pernah memimpin pasukan perdamaian PBB. Apalagi, misi yang diemban sangat penting: mengawal perdamaian Mesir-Israel.
Ruang kerja Rais di lantai 11 Plaza Semanggi cukup lapang dan tidak banyak berisi perabotan. Selain meja kerja, tampak rak kayu untuk menyimpan kenang-kenangan penghargaan yang pernah diraihnya. Ada pula bendera LVRI, meja rapat, dan sofa untuk menerima tamu.

Saat ini Rais menjabat ketua umum Dewan Pimpinan Pusat LVRI. Di usianya yang tahun ini akan mencapai 88 tahun, Rais masih terlihat prima. Hanya keriput di wajah dan tangannya yang tidak bisa ditutupi bahwa pejuang kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, itu sudah lanjut usia.

Rais mengharumkan nama Indonesia di kancah politik keamanan internasional saat terlibat dalam pasukan perdamaian PBB di Gurun Sinai pada 1976–1979. Dia dipercaya PBB sebagai panglima pasukan perdamaian yang mengomandoi 6.000 tentara dari tujuh negara perwakilan lima benua.

Selain tentara Indonesia, ada yang dari Polandia, Swedia, Finlandia, Kanada, Australia, dan dua negara Afrika (Senegal dan Ghana). Kiprah Rais dalam pasukan perdamaian itu dimulai saat dia bermain tenis dengan koleganya, Pangdam Siliwangi Mayjen Himawan Soetanto. Kala itu Rais masih menjabat wakil komandan Seskoad berpangkat brigjen.

Rais menuturkan, di tengah permainan itu mendadak Himawan harus menerima telepon dari Mabes ABRI (kini TNI). Tidak lama kemudian, telepon diberikan ke Rais. Rupanya, yang menelepon adalah Asisten Pembinaan Personel ABRI Susilo Sudarman. ”Saya diminta menjadi kepala staf UNEF (United Nation Emergency Force) di Gurun Sinai,” tuturnya.

Alumnus Seskoad Bandung dan Australia itu pun tidak kuasa menolak perintah tersebut karena penunjukan itu tidak bernada perintah, melainkan meminta tolong. Usut punya usut, ternyata Himawan yang merekomendasikan Rais kepada Susilo Sudarman saat menerima telepon. ”Kalau diingat itu kayak joke saja,” ujarnya seraya tertawa.

Rais pun berangkat ke Sinai pada 28 Desember 1975 dan memulai tugas awal Januari 1976 pada misi UNEF II. Karena kiprahnya yang dinilai baik dan mendapat persetujuan dari seluruh anggota Dewan Keamanan PBB, setahun kemudian Rais ditunjuk sebagai panglima UNEF II dengan pangkat mayjen atau bintang dua.

Dia menggantikan Letjen Bengt Liljenstrand asal Swedia yang mengundurkan diri pada 1 Desember 1976. Penunjukan Rais dilakukan lewat surat kawat pribadi dari Sekjen PBB kala itu, Kurt Waldheim. Tugas Rais adalah mendamaikan Mesir dan Israel yang bertikai gara-gara pendudukan Israel atas Gurun Sinai yang merupakan bagian teritori Mesir.

Bukan hal mudah untuk mendamaikan kedua negara yang sama-sama mengklaim Sinai sebagai bagian wilayahnya. Apalagi, posisi Rais saat itu tergolong sulit. Sebab, dia adalah warga negara Indonesia, dan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Dengan susah payah, akhirnya Rais berhasil menemui Menteri Pertahanan Israel Shimon Peres. Peres kemudian menjadi presiden Israel hingga Kamis lalu (24/7) mengundurkan diri dari jabatannya itu di usia 90 tahun.

Persoalan belum berhenti sampai di situ. Menurut purnawirawan kelahiran 15 Agustus 1926 tersebut, meyakinkan pihak Mesir juga sulit. Blokade-blokade oleh tentara Mesir membuat dia dan pasukannya tidak bisa leluasa bergerak.

Mantan Dubes RI di Malaysia dan Singapura itu akhirnya menemui panglima militer Mesir untuk meminta keleluasaan bergerak. Rais mengancam akan mundur dari Sinai jika aktivitas pasukannya dipersulit.
Setelah blokade-blokade dibuka, Rais pun berkali-kali mengundang kedua pihak untuk berunding di markas UNEF di Sinai. ”Tiap dua minggu sekali saya adakan rapat dan selalu di situ (Sinai) karena Sinai merupakan wilayah PBB,” tutur bapak 3 putra, kakek 7 cucu, dan buyut 3 cicit itu.

Setelah Rais beberapa kali memfasilitasi pertemuan antara kedua pihak, tanda-tanda perdamaian mulai muncul. Lalu, dibuatlah konsep perjanjian damai yang akhirnya dinamai Camp David. Perjanjian tersebut sebenarnya memiliki benang merah dengan Palestina.

Ada dua kerangka perjanjian yang disusun. Kerangka pertama berkaitan dengan perdamaian di Timur Tengah, dalam hal ini penarikan mundur pasukan Israel dari Gaza dan Tepi Barat serta melarang pendirian permukiman baru Yahudi. Kerangka kedua berhubungan dengan perdamaian antara Mesir dan Israel. Pada akhirnya, hanya kerangka kedua yang ditandatangani.

Menjadi panglima pasukan perdamaian PBB membuat Rais dikenal banyak pemimpin dunia. Dia cukup akrab dengan Anwar Sadat dan pemimpin PLO Palestina Yasser Arafat.

Sebagai pejabat teras di PBB, dia bisa berkomunikasi langsung dengan Kurt Waldheim yang menjadi Sekjen PBB saat itu. Selama masa perundingan Mesir dan Israel, Gurun Sinai menjadi wilayah kekuasaan Rais.
Suami Dewi Asiah itu menuturkan, pada 1981 Anwar Sadat tewas karena dibunuh rakyatnya yang tidak setuju atas kunjungan Sadat ke Jerusalem. Itulah hal yang sangat disayangkan Rais. ”Sadat saat itu sedang berupaya untuk mengembalikan kedaulatan Palestina sesuai Resolusi PBB No 242 Tahun 1967,” tuturnya.
Kala itu Sadat merupakan satu-satunya pemimpin negara di Timur Tengah yang suaranya didengar Israel dan Amerika Serikat. Munculnya Resolusi 242 yang mewajibkan penarikan pasukan Israel dan mengatur batas antara Israel-Palestina juga tidak lepas dari lobi yang dilakukan Sadat.

Penerus Sadat, Husni Mubarak, ternyata tidak bisa tegas memperjuangkan resolusi tersebut. Penjajahan atas Palestina pun terus berlangsung sampai sekarang dengan kekuatan yang tidak sebanding. Menurut Rais, sebenarnya roket-roket pejuang Palestina tidak memberikan dampak apa pun kepada Israel selain perasaan risi.

Keberadaan Hamas dengan pasukannya, Brigade Izzudin Al Qassam, juga tidak lepas dari perang enam hari pada 1967. Gaza saat itu adalah tempat penampungan yang disediakan PBB bagi para pengungsi palestina yang terusir dari tanah airnya. Maka, tidak heran jika saat ini Hamas sangat membenci Israel.
Bagi Rais, untuk mengembalikan kedamaian di bumi Palestina, hanya ada satu solusi. ”Kembalikan batas negara sesuai Resolusi 242. Kalau tidak, konflik ini tidak akan pernah berakhir,” ucapnya. Resolusi 242 mengatur batas kedua negara, Israel di utara dan Palestina di selatan.

Karena itu, dia mengharapkan presiden Indonesia punya keberanian untuk mengungkit kembali resolusi tersebut di hadapan Sekjen PBB Ban Ki-moon. Perhatian Indonesia ke Palestina saat ini sudah cukup baik, namun akan lebih signifikan dampaknya jika bisa membuat PBB membahas lagi Resolusi 242.

Di luar kiprahnya sebagai panglima pasukan perdamaian, Rais punya peran penting di masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Kala itu Rais muda menjadi bagian Tentara Keamanan Rakyat yang menghadapi upaya agresi Belanda. Dia dan beberapa rekannya ditugasi menyuplai senjata untuk tentara maupun pejuang rakyat.

Dia diminta untuk menyelundupkan senjata dari Tumasek (Singapura). Untuk menyelundupkan senjata tersebut tanpa ketahuan Belanda, Rais dkk mengambil jalur laut. ”Kami berangkat dari Tegal (Jateng) menggunakan perahu yang panjangnya hanya 5 meter,” kenangnya.

Pilihan itu terpaksa diambil demi keselamatan. Saat itu Laut Jawa dikuasai armada AL Belanda. Jika nekat menggunakan kapal besar, sudah pasti mereka akan diserang. Upaya mereka tidak sia-sia karena berhasil menuntaskan misi tersebut.

Di usianya yang hampir satu abad, Rais kini menikmati kesibukannya di LVRI. Saat ditanya apa kunci kebugarannya, dia menjawab kesehatan fisik dan pikiran. ”Saya tidak punya ambisi, tidak ingin tenar,” ujarnya.

Bahkan, Rais mengaku tidak memiliki rumah di Indonesia. Ya, rumah yang saat ini ditempati Rais di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, adalah rumah milik istrinya. Rumah tersebut merupakan warisan mertua Rais. Satu-satunya rumah milik Rais berada di Sinai. Rumah tersebut merupakan pemberian PBB sebagai fasilitas jabatannya menjadi panglima pasukan perdamaian.

Satu hal yang masih menjadi keinginan Rais adalah melihat perwira TNI generasi sekarang menjabat panglima pasukan perdamaian PBB seperti dirinya. ”Kita punya banyak perwira hebat, saya yakin kita bisa punya peran yang lebih besar dalam perdamaian,” tandasnya
Baca SelengkapnyaBerharap Ada Perwira Indonesia Tampil di Jalur Gaza

Bagus Nugroho, Peneliti Indonesia untuk Ekspedisi Mars Lembaga Antariksa Jepang

ASET INDONESIA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) menyalami Bagus Nugroho dalam sebuah acara. Foto: Bagus Nugroho for Jawa Pos
ASET INDONESIA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) menyalami Bagus Nugroho dalam sebuah acara. Foto: Bagus Nugroho for Jawa Pos
SEMAKIN banyak anak muda Indonesia yang go international. Yang terbaru adalah Bagus Nugroho yang terpilih sebagai salah seorang peneliti untuk program misi Lembaga Penelitian Antariksa Jepang (JAXA) menuju planet Mars. Namun, keahliannya belum bisa dimanfaatkan di tanah air sendiri.
 
 INFORMASI adanya mahasiswa Indonesia yang terpilih sebagai peneliti intern di JAXA muncul di salah satu situs berita Australia. Saat Jawa Pos mengirimkan draf wawancara via e-mail, Bagus Nugroho, anak muda yang masih berkuliah S-3 di Melbourne University Australia itu, tengah berada di Jepang. Dia sedang menjalankan tugasnya sebagai salah seorang peneliti JAXA untuk ekspedisi planet Mars.

”Saya merasa beruntung bisa terlibat di proyek ini. Karena saya apply (melamar, Red) di hari terakhir batas pengumpulan aplikasi,” ujar Bagus menjawab pertanyaan Jawa Pos awal pekan lalu. Keterlibatan Bagus dalam proyek itu terjadi secara tidak sengaja. Sebab, awalnya dia hanya iseng membuka web JAXA saat sedang memikirkan tesis yang di-submit pada Agustus nanti.

"Di web JAXA itulah saya membaca bahwa mereka sedang membuka lamaran bagi peneliti untuk ekspedisi planet Mars,” ungkapnya.

Sekitar tiga bulan setelah Bagus mengirimkan aplikasi, JAXA membalas dengan sejumlah pertanyaan. Mereka ingin mengetahui sosok Bagus secara lebih detail. Sebulan kemudian JAXA memberi tahu bahwa Bagus diterima sebagai peneliti intern selama satu bulan di Jepang.

”Saingan saya waktu itu ada puluhan dari berbagai institusi dunia. Tapi, JAXA hanya menerima dua orang. Selain saya, ada mahasiswa dari salah satu universitas elite di Prancis,” ujar calon doktor bidang mekanika fluida tersebut.

Misi Jepang ke Mars pada 2020, jelas Bagus, adalah misi mahapenting. JAXA berencana mengirimkan robot atau probe untuk meneliti planet itu. Mereka ingin mengetahui tanda-tanda kehidupan di sana.
”Eksperimen yang saya kerjakan adalah menyelidiki parasut supersonik mereka yang akan digunakan pada misi ke Mars,” terang pria 31 tahun tersebut.

Parasut itu, jelas Bagus, harus dapat menahan robot pada saat memasuki atmosfer Mars. ”Robot akan masuk di atmosfer Mars dengan kecepatan sangat tinggi dan parasut akan membantu mendaratkannya dengan aman di permukaan Mars,” papar ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia 2012–2013 itu.
Bagus sudah sekitar satu minggu berada di JAXA saat wawancara tersebut dilakukan. Dia menyatakan, banyak eksperimen yang sudah dilakukan. Fokus tugasnya ada pada pekerjaan menggunakan wind tunnel atau terowongan angin serta berbagai model parasut yang dikembangkan.

Dia dibimbing ilmuwan Jepang, salah satunya guru besar Universitas Tokyo. Tugas Bagus menganalisis data setiap eksperimen. ”Kurang lebih ada 60 eksperimen yang saya kerjakan selama di Jepang,” kata dia.
Bagi Bagus, riset di sebuah fasilitas terowongan angin bukan hal yang baru. Di kampusnya, Melbourne University, terdapat terowongan angin boundary layer (subsonik) terbesar dan terbaik di dunia.

”Eksperimen saya di kampus menggunakan terowongan subsonik, sementara bekerja di terowongan supersonik seperti di Jepang ini adalah pengalaman baru,” ujarnya.

Terowongan angin supersonic milik JAXA, kata Bagus, merupakan salah satu yang paling impresif yang pernah dilihatnya. Fasilitasnya luar biasa besar karena berada di dalam gedung seluas lapangan sepak bola dengan ketinggian ruangan hampir 30 meter. JAXA juga memiliki fasilitas komputer serta sistem akuisisi paling modern yang pernah dilihatnya.

’’Ruangannya sangat bersih dan steril. Bahkan, di ruang kontrol, sepatu dilarang masuk,’’ bebernya. Bagus menggambarkan, ruang kontrol terowongan angin JAXA mirip ruang kontrol pesawat antariksa seperti yang terlihat dalam film-film Hollywood.

Apresiasi peneliti JAXA terhadap Bagus sangat tinggi. Dia menuturkan, setiap hari sebelum pulang, dirinya wajib menyelesaikan analisis eksperimen pada hari itu dan diberikan kepada mentornya. Selain itu, Bagus dibebaskan untuk memodifikasi atau mengembangkan lebih jauh eksperimen yang sudah dikerjakan ilmuwan di JAXA.

’’Mereka sangat menghargai input orang lain. Terutama dari orang baru karena akan memberikan perspektif baru dan segar. Mereka sangat butuh sudut pandang lain yang dapat menambah pengetahuan dan menyelesaikan eksperimen dengan cepat serta tepat,’’ jelasnya.

Menurut Bagus, perhatian pemerintah Jepang terhadap JAXA dalam hal penyediaan peralatan dan berbagai macam eksperimen sangat tinggi. Itu belum termasuk fasilitas peluncuran satelit mereka yang hanya bisa disaingi negara-negara besar seperti Rusia, AS, Tiongkok, dan Uni Eropa.

Bagus mengaku terkesan atas kedisiplinan, kerja sama, serta rasa hormat setiap personel di JAXA terhadap setiap riset. Personel yang dimaksud bukan hanya para profesor, peneliti, maupun mekanik, tetapi juga para petugas cleaning service mereka.

Setiap pagi seluruh personel di JAXA tanpa kecuali bertemu untuk melakukan rapat. Mereka membahas hasil eksperimen sebelumnya dan apa yang akan dilakukan hari itu.

’’Walau cleaning service, dia tetap berhak memberikan pendapat serta berbicara tentang hasil eksperimen kemarin. Semua harus mengerti apa yang telah terjadi kemarin dan apa yang akan terjadi hari ini,’’ ujar kontributor untuk majalah Angkasa itu.

Latar belakang Bagus terbilang komplet. Saat masih mengenyam pendidikan S-1 di Australia, dia berkesempatan menjadi peneliti intern di sejumlah perusahaan/badan usaha di Indonesia. Di antaranya, di Daimler Mercedes-Benz, PT Dirgantara Indonesia (DI), dan PT Garuda Maintenance Facility (GMF).
Saat di DI, Bagus mengaku membantu insinyur senior menyelidiki performa CN 235 NG. Ketika di GMF, dia membantu tugas harian insinyur, dalam hal ini membuat program komputer sederhana untuk mendukung kerja harian mereka.

’’Kebetulan, di dua penelitian internal itu, minat saya di bidang aerospace,’’ ucap lulusan S-1 bidang fisika dan mekanika University of Melbourne tersebut.

Prestasi dan nilai akademik istimewa yang didapat Bagus di jenjang S-1 membuat dirinya mendapat izin untuk langsung mengambil kuliah S-3, tanpa harus mengenyam pendidikan S-2 terlebih dahulu. Pemerintah Australia juga mengeluarkan program untuk kampus di Melbourne bahwa mahasiswa S-3 bidang sains, teknik, dan kedokteran dibekali kemampuan berbisnis dengan mengambil program pascasarjana sampingan di Melbourne Business School.

’’Saya ambillah program itu karena mereka memberikan uang tambahan untuk biaya hidup, biaya konferensi atau riset USD 10.000,’’ ujar Bagus.

Karena itu, selama kuliah S-3 Bagus juga nyambi kuliah di kelas bisnis tiga kali seminggu selama setahun. Uang tambahan yang dia peroleh juga digunakan untuk sekolah yang lain. Dia tercatat sebagai lulusan pascasarjana bidang nano teknologi di Universitas Oxford, Inggris. Kuliah di Oxford dilakukan secara online, hanya sesekali dia harus terbang ke Inggris untuk mengambil kelas langsung.

’’Kuliah itu penting karena mengajar saya pengetahuan dari segi scientific, ekonomi, etika, dan kebijakan pemerintah di bidang nano teknologi,’’ ujar pemuda asal Jogjakarta itu.

Meski punya keahlian di bidang ilmu langka, Bagus kesulitan menerapkan di Indonesia. Pasalnya, perusahaan-perusahaan yang dilamarnya tidak pernah mau memanfaatkan keahlian Bagus.

’’Aplikasi saya ditolak semua karena tidak sesuai dengan yang mereka cari. Kenyataannya memang susah untuk orang seperti saya bekerja di Indonesia dengan latar belakang keilmuan saya,’’ imbuhnya.
Bagus mengaku agak sedih dengan kenyataan itu. Sebab, di Australia, latar belakang pendidikan Bagus benar-benar dicari. Tahun lalu Bagus pernah ditawari untuk bekerja di badan riset Departemen Pertahanan Australia.

’’Namun, karena berbagai pertimbangan, saya urung untuk apply. Terutama karena syaratnya harus menjadi warga negara Australia. Jujur saja, godaannya sangat banyak,’’ tuturnya.

Godaan itu, misalnya, Dephan Australia menawari Bagus bekerja dalam tim yang mendesain kapal selam militer masa depan mereka. Program tersebut sungguh menantang bagi peneliti pemula seperti dia. Apalagi, gaji yang dijanjikan menggiurkan. Baru masuk menjadi ’’PNS’’ di Dephan Australia, gajinya sudah sekitar Rp 50 juta. ’’Itu belum termasuk tunjangan dan benefit lain,’’ ujar Bagus.

Bagus kini mengerti mengapa banyak orang bilang: seorang yang memiliki latar belakang scientific tertentu susah bekerja di Indonesia. Pengalamannya menunjukkan, saat ini baru Australia dan Jepang yang mengapresiasi latar belakang pendidikan itu.

’’Saya tentu saja ingin kembali ke Indonesia, berbuat lebih. Namun, tampaknya saat ini belum bisa. Keadaan di Indonesia masih belum mengizinkan,’’ tuturnya.

Lajang yang tahun depan menikah itu mengatakan masih memiliki obsesi melanjutkan sekolah. Kali ini dia ingin mengambil master bidang kebijakan teknologi di Cambridge University. Reputasi Cambridge sebagai tempat lahir fisika klasik dan modern serta kampus dengan alumni penerima Nobel terbanyak membuat Bagus tertarik mencoba. Program yang akan dia ambil mengajarkan seseorang bagaimana membuat keputusan dengan menggabungkan teknologi, riset, manajemen, serta kebijakan.

’’Saya rasa ini program yang penting. Negara kita memiliki banyak ilmuwan pintar yang tersebar di berbagai negara. Apabila kita tidak bisa me-manage dan memiliki plan serta kebijakan yang baik, niscaya mereka akan enggan kembali pulang,” tandas dia

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2014/07/27/248656/Sebulan-Buat-60-Eksperimen-Daratkan-Robot-di-Mars-
Baca SelengkapnyaBagus Nugroho, Peneliti Indonesia untuk Ekspedisi Mars Lembaga Antariksa Jepang

Rangsang Bahasa Asing Lewat Kafe Unik

DEDIKASI TINGGI: Dari kiri, Agus Saleh, Evan Patrick Philips, dan Evi Yulia berbincang di sela-sela melayani tamu di Cafe Inggris Pare. Foto: Dimas Alif/Jawa Pos
DEDIKASI TINGGI: Dari kiri, Agus Saleh, Evan Patrick Philips, dan Evi Yulia berbincang di sela-sela melayani tamu di Cafe Inggris Pare. Foto: Dimas Alif/Jawa Pos
BANYAK pengusaha kafe yang menyajikan suasana khas untuk menarik perhatian pengunjung. Agus Saleh, pengusaha Café Inggris Pare, juga melakukan itu. Tidak sekadar menarik minat, dia juga mengajari pengunjung kafenya.
 
 ANDA boleh beranggapan bahwa kafe di City of Tomorrow itu seperti tempat nongkrong lainnya. Penataan kursinya tidak menunjukkan keistimewaan khas. Minibar dan sejumlah mejanya pun lazimnya kafe ’’biasa’’.
Tapi, kalau Anda sudah bertemu dengan dua pelayan di kafe tersebut, Evan Patrick Philips dan Evi Yulia, pikiran Anda pasti berubah. Ini kafe spesial betul.

Evan adalah pemuda Amerika. Sedangkan Evi, warga Indonesia, fasih casciscus dalam bahasa asing. Selama melayani tamu, keduanya tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia. Selalu bahasa Inggris plus beberapa bahasa lainnya.

’’Sesuai namanya, kafe ini identik dengan bahasa asing,’’ ujar Evi. Konsep itu berlaku pula bagi pengunjung. Untuk memesan menu, mereka harus menggunakan bahasa Inggris.

Tanpa bahasa itu, dua orang tersebut tidak akan melayani. ’’Kami paksa mereka untuk berbicara dengan bahasa Inggris,’’ paparnya.

Itu dialami Hendry, warga Ketintang, yang mengunjungi kafe tersebut. Dia kaget ketika Evan menyajikan menu dengan bahasa Inggris. ’’Silakan pilih dan saya akan membantu Anda,’’ ucap pria 23 tahun itu dalam bahasa Inggris.

 Hendry yang merasa tidak percaya diri kelihatan kikuk. Dia bertanya dengan bahasa Indonesia tentang menu di kafe itu. Tapi Evan menolak. ’’No, no. You must speak in English,’’ ucapnya.

Pelan-pelan Evan mengajak Hendry berkomunikasi. Berawal dengan menanyakan nama, alamat, dan dengan siapa Hendry datang ke kafe tersebut. Awalnya, Hendry terlihat terpaksa. Dengan bahasa yang belepotan, Hendry mencoba menjawab pertanyaan Evan. Jika salah, Evan membenarkan kosakata yang diungkapkan Hendry secara telaten.

Tidak lama, Evan memperlihatkan buku menu yang dibawanya sejak tadi. Dia menunjukkan beberapa menu yang tercantum di buku itu. Komunikasi antara Hendry dan Evan pun terjalin. Hanya sesekali Hendry terlihat bingung karena ada kosakata yang belum dipahami.pPerlahan-lahan, Hendry melihat menu-menu khas kafe, seperti aneka sajian kopi, roti isi, kentang goreng, dan lain-lain.

Pada waktu yang hampir bersamaan, ada pengunjung lain yang masuk ke kafe itu. Dia warga Tionghoa. Sepertinya, perempuan bernama Mey Ling tersebut sudah terbiasa datang ke kafe itu. Begitu masuk, dia langsung menemui Evi.

’’Ni hao ma (apa kabar, Red)?’’ kata Mey Ling sambil menjabat tangan Evi. Dua perempuan itu lantas bercakap-cakap dalam bahasa Mandarin. Suasana interaksi dengan berbagai bahasa pun terwujud di kafe tersebut. Hendry yang semula malu-malu berbahasa Inggris juga terlihat sudah biasa. Bahkan, dia mulai bercanda tawa dengan Evan yang berasal dari New York.

Pengalaman Hendry sangat menarik. Pasti banyak yang ingin merasakannya. Saat ini hampir semua orang pernah belajar bahasa Inggris. Namun, sedikit yang bisa mempraktikkannya. Salah satu kendala adalah kurangnya partner berkomunikasi dengan bahasa tersebut. Padahal, bahasa lebih luwes jika dipraktikkan, bukan dihafal.

Ide dan konsep tersebut dihadirkan Agus Saleh, 49. Pria kelahiran Surabaya itu awalnya prihatin dengan potensi masyarakat Indonesia yang belum tergali. Dia merenung arti pentingnya bahasa untuk kehidupan sehari-hari. ’’Tapi, masyarakat masih lemah di bidang itu,’’ ucapnya.

Agus tidak menyalahkan kurikulum pendidikan di Indonesia. Pengenalan bahasa asing dimulai sejak dini. Bahkan, TK sekarang sudah mengenal bahasa tersebut. Namun, praktik untuk mengucapkan, mendengarkan, dan menulis yang masih kurang. ’’Dari situ, muncul ide membuat tempat kongko-kongko dengan bahasa asing,’’ ujar Agus.

Di kafe itu, kata dia, siapa pun boleh masuk. Mereka yang fasih atau tidak dalam berbahasa Inggris bisa kongko-kongko di tempat tersebut. Yang grotal-gratul pasti banyak diam. Namun, dua pelayan itu akan terus mengajak ngobrol hingga akhirnya berani mengucapkan kata demi kata.

Langkah yang diutamakan adalah percakapan atau conversation. Masalah grammar dan lainnya akan ditata melalui kebiasaan dalam bercakap langsung.

Penghobi baca itu menyebut lebih dari 113 pemuda dari beberapa negara yang sudah berkomunikasi dengan dirinya. Mereka sangat tertarik dan sanggup bertukar ilmu dengan masyarakat Indonesia. Evan adalah satu di antara mereka.

Café Inggris Pare sudah dua tahun berdiri. Nama Pare diambil dari sebuah wilayah di Kediri yang dikenal dengan kawasan pendidikan bahasa. Di wilayah itu, dikenal sosok pria yang bernama Kalend Osen. Lelaki tersebut pendiri lembaga pendidikan bahasa Inggris yang sudah meluluskan ribuan siswa.

Bersama Kalend, Agus menuturkan keinginannya mendirikan tempat nonformal yang bernuansa bahasa. Kalend tertarik dan mendukung rencana itu. Perlahan keinginan tersebut diwujudkan dalam bentuk kafe sederhana. ’’Meski sederhana, ilmu yang diserap dari tempat ini luar biasa,’’ ucapnya.
Pelayan di kafe itu juga bukan orang sembarangan. Dia menyebut Evi yang hampir setahun bekerja di kafe tersebut mahir tiga bahasa.

Selain Inggris, dia memahami bahasa Spanyol dan Mandarin. ’’Tamu yang ingin belajar berbahasa Spanyol bisa juga bercakap-cakap di kafe ini,’’ paparnya.

Begitu pula Evan. Pemuda itu mampu berbahasa Prancis dengan fasih. Keahliannya tersebut juga ditularkan kepada pengunjung kafe. Suami Dian Rusdiana itu berharap kafe tersebut mampu menjadi jembatan bagi masyarakat Surabaya. Mereka yang ingin fasih belajar berbahasa Inggris cukup nongkrong di tempat itu. Tidak harus berlama-lama membahas metode bahasa Inggris yang terangkum dalam buku tebal.

’’Cukup banyak praktik berbicara langsung dengan buleyang setia melayani di kafe ini,’’ ucapnya dalam bahasa Inggris. Yes, Sir..!

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2014/08/01/249262/Satu-Meja-Pakai-Bahasa-Inggris,-Meja-Lain-Mandarin-
Baca SelengkapnyaRangsang Bahasa Asing Lewat Kafe Unik

Theizard Saiya, Pelukis Ambon yang Hasilkan Karya Kolaborasi Bersama ABK Tunarungu Hingga ke Belanda

MASIH BELAJAR: Theizard Saiya menunjukkan dua lukisan barunya. Dia sedang menyiapkan pameran bersama pelukis Ambon.
MASIH BELAJAR: Theizard Saiya menunjukkan dua lukisan barunya. Dia sedang menyiapkan pameran bersama pelukis Ambon.
SIANG itu (22/7) senyum lebar di bibir Theizard jadi sambutan hangat di sebuah kafe di sekitar kampus Universitas Pattimura Ambon, Maluku. Begitu memasuki kafe, terlihat beberapa lukisan dengan warna-warna alam seperti cokelat, hijau, oranye, hitam, dan putih menghiasi dindingnya.

Ada yang bergambar segelas kopi, sketsa wajah, hingga kopi yang tumpah dari dalam gelas. ”Ini beberapa lukisan yang beta gambar,” kata Theizard yang langsung jadi pembuka obrolan di siang yang terik itu.
Sekejap mahasiswa Jurusan Manajemen Sumber Daya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura tersebut mengeluarkan handphone dari dalam saku celananya.

Dia lalu memperlihatkan foto lukisan di atas tiga kanvas yang terpisah. Saat kanvas-kanvas berukuran 120 x 80 cm itu dipisah, yang terlihat hanyalah penggalan lukisan yang belum tuntas. Namun, begitu disatukan, tiga lukisan tersebut menampakkan gambar anak lelaki yang sedang menyeruput papeda, makanan dari sagu khas Ambon.

Sambil sesekali membetulkan bajunya, pria kelahiran 16 Mei 1992 itu mengatakan bahwa lukisan di tiga kanvas berbeda tersebut merupakan karya kolaborasi dirinya dengan dua remaja tunarungu dan seorang pengamat anak berkebutuhan khusus (ABK) dari Belanda bernama Nadine.

Mereka melukis tanpa kesepakatan tema, ide, maupun gaya, secara terpisah namun hasil akhirnya di luar dugaan. Lukisan itu menjadi satu kesatuan yang utuh dan bercerita.

”Beta dan Nadine sempat kaget mengetahui hasilnya seperti itu. Sungguh di luar dugaan kami,” ujar Theiza –panggilan pemuda hitam manis itu– mengenang aksi kolaborasi April lalu.

Menurut sulung tiga bersaudara tersebut, kolaborasi itu tercipta setelah dirinya berkenalan dengan Nadine yang selama ini banyak berkecimpung menangani ABK di ibu kota Maluku tersebut. Sedangkan Theiza sendiri aktif di komunitas Kanvas Alifuru, gerakan jujaro mungare (sebutan anak muda lelaki dan perempuan dalam bahasa Ambon) anti-mainstream. Mereka berkiprah di dunia seni, tapi bukan seni musik seperti kebanyakan orang Ambon. Komunitas itu lebih banyak bergerak di bidang seni rupa.

Dari perkenalan tersebut, Theiza dan Nadine sepakat untuk berkolaborasi melakukan kerja seni bersama. Mereka juga mencari bakat-bakat terpendam dalam diri anak-anak berkebutuhan khusus.Pencarian itu membawa mereka bertemu Gio dan Elvis. Dua remaja 16 tahun tersebut punya ”kelebihan”. ”Gio dan Elvis itu tunarungu. Keduanya suka menggambar. Tapi hanya mau menggambar objek yang sama setiap hari,” papar nyong Ambon yang juga piawai membunyikan harmonika tersebut.

Berbekal kemampuan melukis secara otodidak, Theiza dan Nadine kemudian intens berkomunikasi dengan Gio dan Elvis tentang rencana kerja seni rupa kolaborasi itu. Mereka tidak menggunakan kata-kata verbal, namun dengan isyarat tangan, ekspresi wajah, dan gerakan bibir. 

Mereka mengajari dua remaja tunarungu tersebut tentang garis lurus, ruang, dan persepsi dengan hanya mengandalkan insting dan kepekaan menangkap maksud gerakan bibir dan tangan. Tak ada alat peraga, alat bantu dengar, atau penerjemah khusus.

Beberapa saat kemudian, Theiza mengajari mereka soal bentuk dan garis. Sedangkan Nadine mengajari soal warna dan persepsi. Sambil sesekali Theiza memintanya mengikuti gerakan tangan yang membentuk sebuah garis di atas kertas.

Saat itulah terlihat bakat terpendam dua remaja tersebut di bidang seni rupa. ”Karena mereka punya bakat alamiah, tak sulit bagi beta mengajari mereka,” ungkap Theiza yang tinggal di Kayu Putih, Ambon.

Saat aksi melukis kolaborasi dimulai, Theiza mendapat giliran pertama menggoreskan kuasnya di kanvas secara on the spot itu. Awalnya sekumpulan titik dan garis, kemudian muncul bentuk wajah seorang anak laki-laki yang sedang makan papeda. Lukisan tersebut diselesaikan sekitar 20 menit.

Aksi kedua dilakukan Nadine di kanvas kedua. Hasil goresannya berupa tangan yang sedang ”bale papeda” (mengambil papeda). Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut warga Belanda tersebut saat itu (kini sudah pulang ke negaranya). Yang jelas, lukisan tersebut ternyata ”nyambung” dengan lukisan Theiza sebelumnya di kanvas lain.

Setelah itu, giliran Gio dan Elvis menjadi penutup aksi melukis kolaborasi tersebut di kanvas ketiga. Tanpa canggung mereka menyambar kuas dan menuangkan imajinasi ke bidang gambar di depannya.

”Selama proses melukis itu, kami sama sekali tidak berkomunikasi. Kami diam membisu berjam-jam sampai ketiga kanvas selesai dilukis. Hanya sesekali mata kami melihat lukisan karya yang sudah jadi,” jelas Theiza.

”Semua mengalir begitu saja. Beta juga seng (tidak, Red) cerita pada Nadine dan Gio-Elvis soal ide lukisan itu. Tapi, hasilnya kok bisa menyatu dan bercerita,” tambah pelukis yang serius melukis sejak 2003 itu keheranan.

Lukisan tiga kanvas tersebut ketika digabung ternyata menggambarkan seorang anak laki-laki mengenakan kaus sedang menyeruput papeda dari dalam piring menggunakan gata-gata (alat berbentuk garpu dengan dua ujung panjang terbuat dari kayu). Karya itu menghasilkan gambar yang tidak mereka duga sebelumnya.

”Lukisan itu lalu dibawa Nadine ke negaranya. Kata dia mau diikutkan dalam sebuah pameran lukisan di sana,” kata alumnus SMAN 2 Ambon tersebut dengan bangga.

Lelaki asal Kampung Aboru, Maluku Tengah, itu menjelaskan, ide lukisan objek makan papeda tersebut muncul saat dirinya makan siang bersama dua remaja tunarungu dan tunawicara itu. Menu utamanya papeda.
Tanpa pikir panjang, Theiza menuangkan ide spontan seorang anak makan papeda ke kanvas tersebut. Bagi anggota komunitas Ambon Bergerak itu, papeda adalah salah satu warisan budaya khas orang timur, orang Maluku.

Sehingga dia memilih konsep yang tak muluk-muluk, namun punya arti mendalam. ”Beta hanya pakai feeling. Apa yang terjadi saat itu beta gambar,” katanya. Tak diduga, Nadine dan Gio-Elvis punya imaji yang sama.
Saat ini Theiza tengah sibuk menyiapkan karya terbaru untuk mengikuti pameran bersama para pelukis Ambon September mendatang. Dia menyiapkan delapan lukisan.

”Yang empat sudah disimpan di kantor dinas kebudayaan. Empat lainnya masih di rumah,” paparnya sambil menunjukkan salah satu lukisannya. ”Beta tidak menggambar manusia, tapi menggambar kemanusiaan,” tandasnya.

Baca SelengkapnyaTheizard Saiya, Pelukis Ambon yang Hasilkan Karya Kolaborasi Bersama ABK Tunarungu Hingga ke Belanda

Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional


DI RUMAH: Arfi’an Fuadi (kiri) dan M. Arie Kurniawan di markas D-Tech Engineering, Salatiga. Kakak beradik ini menggarap proyek dari berbagai negara. Foto: M. Salsabyl Adn


 
 
 
 
 
 
 
 
 
  RUMAH: Arfi’an Fuadi (kiri) dan M. Arie Kurniawan di markas D-Tech Engineering, Salatiga. Kakak beradik ini menggarap proyek dari berbagai negara. Foto: M. Salsabyl Adn
SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung.

Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.

Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.

”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).

Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya. Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.

Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.

Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.

”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.

Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung.

Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.

Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.

”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.

Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.

Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.

”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”

Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.

Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.

”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.

Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.

”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.

Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.
Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK.

”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.
Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.

”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.

Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.

”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.

Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin.

”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.

Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.

”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya.

Sumber: http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=249923
Baca SelengkapnyaArfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional