Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Oktober 2014

Kejujuran Tukang Becak yang Diangkat Anak oleh Jenderal TNI

Hari itu Makassar begitu mencekam. Kerusuhan berbau Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) meletus di ibukota Sulawesi Selatan. Toko-toko dan rumah milik warga keturunan dijarah kemudian dibakar.

Dalam kerusuhan 15-17 September 1997 itu Sekitar 2.000 rumah dan toko hancur, dibakar dan dijarah. Tak kurang dari 80 mobil dan 150 sepeda motor jadi sasaran amuk massa. Total kerugian mencapai Rp 17,5 miliar.

Tragedi ini dikenang sebagai Peristiwa September. Saat itu Panglima Kodam Wirabuana dipegang Mayjen Agum Gumelar. Saat patroli, Agum melihat seorang pemuda duduk di atas becaknya. Sementara ribuan orang lain sibuk menjarah toko-toko yang terbakar.

Mayor Jenderal Agum yang berpakaian sipil bertanya pada pemuda itu kenapa tidak ikut menjarah. Jawaban tukang becak bernama Mustafa tersebut mengejutkan Agum.

"Itu perbuatan haram. Saya tidak pernah diberi makan barang haram oleh orangtua saya," kata Mustafa tegas.

Kisah ini dituliskan Agum dalam biografinya Agum Gumelar Jenderal Bersenjata Nurani terbitan Pustaka Sinar Harapan 2004. Agum kagum pada pemuda itu. Dia kemudian memberi uang Rp 20.000, tapi Mustafa menolaknya. Mustafa tidak tahu berhadapan dengan seorang Panglima Kodam.
Setelah Kapolres dan Komandan Kodim ikut mendesak, barulah Mustafa menerimanya. Uang dari Agum pun tak dipakai oleh Mustafa. Dia hanya menyimpannya saja.

Mustafa pemuda jujur berkemauan besar. Meninggalkan kampungnya di Janeponto demi melanjutkan SMA di Makassar. Mustafa tak mau hanya jadi lulusan SMP dan jadi petani. Dia punya mimpi sekolah setinggi-tingginya. Demi sekolah, pemuda belasan tahun itu jadi penarik becak. Sehari-hari, dia ditampung oleh pamannya. Mustafa juga baru tahu setelah koran-koran ramai memberitakan Pangdam Wirabuana mencari tukang becak untuk diberi penghargaan sebagai teladan. Akhirnya bertemulah Mustafa dengan Agum Gumelar.

Agum kemudian mengangkat Mustafa sebagai anak angkat. Dia menanggung semua biaya sekolah Mustafa. Agum juga mengajak Mustafa tinggal di rumah dinas Pangdam. Pada 1998, Agum dipindah ke Jakarta. Dia berniat mengundang Mustafa untuk mengikuti perayaan sumpah pemuda di ibukota. Namun rupanya ada kabar duka dari Makassar. Mustafa sudah meninggal dunia. Ternyata sudah lama Mustafa sakit-sakitan. Dia tak pernah menyampaikan hal itu pada Agum.

Penarik becak yang jujur itu sempat dirawat di sebuah rumah sakit, tapi karena tak ada biaya perawatan hanya asal-asalan. Agum melayat ke Janeponto, dia disambut ribuan warga. Secara tak resmi, Mustafa diangkat jadi pahlawan kejujuran dari Janeponto. Mereka semua berduka atas kematian seorang pemuda yang layak jadi teladan.

SUMBER: http://www.dream.co.id/your-story/kejujuran-tukang-becak-yang-diangkat-anak-oleh-jenderal-tni-141009y.html
 
 Baca KISAH MOTIVASI LAINNYA

Baca Selengkapnya → Kejujuran Tukang Becak yang Diangkat Anak oleh Jenderal TNI

Jumat, 10 Oktober 2014

Mahasiswa Juara Kalkulus Itu Pedagang Asongan

Gapailah cita-cita setinggi langit. Sepertinya istilah itu cocok bila dikaitkan dengan semangat yang dimiliki seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di kota Solo, Jawa Tengah itu.

 Jam menunjukkan pukul 23.00. Dingin di malam itu masih menusuk, berjejeran pemuda terlihat sedang asik dengan laptopnya sambil membuka buka buku catatan kuliahnya. Mereka duduk berbaris di kursi depan perpustakaan pusat ITS, sengaja menghasbiskan malam disana agar bisa menyelesaikan tugas kuliahnya dengan fasilitas wifi yang ada. Dan dari kejauhan terlihat seorang pemuda yang berbadan kecil, terlihat membawa thermos sambil membawa tas ransel di punggungnya, dia sedang melayani seorang mahasiswa yang ingin menikmati kopi panas untuk melawan kantuk di tengah dinginnya malam.
Ya, ini bukan novel atau cerpen. Ini adalah cerita nyata, mungkin anda masih penasaran siapakah pemuda itu? Coba tebak hayo!!!Wah maaf jawaban anda salah, bukan dia bukanlah pedagang asongan atau pemuda kampung sekitar ITS yang mau berjualan , namun dia adalah mahasiswa ITS juga. Ya hati saya luluh ketika mendengar cerita pemuda ini, begitu dahsyatnya dia berjuang untuk memperjuangkan hidupnya. Ya di tulisan ini saya akan menceritakan pemuda ini. Namun saya tak akan menyebutkan namanya.
 Sebut saja fulan. SI fulan ini adalah salah satu mahasiswa ITS yang belajar di Sang Juara pada semester lalu. Dia belajar mata kuliah kalkulus di Sang Juara School. Jujur saya sendiri sudah kagum pada pemuda satu ini, kelas kami dimulai pukul 19.00. Namun dia selalu datang lebih awal dari lainnya, melakukan shalat isya dulu di masjid (kebetulan lokasi belajar berada di depan masjid) dan hebatnya lagi dia malah membantu untuk membersihkan dan merapikan kelas sebelum kelas dimulai.

Dan cerita kekaguman saya masih berlanjut, malam itu saya ada urusan di kampus dan berjalan menyusuri lorong pukul 21.15 untuk menuju parkiran. Dan saya pun berpapasan dengan dia, dan kami pun saling sapa. “Hai fulan, lagi ngapain disini?Ko bawa thermos?”tanya saya. “Ya mas, saya jualan minuman kayak gini tiap malam, kebetulan banyak mahasiswa yang lembur, jadi banyak yang butuh minum dan cemilan namun malas keluar”jawab dia. Rasa rasanya ada embun sejuk yang menetes dalam hati saya waktu itu. Bagimana bisa mahasiswa ini di saat yang lainnya belajar dan mengerjakan tugas, dia keliling layaknya pedagang asongan dan melayani satu per satu teman sebayanya yang memesan minuman tanpa rasa malu sedikitpun.
 Dan selang beberapa bulan saya tidak bertemu, saya pun malam itu sengaja menemuinya karena memang ada sedikit keperluan dengannya. Kami bertemu pukul 23.15 di kampus, kebetulan malam itu dia juga sedang bekerja seperti biasanya. Dan dia pun banyak bercerita, dia adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Ayahnya seorang tukang batu, sedangkan ibunya adalah buruh kebersihan. Sebenarnya dia juga mendapatkan beasiswa bidik misi, perbulannya mendapatkan Rp 600.000, jumlah yang cukup untuk menunjang hidupnya selama kuliah. Namun dia tak mau berpasrah diri, jangankan meminta orang tua untuk biaya kuliahnya, diapun saat ini juga mengirim hasil keringatnya untuk orang tuanya di rumah. Makanya dia tak segan untuk melakukan hal itu, jualan keliling kampus tiap malam.
  •  Ketika saya tanya berapa keuntungannya?Dia menjawab satu malam dia dapatkan sekitar 40 ribu dari usahanya itu dan dia bekerja selama 4 hari dalam satu minggu. Cukuplah untuk kirim ke orang tua. Leleh rasanya hati ini, dan ketika saya tanya lagi, “Ko kamu bawa tas ransel juga pas jualan?”. “Iya mas, ini isinya logistik jualan sama buku, kadang ketika memanaskan air butuh waktu 15 menitan, daripada nganggur saya manfaatkan untuk belajar, karena saya harus kuliah lagi jam 7 pagi sampai malam, jadi belajarnya ya begini ini”. Semakin leleh rasanya hati ini.

 Di saat teman2 sebayanya bangga dengan prestasi menang lomba ini dan itu, dia pun bangga karena tiap bulan bisa mengirim uang ke orang tuanya. Jadi teringat film KCB, betapa azzam harus berjuang untuk kirim uang bagi keluarganya yang ada di Indoenesia, sementara dia sendiri memilih untuk tak meluluskan diri, sehingga bisa terus bekerja di Mesir dan mengirim uang tiap bulannya. Sementara di sisi lain, Furqon dengan enaknya menikmati fasilitas yang ada sehingga untuk mendapatkan prestasi di kuliah pun dengan mudah.

Namun bagaimana akhir kisahnya?Siapa yang lebih bahagia?Ya karena perjuangan kita hari ini tak ada yang sia sia, jika kita hari ini sibuk dengan berjuang, yakinlah masa depan anda akrab dengan kemenangan. Lebih baik puasa hari ini daripada puasa di masa depan, lebih baik susah sekarang daripada susah di masa depan. Dan untuk menjadi mahasiswa inspiratif, tak perlu piala piala memenuhi rakmu. Cukup berjuang keras dan selesaikan dengan tuntas setiap jalanmu, karena Allah memiliki ujian dan jalan yang berbeda untuk masing masing hambaNya
Sekali lagi salut untuk Fulan, tak perlu malu, terus berlari di perjuanganmu, dan berbahagialah di masa depan!!
Disadur dari blog inspiratif : http://miftakhulfalah.blogspot.com/2012/10/inspiring-story-kisah-mahasiswa-asongan.html 
 
 
Baca Selengkapnya → Mahasiswa Juara Kalkulus Itu Pedagang Asongan

Rabu, 27 Agustus 2014

Adinda, Siswi SMK Juara Riset se Asia Fasifik

Adinda mengharumkan nama Indonesia pada lomba riset tingkat SMA Asia-Pacific Conference of Young Scientist (APCYS) ke-3 di Taiwan.

Sempat Minder, Adinda Raih Emas pada Kompetisi Riset di Taiwan
Adinda Alifiansi Candra Dewi (18), pelajar SMK Theresiana Semarang yang meraih medali emas pada lomba riset tingkat SMA Asia-Pacific Conference of Young Scientist (APCYS) ke-3 di Taiwan, saat ditemui di sekolahnya, Selasa (26/8/2014) (Puji Utami/Kompas.com)
 Adinda Alifiansi Candra Dewi (18), siswi kelas 12 Jurusan Farmasi SMK Theresiana Semarang tak pernah menyangka penelitiannya berbuah medali emas di Taiwan. Mengaku sempat minder, Adinda akhirnya mampu mengharumkan nama Indonesia pada lomba riset tingkat SMA Asia-Pacific Conference of Young Scientist (APCYS) ke-3 di Taiwan. 

Penelitiannya berjudul "Kelor Seed as Water Cleanser" membuat Adinda menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang meraih emas di ajang itu. "Nggak pernah terpikir bisa dapat emas, karena yang lain penelitiannya juga keren-keren," kata dia saat ditemui di SMK Theresiana, Jalan Gajahmada, Semarang, Selasa (26/8).

Adinda menceritakan, penelitiannya berawal dari kegalauannya melihat sungai-sungai yang kotor di tengah Kota Semarang. Terlebih lagi, warga di sekitar sungai tersebut tidak bisa mendapatkan pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Padahal air bersih merupakan kebutuhan utama masyarakat.

"Saya kan setiap berangkat dan pulang sekolah melewati sungai itu, selain itu juga banyak penelitian tentang biji kelor yang bisa menjernihkan air. Makanya saya coba," ujar dia.

Adinda kemudian melakukan penelitian tentang biji kelor tersebut dengan dibantu guru pembimbingnya Shierly Veronica Mayasari. Akhirnya lewat penelitian tersebut ia bisa meraih medali perak pada lomba penelitian belia tingkat Provinsi Jawa Tengah Oktober 2013 lalu.

Kemudian di tingkat nasional, Adinda meraih perunggu pada November tahun lalu. Ia mengatakan perjalanan penelitian ini juga terbilang panjang, kurang lebih sampai satu tahun. Ia juga sudah melakukan beberapa kali percobaan dengan air dari dua sungai berbeda dengan tingkat kekeruhan yang berbeda pula.

"Dari setiap tingkatan lomba itu ada evaluasi dan perbaikan, awalnya dengan dosis 400 mg serbuk biji kelor untuk satu liter air dan waktu penjernihan hingga delapan jam, dan untuk yang ke Taiwan sudah dengan dosis tepat yakni 30 mg untuk satu liter air dengan waktu lebih efektif hanya satu jam, akhirnya malah dapat medali emas," kata dia.

Adinda menjelaskan, dengan biji kelor yang sudah menjadi bubuk itu bisa untuk menjernihkan air. Air yang sudah jernih bisa bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga. "Kalau untuk langsung diminum harus diteliti lagi di laboratorium, tapi ini sudah bisa untuk mencuci, mandi dan kebutuhan air bersih lain," ujar siswi kelahiran Semarang, 3 April 1996.

Berada di ajang internasional, bagi Adinda merupakan pengalaman berharga dan luar biasa. Dengan penelitiannya itu, ia juga bisa memperkenalkan biji kelor dengan nama latin moringa oleivera yang banyak ditemukan di Indonesia.

Saat presentasi, ia juga membawa contoh berupa biji kelor kering untuk diperlihatkan. Terdapat tujuh negara yang turut serta pada ajang tersebut, yakni Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, Korea dan Guam.

"Bawa sedikit untuk contoh, dan ternyata yang banyak ditanyakan juga keberadaan kelor sendiri apakah banyak di Indonesia. Dan penelitian ini saya lakukan karena kelor banyak ditemukan di sekitar kita dan mudah tumbuh," tutur putri pertama pasangan Kodrat Agung Ari Winanto dan Andrini Widiasari.

Sumber: http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/08/sempat-minder-adinda-raih-emas-pada-kompetisi-riset-di-taiwan
Baca Selengkapnya → Adinda, Siswi SMK Juara Riset se Asia Fasifik

Senin, 25 Agustus 2014

Hebat, Mahasiswa UGM Ciptakan Obat Luka Bakar dari Darah Sapi

Hebat, Mahasiswa UGM Ciptakan Obat Luka Bakar dari Darah Sapi
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM memanfaatkan limbah darah sapi sebagai obat luka bakar. Di tangan mahasiswa Fakultas kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada, limbah darah tersebut dapat disulap menjadi obat luka bakar.

Mereka adalah Rahmad Dwi Ardhiansyah, Riefky Pradipta Baihaqie, Muhammad Nuri Nuha Naufal, Muhammad Atabika Farma Nanda dan Aprilia Maharani.  Rahmad Dwi Ardhiansyah yang merupakan ketua tim ini mengatakan bahwa ini adalah suatu inovasi baru untuk memanfaatkan limbah darah sapi yang belum pernah dimanfaatkan sebagai produk.

Selanjutnya ketua tim penelitian ini menambahkan bahwa selama ini sudah banyak pemanfaatan ekstrak-ekstrak dari tanaman tetapi belum banyak yang memanfaatkan limbah asal hewan.
Berdasarkan data penelitian, mereka menguji obat ciptaannya dengan menggunakan tikus, ternyata obat yang dibuat dari limbah darah sapi tersebut sangat efektif untuk mengobati luka bakar.
Bahkan obat yang nereka ciptakan juga tidak kalah kualitasnya dengan obat luka bakar yang beredar di pasaran.  

Awalnya, tikus diperlakukan terkena luka bakar setelas dianastesi dan dikenai besi panas.
Setelah diberi salep darah sapi, luka bakar tersebut bisa sembuh lebih cepat dibanding dengan obat luka bakar komersial lainnya.

"Selama satu bulan, kita olesi luka tikus ini setiap pagi, siang dan malam, ternyata bisa sembuh kurang dari 21 hari," kata Rahmad Dwi Ardhiansyah saat menyampaikan hasil penelitiannya, Jumat (22/8).

Selain Rahmad, penelitian ini melibatkan empat mahasiswa FKH UGM lainnya, yakni Riefky Pradipta Baihaqie, Muhammad Nuri Nuha Naufal, Muhammad Atabika Farma Nanda dan Aprilia Maharani.
Dibuat dalam bentuk salep, dalam proses pembuatannya, setiap darah sapi yang diambil lalu kemudian disentrifugasi.  Setelah mendapatkan bagian darah yang diinginkan, dicampur dengan dengan vaselin album sebagai bahan dasar salep.  Percampuaran dari kedua bahan ini menghasilkan salep yang mereka namakan salep Platelet Rich Plasma (PRP).

Menurut Rahmad, dalam darah mengandung platelet. Dari platelet tersebut mengandung 7 macam growth factor penyembuh luka.  Faktor penyembuh luka ini selain mempercepat kesembuhan luka tapi juga memiliki kandungan antimikrobial.

Hasil dari penelitian mereka menunjukan bahwa salep hasil produksi mereka memiliki tingkat kesembuhan yang baik dengan ditandai tidak adanya bekas luka pada kulit tikus.

"Saat ini untuk membuat obat luka bakar komersial kita masih bergantung pada bahan baku obat luka bakar dari luar negeri. Maka dari itu kami menciptakan produk dari limbah darah sapi yang jumlahnya tidak terbatas karena setiap hari pasti akan ada limbah darah sapi di RPH, sehingga kita tidak perlu tergantung dengan produk-produk luka bakar dari luar," ungkap Rahmad.

Selain sebagai obat luka bakar, produk ini bisa dimanfaatkan untuk menyembuhkan luka gores, luka bekas bedah, dan berbagai macam luka pada kulit.  Produk ini juga memiliki keunggulan dibanding produk lain, yaitu pembuatannya yang mudah, praktis, murah, dapar mengurangi pencemaran, dan menghasilkan produk obat luka bakar dengan kesembuhan yang optimal.

Saat ini produk ini dalam proses paten dan hasil penelitian ini akan dipublikasikan baik pada jurnal nasional maupun internasional.  Walaupun obat ini telah menunjukan hasil yang cukup baik bagi kesembuhan luka bakar, hingga saat ini mereka mengaku masih aktif melakukan penelitian untuk menyempurnakan obat ini

Sumber: www.tribunnews.com/iptek/2014/08/24/hebat-mahasiswa-ugm-ciptakan-obat-luka-bakar-dari-darah-sapi
Baca Selengkapnya → Hebat, Mahasiswa UGM Ciptakan Obat Luka Bakar dari Darah Sapi

ARYA, MAHASISWA TERMUDA UGM DI USIA 14 TAHUN

Usia 14 Tahun Arya Sudah  Menjadi  Mahasiswa UGM
Arya Bagus Kevin (Kanan) berbincang dengan Anies Baswedan di sela upacara penerimaan mahasiswa baru UGM, 

YOGYAKARTA -Arya Bagus Kevin menjadi mahasiswa termuda yang diterima masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dia diterima di jurusan Teknik Sipil tahun akademik 2014/2015 pada umur 14 tahun, enam bulan 14 hari.

Arya, panggilan akrabnya itu berasal dari Karanganyar. Dia menempuh pendidikan terakhir di SMA 3 Solo. "Saya masuk sekolah dasar pada usia empat tahun," ungkap Arya kepada wartawan seusai mengikuti acara penerimaan mahasiswa baru di Lapangan Graha Sabha Pramana (GSP), Bulaksumur Yogyakarta, Senin (18/8).

Dia mengaku mengikuti program akselerasi sewaktu SD, SMP dan SMA. Pada waktu lulus SD, dia masih berusia 10 tahun. Selanjutnya pada saat belajar di bangku SMP juga diselesaikan sekitar dua tahun sehingga lulus pada usia 12 tahun. Demikian pula saat lulus SMA 3 Solo juga cepat, sehingga dalam usia 14 tahun sudah lulus SMA. "Alhamdulillah program akselerasi saya berjalan lancar," kata Arya kelahiran Solo, 23 Februari 2000 itu.

Pilihan masuk kuliah di Jurusan Teknik Sipil UGM termotivasi oleh pekerjaan ayahnya, Aris Murtopo yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Pekerjaan Umum di Karanganyar."Saya memilih teknik sipil karena selama negeri ini terus membangun, lulusan teknik sipil akan terus dibutuhkan," katanya.

Ketika ditanya, apa cita-citanya, Arya tersipu malu dan tersenyum mengatakan ingin menjadi Menteri Pekerjaan Umum. "Kalau cita-cita ingin jadi Menteri PU," ujarnya.

Saat mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru dengan jaket almamater, kemeja putih dan celana panjang hitam, wajah Arya yang masih seperti anak SMP itu sedikit canggung ketika dipanggil panitia acara untuk menuju panggung. Sambil berlari dia menuju ke atas panggung. "Ya senang bisa masuk UGM melalui ujian tulis SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Tidak sulit saat mengerjakan soal ujian dulu. Yang paling mudah matematika," katanya.

Usai wawancara dengan sejumlah wartawan, Arya sempat bersalaman dengan cendekiawan Anies Baswedan yang hadir memberikan motivasi kepada mahasiswa baru. Anies juga sempat berbincang dengan Arya. Selama studi di UGM, Arya mengaku sudah siap berpisah dengan kedua orangtuanya. Dia juga telah kos tidak jauh dari kampusnya.

Sebanyak 9.133 orang dinyatakan diterima sebagai mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun ajaran 2014/2015. Angka itu terdiri atas 6.851 mahasiswa program sarjana dan 2.282 pada program diploma.

Para mahasiswa baru mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru di lapangan Grha Sabha Pramana UGM, Bulaksumur, Senin pagi. Sebanyak 46 mahasiswa baru berasal dari luar negeri, yaitu Prancis, Jerman, Qatar, dan Malaysia.

Dalam sambutannya, Rektor UGM Prof Pratikno mengatakan, ia berharap mahasiswa baru yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama, serta berbeda disiplin ilmu, dapat tetap menjaga harmoni. Menurut Pratikno hal itu merupakan bagian dari kekayaan Indonesia. "Saudara akan menigkuti Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru bersama mahasiswa dari fakultas lain. Saya harap saudara bisa belajar bertoleransi dan berhubungan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang," ujar Pratikno. Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru merupakan sebutan bagi kegiatan orientasi yang dijalani para mahasiswa baru UGM.

Terpisah, Direktur Akademik UGM, Sri Peni Wastutiningsih mengatakan, jumlah peminat masuk UGM tahun 2014 meningkat cukup signifikan. Dari 263.831 pendaftar pada tahun 2013 menjadi 295.395 yang tersebar di 68 program studi S1.

Peningkatan jumlah pendaftar dengan sendirinya diikuti makin ketatnya angka selektivitas mahasiswa baru Kampus Biru. Dari rata-rata 1:33,5 di tahun 2013 menjadi 1:37,5 di tahun 2014. "Pada program diploma juga terjadi peningkatan jumlah pendaftar yaitu 19.782 pendaftar ditahun 2013 maka di tahun 2014 menjadi 25.480 pendaftar. Tingkat selektivitas pun menjadi ketat dari 1;5,6 menjadi 1:7,2,"  kata Sri Peni. (tribun jogja/niti bayu indrakrista)

Sumber: www.tribunnews.com/regional/2014/08/19/usia-14-tahun-arya-sudah-menjadi-mahasiswa-ugm
Baca Selengkapnya → ARYA, MAHASISWA TERMUDA UGM DI USIA 14 TAHUN

Senin, 11 Agustus 2014

Pimpinan Universitas Ini Rela Potong Gaji demi Pegawainya


Raymond Burse

New York - Raymond Burse, pemimpin sementara Kentucky State University memotong gajinya sekitar US$ 90 ribu atau setara Rp 1,06 miliar (asumsi kurs Rp 11.778 per dolar Amerika Serikat) untuk menaikkan upah pekerja berjumlah 24 di kampus yang dipimpinnya.

Pegawai itu diharapkan mendapatkan penghasilan US$ 10,25 per jam. "Saya melakukannya untuk memberikan penghasilan yang seharusnya diberikan kepada karyawan karena kerja keras mereka, dan telah membuat universitas ini kelihatan baik," ujar Burse, seperti dikutip dari CNNMoney, yang ditulis Minggu (10/8/2014).

Banyak pekerja termasuk penjaga, penjaga lapangan, dan pekerja administrasi yang bekerja dengan gaji US$ 7,25 per jam di Kentucky. Langkah Burse membuat kejutan bagi dewan universitas. Ia menggambarkan pimpinan dewan universitas begitu shock dengan apa yang dilakukan Burse.

Burse memiliki pendapatan tahunan sekitar US$ 350 ribu atau sekitar Rp 4,12 miliar (asumsi kurs Rp 11.778 per dolar Amerika Serikat). Keputusan penerimaan pemotongan gaji ini memakan waktu delapan minggu. Burse menegaskan, langkah yang dilakukannya bukan untuk membuat dirinya tenar.

"Saya melakukan sesuatu yang saya pikir biasa, dan kemudian saya dibanjiri dengan telepon," ujar Burse.
Keputusan untuk memotong gajinya itu membuat surat kabar Lexington Herald mengejar berita tentang keputusannya. Juru bicara Kentucky menjelaskan, dirinya belajar nilai arti kerja kerasa dari seorang pemuda. Ketika ia memiliki pekerjaan dengan upah minimum sebagai caddy dan tobacco cutter.

Burse, anak bungsu dari 13 bersaudara. Kedua orangtuanya hanya memiliki pendidikan rendah. Akan tetapi, ia belajar kerja keras dari orang tuanya.

"Orang tua saya mengajarkan tentang kerja keras dan pendidikan, sehingga Anda dapat unggul di dunia," tutur Burse yang kemudian lulus dari Harvard Law School, dan menjadi Rhodes Scholar.

Saat ditanya apakah keputusannya untuk memotong gajinya sendiri dapat menjadi tren di universitas lain. Burse mengatakan, ia tidak mengetahui hal itu. "Aku melakukan sebagai individu, dan saya mampu untuk melakukannnya," kata Burse.

Sebelum berkarier di Kentucky State University, ia berpraktik hukum selama enam tahun, dan melanjutkan pekerjaan sebagai eksekutif di General Electric selama 17 tahun. Pada masa pensiun, ia menerima tawaran dari dewan universitas untuk kembali datang sebagai pimpinan sementara.

 Sumber: http://m.liputan6.com/bisnis/read/2089089/pimpinan-universitas-ini-rela-potong-gaji-demi-pegawainya
Baca Selengkapnya → Pimpinan Universitas Ini Rela Potong Gaji demi Pegawainya

Musa, Hafiz Termuda Indonesia itu, kini Fokus Menghafal Hadis


"Meskipun tengah menghafal hadis, pelajaran lain seperti Bahasa Arab dan Inggris tetap dipelajari," tutur paman Musa, Abu Unaisah.

 Meski baru berusia enam tahun, Musa sudah hafal 30 juz Alquran. Bocah asal Bangka Belitung itu kini mulai fokus menghafal hadis.
"Insya Allah Kitab Shahih Bukhari akan dihafal oleh Musa," tutur paman Musa, Abu Unaisah, saat berbincang dengan Dream, Rabu 6 Agustus 2014.


Saat ini, tambah Abu Unaisah, Musa sudah menghafal sejumlah hadis. Namun dia mengaku tak tahu pasti berapa hadis yang sudah dihafal oleh keponakannya tersebut. "Kalau hadis yang sudah dihafal oleh Musa, saya kurang tahu juga."

Selain tengah sibuk menghafal hadis, saat ini Musa juga sibuk memperdalam ilmu bahasa. "Meskipun tengah menghafal hadis, pelajaran lain seperti Bahasa Arab dan Inggris tetap dipelajari," tutur Abu Unaisah.

Sejak kecil, Musa memang sudah giat mempelajari ilmu agama. Sejak usia dua tahun, Musa telah diperkenalkan huruf-huruf hijaiyah. Metodenya sederhana. Sang ayah hanya menempel satu atau dua huruf hijaiyah di dinding untuk selalu diulang-ulang oleh Musa. Setelah Musa hafal, huruf itu diganti dengan yang lainnya. Metode ini dilakukan hingga Musa hafal seluruh huruf hijaiyah.

Sekitar usia 3,5 tahun, Musa pernah merasa bosan. Musa yang kala itu masih balita selalu menangis saat diajak mengaji. Namun sang ayah tetap saja memberi Musa pelajaran menghafal Alquran dengan dibantu oleh penghafal Alquran, Sabilar Rosyad.

www.dream.co.id/orbit/setelah-alquran-musa-fokus-menghafal-hadis-140806v.html
Baca Selengkapnya → Musa, Hafiz Termuda Indonesia itu, kini Fokus Menghafal Hadis

Anak Pencari Ikan Jadi Wisudawan Terbaik

Mengajar mengaji merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan Zumrotul di desanya, untuk menggerakan warga setempat mendalami pendidikan agama.

Kerja keras hijaber bernama Zumrotul Choiriyah (23) terbayar sudah. Setelah ia berhasil menjadi wisuda Sarjana ke-LXV Diploma XV Magister (S2) XXXII Doktor (S3) VIII IAIN Walisongo.

Zumrotul diwisuda bersama 1.114 mahasiswa program Sarjana, Magister dan Doktor di universitas tersebut, pada Rabu kemarin. Saat diwisuda, gadis asal Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur itu, ditemani kedua orangtuanya.

Ia merupakan mahasiswa pertama yang mendapatkan Beasiswa Pendidikan Miskin Berprestasi (Bidikmisi), untuk Angkatan Tahun 2010. Sejak 2010-2013 lalu, jumlah mahasiswa miskin di IAIN Walisongo yang mendapatkan beasiswa telah mencapai 360 orang.

Kepala Bagian Akademik dan Kemahasiswaan IAIN Walisongo, Siti Nurfaizah mengatakan, Zumrotul mendapat predikat wisudawan terbaik karena mampu meraih nilai indeks prestasi 3,93.
Atas raihan prestasi tersebut, gadis kelahiran 11 November 1991 silam itu bisa melanjutkan kuliah S2 di IAIN Walisongo.
Pencapaian prestasi Zumrotul kali ini diluar dugaan dan terbilang istimewa. Sebab, Zumrotul merupakan anak buruh tambak ikan di Bojonegoro yang tidak terlalu menonjol di kampus.

"Jadi dia anak buruh tani yang terkadang juga membantu mencari ikan di tambak milik warga desanya. Ekonominya memang pas-pasan sekali. Saking miskinnya dia tidak pernah punya handphone," ujar Siti kepada 

Bagi mahasiswa jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini, berkuliah merupakan kebutuhan mewah. Namun siapa sangka, dari latarbelakang keluarga kurang mampu, prestasi akademik bisa diukir Zumrotul. Kemiskinan tidak menyurutkan niatnya untuk mencapai prestasi terbaik.

"Selama kuliah di sini, dia mondok di Ponpes As-Salawi Mangkang. Tapi kalau waktu libur kuliah dia memilih pulang ke Bojonegoro untuk mengajar TPQ di desanya," kata Siti.

Mengajar mengaji, kata Siti, merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan Zumrotul di desanya untuk menggerakan warga setempat mendalami pendidikan agama. "Bahkan, dia juga mengisi waktu luangnya dengan menjadi hafitz atau penghafal Alquran," urainya. 

Sumber: http://www.dream.co.id/orbit/hijaber-anak-pencari-ikan-jadi-wisudawan-s2-terbaik-140807k.html
Baca Selengkapnya → Anak Pencari Ikan Jadi Wisudawan Terbaik

Perjuangan Anak Kondektur Diterima Kuliah Kedokteran


Kata dia, keterbatasan biaya ternyata bukan alasan meraih cita-cita asalkan mau belajar keras dan disertai keyakinan selalu akan ada jalan.
 Impian Yuli Lusiani kuliah di Fakultas Kedokteran akhirnya tercapai. Dia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Jember melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dengan fasilitas Beasiswa Bidik Misi.

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur karena akhirnya diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Jember, apalagi dengan fasilitas Beasiswa Bidik Misi," tutur gadis berhijab yang merupakan alumnus SMA Negeri 2 Kediri dikutip Dream.co.id dari laman Unej.ac.id, Sabtu 9 Agustus 2014.

Persaingan untuk masuk ke Fakultas Kedokteran termasuk sangat ketat. Terlebih yang mendaftar melalui fasilitas Beasiswa Bidik Misi.

Keberhasilan Yuli menembus Fakultas Kedokteran juga disyukuri oleh keluarganya. Orangtua Yuli yang tinggal di Desa Bangsongan Kecamatan Kajen Kidul, Kediri, termasuk dalam golongan keluarga yang tidak mampu.

Ayah Yuli, Hientoro, bekerja serabutan, sementara yang lebih luar biasa adalah apa yang dikerjakan sang Ibu, Sri Sari. Untuk menghidupi keluarga sang ibu menjadi kondektur bus Harapan Jaya jurusan Surabaya-Tulungangung.

"Tetapi tidak tiap hari. Jika sedang tidak menjadi kondektur, ibu berjualan pakaian dan seprei. Sebulan gabungan penghasilan Ibu dan Bapak yang bekerja serabutan berkisar satu juta setengah, tapi bisa juga kurang ,” kata gadis kelahiran 9 Juli 1996 ini.

Keterbatasan biaya ternyata tidak membuat Yuli dan orangtuanya putus asa dalam usaha mencapai cita-cita menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Mengetahui ada program Beasiswa Bidik Misi, Yuli aktif menanyakan mengenai bagaimana cara mendapatkan Beasiswa Bidik Misi melalui guru-guru di sekolahnya.

"Ibu bahkan bertanya tentang seluk beluk Bidik Misi kepada tetangga yang kebetulan anaknya kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri, dengan fasilitas Beasiswa Bidik Misi," kata Yuli.

Perjuangan Yuli tidak berhenti di sini saja. Anak kedua dari tiga bersaudara ini menyempatkan diri rutin belajar tiga jam setiap harinya.Semua mata pelajaran dikaji mulai dari bab awal hingga akhir. "Saya juga beruntung dibiayai oleh paman untuk ikut bimbingan belajar," kata Yuli.

Sebenarnya, Yuli merasa kaget dapat diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Jember yang memang menjadi cita-citanya. Dia merasa prestasinya selama sekolah di SMAN 2 Kediri tidak terlalu mentereng. "Memang beberapa kali saya masuk dalam 10 besar di kelas," kata gadis yang bercita-cita menjadi dokter spesialis anak atau jantung ini.

Terbersit juga rasa ragu di hati Yuli saat memutuskan memilih Fakultas Kedokteran sebagai pilihan. Kedua orangtuanya pun sempat menyampaikan rasa khawatir terkait biaya yang nanti akan ditanggung. "Tapi saya sudah mantap masuk Fakultas Kedokteran, lagipula ada beasiswa Bidik Misi," kata Yuli.

Kata dia, keterbatasan biaya ternyata bukan alasan meraih cita-cita asalkan mau belajar keras dan disertai keyakinan selalu akan ada jalan. "Untuk kawan-kawan yang kebetulan senasib dengan saya, jangan putus asa karena jalan untuk meraih cita-cita tetap terbuka asal mau sungguh-sungguh belajar dan berdoa".

Sumber: http://www.dream.co.id/orbit/perjuangan-hijaber-anak-kondektur-diterima-kuliah-kedokteran-140808c.html
Baca Selengkapnya → Perjuangan Anak Kondektur Diterima Kuliah Kedokteran

Ilmuwan Muslim Ini Pesaing Stephen Hawking


Sebut saja nama besar Ibnu Sina yang dikenal sebagai bapak medis dunia. Lantas bagaimana dengan ilmuwan muslim di abad 21?
 Para Ilmuwan di jazirah Islam sekitar abad ke-9 sampai 13 M telah meletakkan dasar penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Dari fisika, kimia, astronomi hingga kedokteran. Sebut saja nama besar Ibnu Sina yang dikenal sebagai bapak medis dunia. Lantas bagaimana dengan ilmuwan muslim di abad 21?

Yang cukup membetot perhatian adalah fisikawan matematika dari Universitas Harvard, Cumrun Vafa. Pria asal Teheran, Iran ini dianggap memberikan terobosan penting atas studi fisika matematis lewat teori String dan objek astrofisika lubang hitam (Black Hole).

Hampir empat dekade teori String jadi 'kiblat' para fisikawan teoritis mempelajari teori dasar alam secara terpadu. Kata pria kelahiran 1960 ini, teori String menyediakan kerangka menyatukan segala sesuatu kita ketahui tentang alam, termasuk semua partikel dan kekuatan di dalamnya.
Lewat terori ini dia ingin menggambarkan fenomena fisik yang melibatkan skala 1025 lebih lebih kecil dari atom. Sementara kosmologi seluruh alam semesta kita melibatkan skala 1037 lebih besar dari atom.

Tak heran jika teori String disebut-sebut persimpangan dari berbagai disiplin, termasuk matematika, partikel fenomenologi dan astrofisika. Apa yang digagas dia sontak memukau Amerika. Nama Cumrun Vafa melejit di 2008, setelah ia menerima Dirac Medal--penghargaan paling bergengsi di kalangan ilmuwan.

Melalui teori String dan Geometri, Vafa mencermati gejala misterius astrofisika Black Hole di alam semesta. Teori Black Hole merupakan buah karya ilmuwan jenius Stephen Hawking. Lewat buku "A Brief History of Time" atau Sejarah Singkat Waktu, ia membuat gambaran sederhana, dari alam semesta yang terbentuk dari Black Hole dan Big Bang, bukan ciptaan Tuhan.

Sepanjang karir akademiknya, Cumrun Vafa sudah bolak-balik tampil di panggung penghargaan fisika dan matematika. Dengan semua pencapaian itu tak membuat Vafa lupa akan tanah kelahiran.


Selain sibuk mengajar di Harvard sebagai profesor besar ilmu sains sejak 2003, ia juga aktif sebagai komisaris di Network of Iranians for Knowledge and Innovation (NIKI), organisasi non-pemerintah digagas para akademisi Iran yang tersebar di AS dan Eropa.

Sumber: http://www.dream.co.id/jejak/ilmuwan-muslim-pesaing-stephen-hawking-140716w.html
Baca Selengkapnya → Ilmuwan Muslim Ini Pesaing Stephen Hawking

Kisah Hijaber Jadi Dokter Termuda di Indonesia


Riana mulai masuk Sekolah Dasar (SD) pada usia 4 tahun. Bukan lantaran paksaan dari kedua orangtua. Namun, kecerdasan Riana memang sudah tampak setahun sebelumnya.
Sobat HotMotivasi, Kisah mahasiswa lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) 2014, Raeni menjadi sumber inspirasi bagi semua orang, termasuk hijabers. Ia membuktikan kepada kita, kondisi keluarga yang berkekurangan tak jadi kendala jika diiringi tekad kuat memperoleh prestasi cemerlang.

Kisah lain yang layak jadi panutan adalah seorang remaja putri berusia 19 tahun 9 bulan yang berhasil lulus sebagai dokter termuda di Indonesia. Dia adalah Riana Helmi, gadis berhijab kelahiran Banda Aceh 22 Maret 1991 yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran (FK), Universitas Gadjah Mada (UGM).

Putri pasangan Helmi dan Rofi’ah ini juga tercatat sebagai sarjana termuda di Indonesia dengan predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,67. Riana sebelumnya pernah tercatat dalam rekor MURI saat menjadi dokter muda pada usia 17 tahun 9 bulan pada Mei 2009. Kemudian ia menyelesaikan kuliahnya hingga menjadi dokter penuh di usia 19 tahun 9 bulan.

Keberhasilan Riana tentu melalui proses tidak mudah. Riana Helmi hidup di keluarga sederhana. Ayahnya seorang polisi, membuat anak pertama dari tiga bersaudara ini beserta keluarganya terpaksa berpindah-pindah domisili. Mulai Aceh, Karawang dan berakhir di Sukabumi, tergantung tugas yang diemban sang ayah.

Di usia 3 tahun, Riana sudah pandai membaca. "Beliau sendiri yang mengajari saya membaca, menulis, berhitung, juga membaca Alquran," kenang Riana.

Sang ayah juga berperan aktif. Riana menilai ayahnya sebagai orangtua yang sangat peduli terhadap perkembangan pendidikan anaknya. Ayahnya selalu mengajarkan tentang kegigihan, sifat bersunguh-sungguh dan kerja keras.

Riana mulai masuk Sekolah Dasar (SD) pada usia 4 tahun. Bukan lantaran paksaan dari kedua orangtua. Namun, kecerdasan Riana memang sudah tampak setahun sebelumnya. Riana sejak kecil memang jarang bermain layaknya anak seusianya. Ia menghabiskan waktunya dengan banyak belajar dan ia sangat menikmatinya.

Riana menyelesaikan SD selama 6 tahun dengan prestasi sangat memuaskan. Setelah itu ia mengikuti program percepatan (akselerasi) di SMP dan SMA melalui beberapa tes IQ akademik.
Hasilnya, Riana selalu lolos uji, sehingga ia bisa menamatkan SMP dan SMA, masing-masing 2 tahun lamanya. Dia pun sudah lulus SMA saat usianya baru 14 tahun.

Cita-citanya sejak kecil yang ingin menjadi dokter, membuat dia begitu mantap untuk mendaftar ke Fakultas kedokteran di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melalui jalur Penelusuran Bakat Skolastik (PBS).

Masuk dunia kampus, Riana menghabiskan waktu dengan banyak membaca buku serta berdiskusi dengan teman-teman kuliahnya. Bagi Riana gerbang menuju ilmu pengetahun tiada lain adalah dengan rajin membaca. Selain aktif belajar di kampus ia juga rutin mengikuti kajian Islam ilmiah di sekitar kampus.

"Banyak sekali waktu untuk membaca. Terkadang, saya menargetkan 1 buku untuk tiap akhir pekan, jika tidak ada tugas kuliah yang harus segera diselesaikan," kata Riana.
Selain bercita-cita menjadi dokter, ia juga ingin menjadi dosen. Alasannya, agar bisa terus belajar dan mengajarkan, serta terus terdorong untuk menambah pengetahuan.

(Sumber: Ugm.ac.id)
Baca Selengkapnya → Kisah Hijaber Jadi Dokter Termuda di Indonesia

Sabtu, 09 Agustus 2014

Kisah Tukang Tambal Ban dan Pedagang Susu yang Kalahkan Insinyur Lulusan Oxford

Kisah Tukang Tambal Ban dan Pedagang Susu yang Kalahkan Insinyur Lulusan Oxford
Arfi an Fuadi dan M. Arie Kurniawan, kakak beradik lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) bisa mengalahkan insinyur lulusan University of Oxford
Kakak beradik asal Salatiga, Arfian Fuadi (28) dan Arie Kurniawan (23), sukses menyabet juara pertama dalam "3D Printing Challenge" yang diadakan General Electric (GE) tahun ini. Hebatnya, mereka mengalahkan para insinyur lulusan universitas top di dunia. Yang semakin membanggakan, Arfian dan Arie hanya lulusan SMA, yaitu SMA Negeri 7 Semarang dan SMK Negeri 2 Salatiga, Jawa Tengah.

Apa yang dicapai Arfian dan Arie dalam kancah internasional tidak terjadi tiba-tiba. Sebelum berkecimpung di dunia desain engineering  mereka adalah pedagang susu dan tukang tambal ban. 
Kehidupan ekonomi  keluarga yang tidak mencukupi membuat mereka harus bekerja apa saja untuk mendapatkan penghasilan.  

“Rumah sudah hampir rubuh jadi kita butuh kerjaan. Dari kecil memang kita diwajibkan berwirausaha, bahkan pernah jualan susu, pernah juga jadi tukang tambal ban,” kata Arie kepadakompas.com. 
Lucunya, kalau lah boleh dibilang begitu, baik Arfian dan Arie tak memiliki latar belakang akademis di dunia desain engineering. Arfian yang lahir pada 2 Juli 1986 lulusan SMA, sedang Arie yang lahir pada 11 Juli 1991 lulusan SMK jurusan otomotif.

Arfian lah yang pertama-tama tertarik dengan dunia ini. Ia semata-mata hobi, belajar sendiri dengan meminjam komputer milik sepupunya. Komputer adalah barang yang amat mewah yang tidak mungkin mereka miliki. 
“Dulu ketika masih sekolah, sering pinjam komputer sepupu untuk belajar. Tapi minjem-nya kalau sepupu sudah tidur,” kata dia. 
 
Arie mengenal desain engineering dari kakaknya. Arie mengaku secara akademis dirinya tidak cemerlang di bangku sekolah. Ia mengalami kesulitan memahami setiap pelajaran. Kata dia, materi pelajaran di sekolah kebanyak disampaikan dalam bentuk teori tanpa praktik. Siswa di kelas hanya membayangakan apa yang diajarkan oleh guru.

Sumber: http://www.tribunnews.com/regional/2014/07/29/kisah-tukang-tambal-ban-dan-pedagang-susu-yang-kalahkan-insinyur-lulusan-oxford
Baca Selengkapnya → Kisah Tukang Tambal Ban dan Pedagang Susu yang Kalahkan Insinyur Lulusan Oxford

Kamis, 07 Agustus 2014

Bagus Nugroho, Peneliti Indonesia untuk Ekspedisi Mars Lembaga Antariksa Jepang

ASET INDONESIA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) menyalami Bagus Nugroho dalam sebuah acara. Foto: Bagus Nugroho for Jawa Pos
ASET INDONESIA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) menyalami Bagus Nugroho dalam sebuah acara. Foto: Bagus Nugroho for Jawa Pos
SEMAKIN banyak anak muda Indonesia yang go international. Yang terbaru adalah Bagus Nugroho yang terpilih sebagai salah seorang peneliti untuk program misi Lembaga Penelitian Antariksa Jepang (JAXA) menuju planet Mars. Namun, keahliannya belum bisa dimanfaatkan di tanah air sendiri.
 
 INFORMASI adanya mahasiswa Indonesia yang terpilih sebagai peneliti intern di JAXA muncul di salah satu situs berita Australia. Saat Jawa Pos mengirimkan draf wawancara via e-mail, Bagus Nugroho, anak muda yang masih berkuliah S-3 di Melbourne University Australia itu, tengah berada di Jepang. Dia sedang menjalankan tugasnya sebagai salah seorang peneliti JAXA untuk ekspedisi planet Mars.

”Saya merasa beruntung bisa terlibat di proyek ini. Karena saya apply (melamar, Red) di hari terakhir batas pengumpulan aplikasi,” ujar Bagus menjawab pertanyaan Jawa Pos awal pekan lalu. Keterlibatan Bagus dalam proyek itu terjadi secara tidak sengaja. Sebab, awalnya dia hanya iseng membuka web JAXA saat sedang memikirkan tesis yang di-submit pada Agustus nanti.

"Di web JAXA itulah saya membaca bahwa mereka sedang membuka lamaran bagi peneliti untuk ekspedisi planet Mars,” ungkapnya.

Sekitar tiga bulan setelah Bagus mengirimkan aplikasi, JAXA membalas dengan sejumlah pertanyaan. Mereka ingin mengetahui sosok Bagus secara lebih detail. Sebulan kemudian JAXA memberi tahu bahwa Bagus diterima sebagai peneliti intern selama satu bulan di Jepang.

”Saingan saya waktu itu ada puluhan dari berbagai institusi dunia. Tapi, JAXA hanya menerima dua orang. Selain saya, ada mahasiswa dari salah satu universitas elite di Prancis,” ujar calon doktor bidang mekanika fluida tersebut.

Misi Jepang ke Mars pada 2020, jelas Bagus, adalah misi mahapenting. JAXA berencana mengirimkan robot atau probe untuk meneliti planet itu. Mereka ingin mengetahui tanda-tanda kehidupan di sana.
”Eksperimen yang saya kerjakan adalah menyelidiki parasut supersonik mereka yang akan digunakan pada misi ke Mars,” terang pria 31 tahun tersebut.

Parasut itu, jelas Bagus, harus dapat menahan robot pada saat memasuki atmosfer Mars. ”Robot akan masuk di atmosfer Mars dengan kecepatan sangat tinggi dan parasut akan membantu mendaratkannya dengan aman di permukaan Mars,” papar ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia 2012–2013 itu.
Bagus sudah sekitar satu minggu berada di JAXA saat wawancara tersebut dilakukan. Dia menyatakan, banyak eksperimen yang sudah dilakukan. Fokus tugasnya ada pada pekerjaan menggunakan wind tunnel atau terowongan angin serta berbagai model parasut yang dikembangkan.

Dia dibimbing ilmuwan Jepang, salah satunya guru besar Universitas Tokyo. Tugas Bagus menganalisis data setiap eksperimen. ”Kurang lebih ada 60 eksperimen yang saya kerjakan selama di Jepang,” kata dia.
Bagi Bagus, riset di sebuah fasilitas terowongan angin bukan hal yang baru. Di kampusnya, Melbourne University, terdapat terowongan angin boundary layer (subsonik) terbesar dan terbaik di dunia.

”Eksperimen saya di kampus menggunakan terowongan subsonik, sementara bekerja di terowongan supersonik seperti di Jepang ini adalah pengalaman baru,” ujarnya.

Terowongan angin supersonic milik JAXA, kata Bagus, merupakan salah satu yang paling impresif yang pernah dilihatnya. Fasilitasnya luar biasa besar karena berada di dalam gedung seluas lapangan sepak bola dengan ketinggian ruangan hampir 30 meter. JAXA juga memiliki fasilitas komputer serta sistem akuisisi paling modern yang pernah dilihatnya.

’’Ruangannya sangat bersih dan steril. Bahkan, di ruang kontrol, sepatu dilarang masuk,’’ bebernya. Bagus menggambarkan, ruang kontrol terowongan angin JAXA mirip ruang kontrol pesawat antariksa seperti yang terlihat dalam film-film Hollywood.

Apresiasi peneliti JAXA terhadap Bagus sangat tinggi. Dia menuturkan, setiap hari sebelum pulang, dirinya wajib menyelesaikan analisis eksperimen pada hari itu dan diberikan kepada mentornya. Selain itu, Bagus dibebaskan untuk memodifikasi atau mengembangkan lebih jauh eksperimen yang sudah dikerjakan ilmuwan di JAXA.

’’Mereka sangat menghargai input orang lain. Terutama dari orang baru karena akan memberikan perspektif baru dan segar. Mereka sangat butuh sudut pandang lain yang dapat menambah pengetahuan dan menyelesaikan eksperimen dengan cepat serta tepat,’’ jelasnya.

Menurut Bagus, perhatian pemerintah Jepang terhadap JAXA dalam hal penyediaan peralatan dan berbagai macam eksperimen sangat tinggi. Itu belum termasuk fasilitas peluncuran satelit mereka yang hanya bisa disaingi negara-negara besar seperti Rusia, AS, Tiongkok, dan Uni Eropa.

Bagus mengaku terkesan atas kedisiplinan, kerja sama, serta rasa hormat setiap personel di JAXA terhadap setiap riset. Personel yang dimaksud bukan hanya para profesor, peneliti, maupun mekanik, tetapi juga para petugas cleaning service mereka.

Setiap pagi seluruh personel di JAXA tanpa kecuali bertemu untuk melakukan rapat. Mereka membahas hasil eksperimen sebelumnya dan apa yang akan dilakukan hari itu.

’’Walau cleaning service, dia tetap berhak memberikan pendapat serta berbicara tentang hasil eksperimen kemarin. Semua harus mengerti apa yang telah terjadi kemarin dan apa yang akan terjadi hari ini,’’ ujar kontributor untuk majalah Angkasa itu.

Latar belakang Bagus terbilang komplet. Saat masih mengenyam pendidikan S-1 di Australia, dia berkesempatan menjadi peneliti intern di sejumlah perusahaan/badan usaha di Indonesia. Di antaranya, di Daimler Mercedes-Benz, PT Dirgantara Indonesia (DI), dan PT Garuda Maintenance Facility (GMF).
Saat di DI, Bagus mengaku membantu insinyur senior menyelidiki performa CN 235 NG. Ketika di GMF, dia membantu tugas harian insinyur, dalam hal ini membuat program komputer sederhana untuk mendukung kerja harian mereka.

’’Kebetulan, di dua penelitian internal itu, minat saya di bidang aerospace,’’ ucap lulusan S-1 bidang fisika dan mekanika University of Melbourne tersebut.

Prestasi dan nilai akademik istimewa yang didapat Bagus di jenjang S-1 membuat dirinya mendapat izin untuk langsung mengambil kuliah S-3, tanpa harus mengenyam pendidikan S-2 terlebih dahulu. Pemerintah Australia juga mengeluarkan program untuk kampus di Melbourne bahwa mahasiswa S-3 bidang sains, teknik, dan kedokteran dibekali kemampuan berbisnis dengan mengambil program pascasarjana sampingan di Melbourne Business School.

’’Saya ambillah program itu karena mereka memberikan uang tambahan untuk biaya hidup, biaya konferensi atau riset USD 10.000,’’ ujar Bagus.

Karena itu, selama kuliah S-3 Bagus juga nyambi kuliah di kelas bisnis tiga kali seminggu selama setahun. Uang tambahan yang dia peroleh juga digunakan untuk sekolah yang lain. Dia tercatat sebagai lulusan pascasarjana bidang nano teknologi di Universitas Oxford, Inggris. Kuliah di Oxford dilakukan secara online, hanya sesekali dia harus terbang ke Inggris untuk mengambil kelas langsung.

’’Kuliah itu penting karena mengajar saya pengetahuan dari segi scientific, ekonomi, etika, dan kebijakan pemerintah di bidang nano teknologi,’’ ujar pemuda asal Jogjakarta itu.

Meski punya keahlian di bidang ilmu langka, Bagus kesulitan menerapkan di Indonesia. Pasalnya, perusahaan-perusahaan yang dilamarnya tidak pernah mau memanfaatkan keahlian Bagus.

’’Aplikasi saya ditolak semua karena tidak sesuai dengan yang mereka cari. Kenyataannya memang susah untuk orang seperti saya bekerja di Indonesia dengan latar belakang keilmuan saya,’’ imbuhnya.
Bagus mengaku agak sedih dengan kenyataan itu. Sebab, di Australia, latar belakang pendidikan Bagus benar-benar dicari. Tahun lalu Bagus pernah ditawari untuk bekerja di badan riset Departemen Pertahanan Australia.

’’Namun, karena berbagai pertimbangan, saya urung untuk apply. Terutama karena syaratnya harus menjadi warga negara Australia. Jujur saja, godaannya sangat banyak,’’ tuturnya.

Godaan itu, misalnya, Dephan Australia menawari Bagus bekerja dalam tim yang mendesain kapal selam militer masa depan mereka. Program tersebut sungguh menantang bagi peneliti pemula seperti dia. Apalagi, gaji yang dijanjikan menggiurkan. Baru masuk menjadi ’’PNS’’ di Dephan Australia, gajinya sudah sekitar Rp 50 juta. ’’Itu belum termasuk tunjangan dan benefit lain,’’ ujar Bagus.

Bagus kini mengerti mengapa banyak orang bilang: seorang yang memiliki latar belakang scientific tertentu susah bekerja di Indonesia. Pengalamannya menunjukkan, saat ini baru Australia dan Jepang yang mengapresiasi latar belakang pendidikan itu.

’’Saya tentu saja ingin kembali ke Indonesia, berbuat lebih. Namun, tampaknya saat ini belum bisa. Keadaan di Indonesia masih belum mengizinkan,’’ tuturnya.

Lajang yang tahun depan menikah itu mengatakan masih memiliki obsesi melanjutkan sekolah. Kali ini dia ingin mengambil master bidang kebijakan teknologi di Cambridge University. Reputasi Cambridge sebagai tempat lahir fisika klasik dan modern serta kampus dengan alumni penerima Nobel terbanyak membuat Bagus tertarik mencoba. Program yang akan dia ambil mengajarkan seseorang bagaimana membuat keputusan dengan menggabungkan teknologi, riset, manajemen, serta kebijakan.

’’Saya rasa ini program yang penting. Negara kita memiliki banyak ilmuwan pintar yang tersebar di berbagai negara. Apabila kita tidak bisa me-manage dan memiliki plan serta kebijakan yang baik, niscaya mereka akan enggan kembali pulang,” tandas dia

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2014/07/27/248656/Sebulan-Buat-60-Eksperimen-Daratkan-Robot-di-Mars-
Baca Selengkapnya → Bagus Nugroho, Peneliti Indonesia untuk Ekspedisi Mars Lembaga Antariksa Jepang

Rangsang Bahasa Asing Lewat Kafe Unik

DEDIKASI TINGGI: Dari kiri, Agus Saleh, Evan Patrick Philips, dan Evi Yulia berbincang di sela-sela melayani tamu di Cafe Inggris Pare. Foto: Dimas Alif/Jawa Pos
DEDIKASI TINGGI: Dari kiri, Agus Saleh, Evan Patrick Philips, dan Evi Yulia berbincang di sela-sela melayani tamu di Cafe Inggris Pare. Foto: Dimas Alif/Jawa Pos
BANYAK pengusaha kafe yang menyajikan suasana khas untuk menarik perhatian pengunjung. Agus Saleh, pengusaha Café Inggris Pare, juga melakukan itu. Tidak sekadar menarik minat, dia juga mengajari pengunjung kafenya.
 
 ANDA boleh beranggapan bahwa kafe di City of Tomorrow itu seperti tempat nongkrong lainnya. Penataan kursinya tidak menunjukkan keistimewaan khas. Minibar dan sejumlah mejanya pun lazimnya kafe ’’biasa’’.
Tapi, kalau Anda sudah bertemu dengan dua pelayan di kafe tersebut, Evan Patrick Philips dan Evi Yulia, pikiran Anda pasti berubah. Ini kafe spesial betul.

Evan adalah pemuda Amerika. Sedangkan Evi, warga Indonesia, fasih casciscus dalam bahasa asing. Selama melayani tamu, keduanya tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia. Selalu bahasa Inggris plus beberapa bahasa lainnya.

’’Sesuai namanya, kafe ini identik dengan bahasa asing,’’ ujar Evi. Konsep itu berlaku pula bagi pengunjung. Untuk memesan menu, mereka harus menggunakan bahasa Inggris.

Tanpa bahasa itu, dua orang tersebut tidak akan melayani. ’’Kami paksa mereka untuk berbicara dengan bahasa Inggris,’’ paparnya.

Itu dialami Hendry, warga Ketintang, yang mengunjungi kafe tersebut. Dia kaget ketika Evan menyajikan menu dengan bahasa Inggris. ’’Silakan pilih dan saya akan membantu Anda,’’ ucap pria 23 tahun itu dalam bahasa Inggris.

 Hendry yang merasa tidak percaya diri kelihatan kikuk. Dia bertanya dengan bahasa Indonesia tentang menu di kafe itu. Tapi Evan menolak. ’’No, no. You must speak in English,’’ ucapnya.

Pelan-pelan Evan mengajak Hendry berkomunikasi. Berawal dengan menanyakan nama, alamat, dan dengan siapa Hendry datang ke kafe tersebut. Awalnya, Hendry terlihat terpaksa. Dengan bahasa yang belepotan, Hendry mencoba menjawab pertanyaan Evan. Jika salah, Evan membenarkan kosakata yang diungkapkan Hendry secara telaten.

Tidak lama, Evan memperlihatkan buku menu yang dibawanya sejak tadi. Dia menunjukkan beberapa menu yang tercantum di buku itu. Komunikasi antara Hendry dan Evan pun terjalin. Hanya sesekali Hendry terlihat bingung karena ada kosakata yang belum dipahami.pPerlahan-lahan, Hendry melihat menu-menu khas kafe, seperti aneka sajian kopi, roti isi, kentang goreng, dan lain-lain.

Pada waktu yang hampir bersamaan, ada pengunjung lain yang masuk ke kafe itu. Dia warga Tionghoa. Sepertinya, perempuan bernama Mey Ling tersebut sudah terbiasa datang ke kafe itu. Begitu masuk, dia langsung menemui Evi.

’’Ni hao ma (apa kabar, Red)?’’ kata Mey Ling sambil menjabat tangan Evi. Dua perempuan itu lantas bercakap-cakap dalam bahasa Mandarin. Suasana interaksi dengan berbagai bahasa pun terwujud di kafe tersebut. Hendry yang semula malu-malu berbahasa Inggris juga terlihat sudah biasa. Bahkan, dia mulai bercanda tawa dengan Evan yang berasal dari New York.

Pengalaman Hendry sangat menarik. Pasti banyak yang ingin merasakannya. Saat ini hampir semua orang pernah belajar bahasa Inggris. Namun, sedikit yang bisa mempraktikkannya. Salah satu kendala adalah kurangnya partner berkomunikasi dengan bahasa tersebut. Padahal, bahasa lebih luwes jika dipraktikkan, bukan dihafal.

Ide dan konsep tersebut dihadirkan Agus Saleh, 49. Pria kelahiran Surabaya itu awalnya prihatin dengan potensi masyarakat Indonesia yang belum tergali. Dia merenung arti pentingnya bahasa untuk kehidupan sehari-hari. ’’Tapi, masyarakat masih lemah di bidang itu,’’ ucapnya.

Agus tidak menyalahkan kurikulum pendidikan di Indonesia. Pengenalan bahasa asing dimulai sejak dini. Bahkan, TK sekarang sudah mengenal bahasa tersebut. Namun, praktik untuk mengucapkan, mendengarkan, dan menulis yang masih kurang. ’’Dari situ, muncul ide membuat tempat kongko-kongko dengan bahasa asing,’’ ujar Agus.

Di kafe itu, kata dia, siapa pun boleh masuk. Mereka yang fasih atau tidak dalam berbahasa Inggris bisa kongko-kongko di tempat tersebut. Yang grotal-gratul pasti banyak diam. Namun, dua pelayan itu akan terus mengajak ngobrol hingga akhirnya berani mengucapkan kata demi kata.

Langkah yang diutamakan adalah percakapan atau conversation. Masalah grammar dan lainnya akan ditata melalui kebiasaan dalam bercakap langsung.

Penghobi baca itu menyebut lebih dari 113 pemuda dari beberapa negara yang sudah berkomunikasi dengan dirinya. Mereka sangat tertarik dan sanggup bertukar ilmu dengan masyarakat Indonesia. Evan adalah satu di antara mereka.

Café Inggris Pare sudah dua tahun berdiri. Nama Pare diambil dari sebuah wilayah di Kediri yang dikenal dengan kawasan pendidikan bahasa. Di wilayah itu, dikenal sosok pria yang bernama Kalend Osen. Lelaki tersebut pendiri lembaga pendidikan bahasa Inggris yang sudah meluluskan ribuan siswa.

Bersama Kalend, Agus menuturkan keinginannya mendirikan tempat nonformal yang bernuansa bahasa. Kalend tertarik dan mendukung rencana itu. Perlahan keinginan tersebut diwujudkan dalam bentuk kafe sederhana. ’’Meski sederhana, ilmu yang diserap dari tempat ini luar biasa,’’ ucapnya.
Pelayan di kafe itu juga bukan orang sembarangan. Dia menyebut Evi yang hampir setahun bekerja di kafe tersebut mahir tiga bahasa.

Selain Inggris, dia memahami bahasa Spanyol dan Mandarin. ’’Tamu yang ingin belajar berbahasa Spanyol bisa juga bercakap-cakap di kafe ini,’’ paparnya.

Begitu pula Evan. Pemuda itu mampu berbahasa Prancis dengan fasih. Keahliannya tersebut juga ditularkan kepada pengunjung kafe. Suami Dian Rusdiana itu berharap kafe tersebut mampu menjadi jembatan bagi masyarakat Surabaya. Mereka yang ingin fasih belajar berbahasa Inggris cukup nongkrong di tempat itu. Tidak harus berlama-lama membahas metode bahasa Inggris yang terangkum dalam buku tebal.

’’Cukup banyak praktik berbicara langsung dengan buleyang setia melayani di kafe ini,’’ ucapnya dalam bahasa Inggris. Yes, Sir..!

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2014/08/01/249262/Satu-Meja-Pakai-Bahasa-Inggris,-Meja-Lain-Mandarin-
Baca Selengkapnya → Rangsang Bahasa Asing Lewat Kafe Unik

Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional


DI RUMAH: Arfi’an Fuadi (kiri) dan M. Arie Kurniawan di markas D-Tech Engineering, Salatiga. Kakak beradik ini menggarap proyek dari berbagai negara. Foto: M. Salsabyl Adn


 
 
 
 
 
 
 
 
 
  RUMAH: Arfi’an Fuadi (kiri) dan M. Arie Kurniawan di markas D-Tech Engineering, Salatiga. Kakak beradik ini menggarap proyek dari berbagai negara. Foto: M. Salsabyl Adn
SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung.

Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.

Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.

”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).

Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya. Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.

Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.

Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.

”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.

Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung.

Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.

Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.

”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.

Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.

Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.

”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”

Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.

Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.

”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.

Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.

”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.

Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.
Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK.

”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.
Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.

”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.

Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.

”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.

Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin.

”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.

Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.

”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya.

Sumber: http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=249923
Baca Selengkapnya → Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional