Tampilkan postingan dengan label KEHIDUPAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEHIDUPAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Oktober 2014

Cerita Sepiring Nasi Goreng Gratis untuk Ibu Hamil

 Aktivitas menggoreng nasi itu sudah diakrabi Suyoto hampir dua tahun terakhir ini. Sejak itu, racikan bumbu dan penggorengan panas hampir tak pernah absen dari kedua tangannya. Sepintas Suyoto memang serupa dengan pedagang nasi goreng pinggir jalan lainnya. Hanya satu yang beda: Suyoto tak berpikir dua kali memberi nasi goreng gratis pada ibu hamil.

"Kita sebagai umat Islam harus banyak-banyak beramal. Kalau orang kaya kan punya harta. Kalau saya orang susah, punya nasi goreng ya beramal dengan nasi goreng. Saya senang kalau bisa memberi pada ibu hamil," kata Suyoto.

Hal itu disampaikan pria kelahiran Semarang 16 Juni 1963 itu kepada detikcom, Selasa (6/12/2011).

Bagi dia memberi nasi goreng gratis pada ibu hamil yang makan di warung tendanya adalah kebahagiaan tersendiri. Suyoto membayangkan, calon bayi yang ada di perut ibu hamil turut memakan nasi goreng bikinannya. Karena dilandasi niat tulus memberi, dia berharap kelak anak-anak yang dilahirkan ibu hamil yang sempat mampir di warungnya tumbuh sebagai anak yang baik, berbakti pada orang tua dan juga senang beramal pada sesama.

"Kalau dalam sehari ada 15 ibu hamil yang makan di warung saya, akan tetap saya beri gratis. Memang sudah niat saya memberi nasi goreng gratis pada ibu hamil yang makan di tempat," tuturnya.

Tidak takut rugi? "Saya tidak pernah merasa dirugikan dengan ini. Semakin banyak ibu hamil yang makan di warung saya, saya merasa semakin banyak rezeki yang saya dapat," ucap pria yang rambutnya mulai memutih ini.

Tidak setiap hari selalu ada ibu hamil yang mampir ke warung nasi goreng Suyoto yang berada di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan ini. Tapi malam itu ketika detikcom menyambangi warung Suyoto, kebetulan ada ibu hamil yang sedang makan di sana.

"Yang dimakan Mbak, gratis," ujar istri Suyoto saat ibu hamil itu hendak membayar makanannya.

"Lho kenapa?" ucap perempuan berbadan dua itu dengan wajah bingung.

"Untuk ibu hamil memang gratis. Ini sudah kami tulis di sini," ucap istri Suyoto sambil menyodorkan daftar menu.

 
Di bagian paling bawah daftar menu memang tertulis 'Khusus ibu hamil makan gratis'. Melihat itu, sang ibu hamil pun mengangguk mengerti.

Suyoto bersyukur nasi gorengnya bisa diterima masyarakat. Awalnya dia hanya menjual nasi goreng biasa. Namun perlahan, dia mulai 'berkreasi' dengan nasi goreng bikinannya. Ada nasi goreng teri, nasi goreng pete, nasi goreng kambing, nasi goreng seafood dan sebagainya.

"Tambahan ati ampela, ikan asin dan sebagainya ini juga masukan dari konsumen. Kata mereka, kalau dasar nasi gorengnya sudah enak, mau ditambahi apa saja tetap saja enak," lanjut ayah dua anak ini.

Dari nasi goreng, Suyoto mampu membiayai pendidikan kedua anaknya. Anak sulungnya kuliah kebidanan di Solo sedangkan anak bungsunya masih SMA. Bagi dia, mampu membayar kuliah anaknya adalah suatu rezeki yang tak henti-hentinya dia syukuri.

Sebelum membuka warung nasi goreng, Suyoto lama membuka warung rokok kecil-kecilan. 7 Tahun dia mengelola warung rokoknya itu. Sebelum menjalani aktivitas dagang, Suyoto dan istrinya sempat bekerja di pabrik garmen. Bahkan Suyoto pernah menduduki posisi sebagai supervisor. Sayang, pabrik tempat dia mencari makan gulung tikar.

"Sesuatu itu selalu bermula dari yang kecil. Kalau mau berhasil harus mau usaha. Semua itu tergantung orangnya. Kalau tekun, rajin dan disertai doa, saya yakin pasti bisa berhasil," tutur Suyoto.

Dia berharap suatu saat nanti bisa memiliki warung nasi goreng di bangunan permanen, sehingga bisa lebih nyaman. Jika selama ini warung nasi gorengnya tak punya nama, dalam waktu sebulan ke depan dia akan memberi nama warungnya 'Sadakur'. Dia baru sadar, identitas pun memegang peranan penting saat membuka usaha.

"Sadakur itu artinya sabar dan bersyukur. Keinginan saya lainnya adalah bisa buka cabang di tempat lain dan bisa menjalankan rukun Islam ke-lima, naik haji," harapnya.

Bagi Suyoto, mencari makan dengan berdagang adalah aktivitas yang menyenangkan. Sebab dia bisa mengatur sendiri waktu kerjanya dan tidak tergantung pada atasan. Bahkan jika mungkin, Suyoto ingin membuka lapangan kerja bagi orang lain.

"Suatu hari nanti saya ingin bisa menulis buku. Ingin membagi kisah saya dengan orang lain. Dan sampai kapan pun selama saya jualan nasi goreng, saya akan tetap memberi gratis untuk ibu hamil. Benar, rezeki itu tidak tertukar," ucap Suyoto.

Sumber: http://imampriestian.blogspot.com/2011/12/jakarta-aktivitas-menggoreng-nasi-itu.html

Baca SelengkapnyaCerita Sepiring Nasi Goreng Gratis untuk Ibu Hamil

24 Tahun Rela Mencicil Hutang, Demi Biayai Istri yang Sakit

Mei Guanghan (66) 24 tahun lalu meminjam uang sebesar 70.000 yuan atau sekitar Rp 124 juta dari puluhan tetangganya di Desa Tingpang, Provinsi Zhejiang, China, untuk biaya pengobatan istrinya. Sejak saat itu, satu-satunya tujuan hidup Guanghan adalah membayar lunas utangnya kepada semua tetangga yang telah membantunya.

Dulu, Guanghan, istrinya, Ren Chun'ai, dan seorang putri berusia 15 tahun hidup berkecukupan dan bahagia. Namun, kehidupan pria ini berubah pada April 1990 ketika sang istri pergi ke kota untuk membeli makanan. Ren Chun'ai mengendarai traktor untuk pergi ke kota. Dalam perjalanan pulang, dia terlibat kecelakaan yang cukup fatal.

"Di pegunungan dua traktor berjalan dengan arah yang sama. Saya membelokkan traktor, tetapi rodanya tergelincir dan saya terjatuh ke dalam lembah," kenang Ren Chun'ai.

Saat jatuh, Ren menghantam bebatuan yang kemudian menyebabkannya koma. Biaya pengobatan untuk menyelamatkan Ren sangat besar dan tak bisa ditanggung pendapatan Guanghan yang hanya seorang petani biasa.

Karena cintanya yang besar kepada sang istri, Guanghan akhirnya harus mengetuk pintu setiap rumah tetangga di desanya untuk meminjam uang berapa pun yang mereka punya demi membayar biaya perawatan sang istri.

Tak hanya meminjam, Guanghan mencatat nama semua orang yang membantunya dan jumlah uang yang mereka pinjamkan. Kepada semua orang yang membantunya, Guanghan berjanji akan membayar utangnya.

"Satu hari kelak, saya akan datang kembali, mengetuk pintu dan mengembalikan uang Anda," kata Guanghan saat itu.

Rupanya, Guanghan tidak main-main dengan janjinya itu. Selama 15 tahun berikutnya, dia rela hidup pas-pasan agar bisa menyisihkan uang untuk membayar utang-utangnya. Saat uang yang dikumpulkan sudah cukup, dia akan mendatangi seorang tetangganya dan mengembalikan uang yang pernah dipinjamnya.

Pekan ini, adalah tahun ke-24 Guanghan tak lupa membayar utangnya, dan pekan ini lunas sudah dia membayar seluruh utangnya, kecuali untuk empat keluarga yang pindah dari desa itu dan tidak bisa dihubungi.

Namun, Guanghan tetap berencana untuk melacak keberadaan keempat bekas tetangganya itu dan mengembalikan uang mereka. Keteguhan Guanghan memegang janji memang berimbas pada kehidupannya. Pendapatannya yang rendah membuat dia dan istrinya harus hidup di sebuah gubuk satu kamar yang nyaris tanpa perabotan.

Sangat menakjubkan melihat Guanghan mampu menyisihkan uang yang seharusnya bisa dia gunakan untuk membeli keperluan sehari-hari. "Saya tak mempunyai pilihan. Janji adalah janji dan saya tak bisa mengambil tanpa memberi sesuatu," kata dia.

Di samping itu, Guanghan juga harus merawat sang istri, yang meskipun nyawanya terselamatkan, tetapi menjadi lumpuh akibat kecelakaan itu. Setiap pagi selama 24 tahun Guanghan secara rutin memandikan lalu memberi istrinya makan. Semuanya dilakukan karena Guanghan yakin rumahnya akan kosong tanpa kehadiran sang istri.

Meski Guanghan sudah membayar lunas semua utangnya, dia tetap menyimpan buku kecil berisi catatan nama-nama tetangga yang membantu memberi pinjaman uang.  Dia berniat mewariskan buku itu kepada anak cucunya agar mereka tak pernah melupakan jasa orang-orang yang menyelamatkan nyawa sang ibu. "Jangan pernah tidak berterima kasih," kata Guanghan penuh ketulusan. 

SUMBER: http://rizkimegasaputra.blogspot.com/2014/05/biayai-istri-yang-sakit-petani-ini.html

Baca KISAH BIGMOTIVASI LAINNYA

Baca Selengkapnya 24 Tahun Rela Mencicil Hutang, Demi Biayai Istri yang Sakit

Kisah Tempe dan Telur Mata Sapi Buatan Ibu

 

Perjuangan seseorang demi mengurus kebahagiaan keluarga kecilnya tak dapat dibandingkan dengan hal apapun. Sepanjang hari ibu melakukan segala hal yang terbaik untuk anggota keluarganya.

Ibu yang bangun sejak pagi, tak kenal lelah bekerja keras sepanjang hari. Ia membereskan rumah seorang diri, hingga tiba jam makan malam pun ibu masih saja sibuk sendiri di dapur kecil kami.


Tepat jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah, sangat sederhana, berupa telur mata kerbau, tempe goreng, sambal ikan bilis dan nasi.


Sayangnya, kerena sibuk mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit hangus.
Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tidak dapat berbuat apa. Minyak goreng pun sudah habis.

Kami menunggu dengan tegang, apa reaksi ayah yang pulang kerja? Sudah letih, kemudian melihat makan malamnya hanya dengan tempe dan telur hangus.
Namun sungguh luar biasa! Ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan senyuman yang tak hilang dari pandangan.

Ayah bahkan berkata,
“Bu terima kasih ya!” Lalu ayah juga menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah.

Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar ibu meminta maaf kerana telor dan tempe yang hangus itu.


Dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan:

“Sayang, aku suka telor dan tempe yang hangus.”
Sebelum tidur, saya pergi ke bilik ayah dan bertanya, “Apakah ayah benar-benar menyukai telur dan tempe hangus?”

Ayah memeluk saya dengan kedua lengannya erat sekali sambil berkata,
“Anakku, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah letih . Jadi, sepotong telor dan tempe yang hangus tidak akan menyakiti siapa pun anakku.”
Ini pelajaran yang saya praktikkan di tahun-tahun berikutnya, “Belajar menerima kesalahan orang lain adalah kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh & abadi.”
 
Sumber: http://www.zulfanafdhilla.com/2013/06/kisah-tempe-telur-hangus.html#ixzz3FdQI0gCj



Baca SelengkapnyaKisah Tempe dan Telur Mata Sapi Buatan Ibu

Semangat Luar Biasa Atlet Renang Tanpa Kaki

Ujian yang mahaberat, jika disikapi dengan pikiran terbuka dan jiwa yang lapang, bisa mengobarkan semangat perjuangan yang tak gampang padam. Dan, semangat itulah yang dikobarkan seorang bocah bernama Qian Hongyan.

Kita memang kadang perlu belajar dari seorang bocah. Jika kita ingat kembali, semangat sebagai anak-anak sangat kuat untuk menerjang semua halangan dan tantangan. Satu contoh nyata adalah saat kita belajar berjalan. Meski jatuh berkali-kali, sebagai seorang bocah kita tentunya terus berusaha hingga benar-benar bisa berjalan seperti saat ini.

Dan, semangat ala bocah inilah yang-barangkali-mampu menjadi "bara api" yang terus menyala di tengah gelap dan kerasnya ujian bagi sesosok anak berusia belasan dari negeri China, Qian Hongyan. Ujian yang menimpa Qian memang sangat berat. Betapa tidak, di usianya yang masih sangat dini-tiga tahun (tepatnya pada bulan Oktober 2000)-ia mengalami kecelakaan fatal yang mengakibatkan separuh tubuhnya hingga batas pinggang harus diamputasi.

Kondisi itu diperparah lagi dengan keadaan ekonomi orangtua Qian yang tidak berkecukupan. Karena itu, keluarga gadis cilik yang tinggal di Zhuangxia, China itu tak mampu memberikan kaki palsu untuk Qian. Sebagai gantinya, keluarga tersebut menyangga tubuh Qian dengan potongan bola basket. Sebuah solusi yang jauh dari kata nyaman, seperti kaki-kaki palsu lainnya.

Namun, meski tumbuh dengan keterbatasan, Qian membuktikan bahwa dunia belumlah tamat bagi dirinya. Ia tumbuh menjadi gadis yang periang dan murah senyum-seolah-olah tak terjadi suatu apa pun dalam dirinya. Dengan memantulkan bola basket di bagian bawah tubuhnya, dan dibantu penyangga untuk membantunya bergerak, Qian tetap bisa menjadi bocah lincah layaknya kebanyakan anak normal.

Bersiap Mendunia ...

Dengan kekurangan di tubuhnya, Qian pantang berputus asa, meski ia belum tahu bagaimana masa depannya kelak serta bagaimana ia bisa mengubah hidupnya dengan kondisinya saat itu. Hingga, suatu ketika ia mendatangi sebuah pertandingan olahraga nasional yang diselenggarakan di Kunming pada bulan Mei 2007. Di sana, benih yang menumbuhkan cita-citanya bertumbuh.

Saat itu, Qian setiap hari menyaksikan perjuangan beberapa atlet cacat yang ikut menyemarakkan pertandingan. Melihat perjuangan rekan senasib yang bertubuh cacat, hati Qian pun tergerak. Jika orang lain mampu berprestasi di bidang olahraga meski dengan tubuh cacat, mengapa dia tidak melakukan hal yang sama? Pikiran itulah meletupkan cita-cita Qian Hongyan untukikut menjadi seorang atlet.

Maka, selepas acara olahraga nasional tersebut, tekad Qian segera diwujudkan dengan bergabung di sebuah klub renang khusus. Tekad itu didukung sepenuhnya oleh orangtua Qian. Maka, mereka pun mendatangi Zhang Honghu, seorang pelatih yang terkenal banyak menjadikan perenang cacat sebagai juara di kejuaraan renang. Qian meminta kesempatan kepada Zhang untuk dilatih menjadi seorang seorang juara.



 
Zhang yang dikenal sebagai pelatih bertangan dingin hanya mengatakan bahwa semua tergantung pada kemauan dan tekad Qian. Sebab, menurutnya, dengan kekurangan separuh tubuh yang tak dimilikinya, agak sulit bagi Qian untuk berenang dengan hanya mengandalkan kedua lengannya. Tetapi, tekad sangat kuat Qian rupanya berhasil memikat Zhang. Maka, ia pun memberikan porsi latihan khusus bagi Qian agar lebih mampu menyeimbangkan kedua bahu dan lengannya.

Kepercayaan Zhang pun dijawab dengan kesungguhan Qian. Dengan porsi latihan cukup berat, apalagi dengan kesulitan yang dialami sejak awal latihan, Qian tak pernah sekali pun mengeluh. Baginya, impian untuk menjadi atlet adalah cita-cita yang tak boleh padam. Dalam sehari, setidaknya jarak 2000 meter ditempuh Qian di arena air untuk melatih otot-ototnya. Selain itu, latihan lain seperti sit-up, mengangkat beban, hingga berbagai jenis latihan dilakukannya dengan bersemangat.

Semangat inilah yang membuat Qian kini dikenal di seantero China dan bahkan dunia. Kisah hidup dan tekad kuatnya telah menginspirasi banyak orang agar mampu mendobrak segala keterbatasan. Kisah Qian banyak dimuat di berbagai media baik cetak maupun online sehingga mengangkat namanya. Kini, ia ingin mendunia denganusahanya mewakili China pada tahun 2012 pada kejuaraan renang di olimpiade khusus orang cacat. Tak tanggung-tanggung, Qian mematok target menjadi juara dunia renang pada kejuaraan olimpiade tersebut. Dia bekerja keras untuk mewujudkan impiannya tersebut. Jika melihat kesungguhan dan tekadnya, sepertinya impian itu tak mustahil untuk dicapai. Sebab, sejatinya kesungguhan dan tekad kuat yang dilandasi kerja keras akan mampu menaklukkan segala tantangan.

Orang-orang dengan keterbatasan fisik semacam Qian biasanya tidak mendapat tempat di masyarakat luas. Mereka lebih sering dianggap beban daripada potensi yang terpendam. Itu sebabnya kebanyakan kaum difable (cacat) cenderung tersisih. Tetapi justru Tuhan menghadirkan mereka dalam kehidupan kita untuk mencelikkan ‘kebutaan’ kita akan kebesaran-Nya dalam memakai siapapun juga.

Sesungguhnya, kita berhutang kepada mereka yang tak mau menyerah kepada nasib, kepada keadaan dan kepada apa yang disebut oleh banyak orang sebagai takdir.

Tak ada cacat yang bisa memadamkan semangat hidup yang tetap berkobar bagi manusia yang tak pernah menyerah.:EVERYONE IS NUMBER ONE.

Ya, setiap orang adalah nomor satu! Tidak ada yang nomor dua! Semangat takkan pernah padam oleh keadaan selama kita masih belum menyerah!!

Bila yang cacat saja bisa berjuang dan mengalahkan kelemahannya untuk menjadi yang terbaik dan nomor satu, Jika Qian saja mampu, bagaimana dengan kita? mengapa kita yang masih sempurna justru menyerah pada keadaan?

Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?fbid=243159489156603&set=a.205037469635472.45107.203846879754531&type=1&permPage=1
Baca SelengkapnyaSemangat Luar Biasa Atlet Renang Tanpa Kaki

Kejujuran Tukang Becak yang Diangkat Anak oleh Jenderal TNI

Hari itu Makassar begitu mencekam. Kerusuhan berbau Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) meletus di ibukota Sulawesi Selatan. Toko-toko dan rumah milik warga keturunan dijarah kemudian dibakar.

Dalam kerusuhan 15-17 September 1997 itu Sekitar 2.000 rumah dan toko hancur, dibakar dan dijarah. Tak kurang dari 80 mobil dan 150 sepeda motor jadi sasaran amuk massa. Total kerugian mencapai Rp 17,5 miliar.

Tragedi ini dikenang sebagai Peristiwa September. Saat itu Panglima Kodam Wirabuana dipegang Mayjen Agum Gumelar. Saat patroli, Agum melihat seorang pemuda duduk di atas becaknya. Sementara ribuan orang lain sibuk menjarah toko-toko yang terbakar.

Mayor Jenderal Agum yang berpakaian sipil bertanya pada pemuda itu kenapa tidak ikut menjarah. Jawaban tukang becak bernama Mustafa tersebut mengejutkan Agum.

"Itu perbuatan haram. Saya tidak pernah diberi makan barang haram oleh orangtua saya," kata Mustafa tegas.

Kisah ini dituliskan Agum dalam biografinya Agum Gumelar Jenderal Bersenjata Nurani terbitan Pustaka Sinar Harapan 2004. Agum kagum pada pemuda itu. Dia kemudian memberi uang Rp 20.000, tapi Mustafa menolaknya. Mustafa tidak tahu berhadapan dengan seorang Panglima Kodam.
Setelah Kapolres dan Komandan Kodim ikut mendesak, barulah Mustafa menerimanya. Uang dari Agum pun tak dipakai oleh Mustafa. Dia hanya menyimpannya saja.

Mustafa pemuda jujur berkemauan besar. Meninggalkan kampungnya di Janeponto demi melanjutkan SMA di Makassar. Mustafa tak mau hanya jadi lulusan SMP dan jadi petani. Dia punya mimpi sekolah setinggi-tingginya. Demi sekolah, pemuda belasan tahun itu jadi penarik becak. Sehari-hari, dia ditampung oleh pamannya. Mustafa juga baru tahu setelah koran-koran ramai memberitakan Pangdam Wirabuana mencari tukang becak untuk diberi penghargaan sebagai teladan. Akhirnya bertemulah Mustafa dengan Agum Gumelar.

Agum kemudian mengangkat Mustafa sebagai anak angkat. Dia menanggung semua biaya sekolah Mustafa. Agum juga mengajak Mustafa tinggal di rumah dinas Pangdam. Pada 1998, Agum dipindah ke Jakarta. Dia berniat mengundang Mustafa untuk mengikuti perayaan sumpah pemuda di ibukota. Namun rupanya ada kabar duka dari Makassar. Mustafa sudah meninggal dunia. Ternyata sudah lama Mustafa sakit-sakitan. Dia tak pernah menyampaikan hal itu pada Agum.

Penarik becak yang jujur itu sempat dirawat di sebuah rumah sakit, tapi karena tak ada biaya perawatan hanya asal-asalan. Agum melayat ke Janeponto, dia disambut ribuan warga. Secara tak resmi, Mustafa diangkat jadi pahlawan kejujuran dari Janeponto. Mereka semua berduka atas kematian seorang pemuda yang layak jadi teladan.

SUMBER: http://www.dream.co.id/your-story/kejujuran-tukang-becak-yang-diangkat-anak-oleh-jenderal-tni-141009y.html
 
 Baca KISAH MOTIVASI LAINNYA

Baca SelengkapnyaKejujuran Tukang Becak yang Diangkat Anak oleh Jenderal TNI

Senin, 25 Agustus 2014

Kakak Beradik Berseteru Hak Pemeliharaan Ibu Hingga ke Pengadilan.



 

#2 Orang Kakak Beradik (Di Saudi Arabia) Berseteru Memperebutkan Hak Pemeliharaan Ibunya Yang Sudah Tua Renta Hingga ke Pengadilan.#


 Di salah 1 pengadilan Qasim, Kerajaan Saudi Arabia, berdiri Hizan al Fuhaidi dg air mata yg bercucuran shg membasahi janggutnya,,!! Knp? Krn ia kalah terhadap perseteruannya dg saudara kandungnya!!

Tentang apakah perseteruannya dg saudaranay?? Ttng tanah kah?? atau warisan yg mereka saling perebutkan??

Bkn krn itu semua!! Ia kalah terhdp saudaranya terkait pemeliharaan ibunya yg sdh tua renta & bahkan hanya memakai sebuah cincin timah di jarinya yg tlh keriput,,

Seumur hidupnya, beliau tinggal dg Hizan yg selama ini menjaganya,,

Tatkala beliau telah manula, datanglah adiknya yg tinggal di kota lain, utk mengambil ibunya agar tinggal bersamanya, dng alasan, fasilitas kesehatan dll di kota jauh lbh lengkap drpd di desa,,

Namun Hizan menaolak dg alasan, selama ini ia mampu utk menjaga ibunya. Perseteruan ini tdk berhenti sampai di sini, hingga berlanjut ke pengadilan!!

Sidang demi sidang dilalui,, hingga sang hakim pun meminta agar sang ibu dihadirkan di majelis..

Kedua bersaudara ini membopong ibunya yg sdh tua renta yg beratnya sdh tdk sampai 40 Kg!!

Sang Hakim bertanya kpdnya, siapa yg lbh berhak tinggal bersamanya. Sang ibu memahami pertanyaan sang hakim, ia pun mnjawab , sambil menunjuk ke Hizan, “Ini mata kananku!”

Kemudian menunjuk ke adiknya sambil berkata, “Ini mata kiriku!!

Sang Hakim brpikir sejenak kmudian memutuskan hak kpd adik Hizan, brdasar kemaslahatan2 bagi si ibu!!

Betapa mulia air mata yg dikucurkan oleh Hizan!!

Air mata penyesalan krn tdk bisa memelihara ibunya tatkala beliau tlh menginjak usia lanjutnya!!

Dan, betapa trhormat dan agungnya sang ibu!! yg diperebutkan oleh anak2nya hingga seperti ini,,!!

Andaikata kita bisa memahami, bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya hingga ia mnjdi ratu dan mutiara termahal bagi anak2nya!!

Ini adalah pelajaran mahal tentang berbakti,, tatkala durhaka sudah menjadi budaya,,

“Ya ALLAH, Tuhan kami!! Anugerahkan kepada kami keridhoan ibu kami dan berilah kami kekuatan agar selalu bisa berbakti kepadanya!!” Aaamiiinn!!!

Semoga yang "like" dan "bagikan" tausiyah ini semua dosanya diampuni Allah, diangkat derajatnya, dikabulkan segala hajatnya dan mendapatkan pasangan yang sakinah serta anak yang sholeh/sholeha hingga bisa masuk surga melalui pintu mana saja yang dikehendaki. Aamiin ya Rabbal'alamiin
Baca SelengkapnyaKakak Beradik Berseteru Hak Pemeliharaan Ibu Hingga ke Pengadilan.

Senin, 11 Agustus 2014

Pimpinan Universitas Ini Rela Potong Gaji demi Pegawainya


Raymond Burse

New York - Raymond Burse, pemimpin sementara Kentucky State University memotong gajinya sekitar US$ 90 ribu atau setara Rp 1,06 miliar (asumsi kurs Rp 11.778 per dolar Amerika Serikat) untuk menaikkan upah pekerja berjumlah 24 di kampus yang dipimpinnya.

Pegawai itu diharapkan mendapatkan penghasilan US$ 10,25 per jam. "Saya melakukannya untuk memberikan penghasilan yang seharusnya diberikan kepada karyawan karena kerja keras mereka, dan telah membuat universitas ini kelihatan baik," ujar Burse, seperti dikutip dari CNNMoney, yang ditulis Minggu (10/8/2014).

Banyak pekerja termasuk penjaga, penjaga lapangan, dan pekerja administrasi yang bekerja dengan gaji US$ 7,25 per jam di Kentucky. Langkah Burse membuat kejutan bagi dewan universitas. Ia menggambarkan pimpinan dewan universitas begitu shock dengan apa yang dilakukan Burse.

Burse memiliki pendapatan tahunan sekitar US$ 350 ribu atau sekitar Rp 4,12 miliar (asumsi kurs Rp 11.778 per dolar Amerika Serikat). Keputusan penerimaan pemotongan gaji ini memakan waktu delapan minggu. Burse menegaskan, langkah yang dilakukannya bukan untuk membuat dirinya tenar.

"Saya melakukan sesuatu yang saya pikir biasa, dan kemudian saya dibanjiri dengan telepon," ujar Burse.
Keputusan untuk memotong gajinya itu membuat surat kabar Lexington Herald mengejar berita tentang keputusannya. Juru bicara Kentucky menjelaskan, dirinya belajar nilai arti kerja kerasa dari seorang pemuda. Ketika ia memiliki pekerjaan dengan upah minimum sebagai caddy dan tobacco cutter.

Burse, anak bungsu dari 13 bersaudara. Kedua orangtuanya hanya memiliki pendidikan rendah. Akan tetapi, ia belajar kerja keras dari orang tuanya.

"Orang tua saya mengajarkan tentang kerja keras dan pendidikan, sehingga Anda dapat unggul di dunia," tutur Burse yang kemudian lulus dari Harvard Law School, dan menjadi Rhodes Scholar.

Saat ditanya apakah keputusannya untuk memotong gajinya sendiri dapat menjadi tren di universitas lain. Burse mengatakan, ia tidak mengetahui hal itu. "Aku melakukan sebagai individu, dan saya mampu untuk melakukannnya," kata Burse.

Sebelum berkarier di Kentucky State University, ia berpraktik hukum selama enam tahun, dan melanjutkan pekerjaan sebagai eksekutif di General Electric selama 17 tahun. Pada masa pensiun, ia menerima tawaran dari dewan universitas untuk kembali datang sebagai pimpinan sementara.

 Sumber: http://m.liputan6.com/bisnis/read/2089089/pimpinan-universitas-ini-rela-potong-gaji-demi-pegawainya
Baca SelengkapnyaPimpinan Universitas Ini Rela Potong Gaji demi Pegawainya

Sabtu, 02 Agustus 2014

Tidak Hanya Anda, Anak-Anak Bebek Ini Juga Belajar Hidup Dari Induknya

Photo copyright Youtube/Jason David
 
 Setiap orang tua pasti punya insting kapan harus menolong dan kapan harus membiarkan anaknya berusaha sendiri. Ilmu ini tidak ada di mana-mana, tapi setiap orang tua secara alamiah akan menemukan cara ini untuk membuat anak-anaknya tangguh, mandiri dan bertahan dalam kerasnya kehidupan. Dan hidup ini bukan hanya keras bagi manusia, tapi juga bagi anak-anak bebek ini.

Ada sebuah video yang akan membuat Anda paham, kenapa kadang ayah dan ibu kita hanya diam dan tidak bergeming saat kita dalam masalah. Meski begitu, mereka tetap pada tempatnya, bukan meninggalkan kita.


 Lihat bagaimana induk bebek tersebut mengajari anak-anaknya untuk berusaha sendiri sampai mereka bisa. Kalau terus-terusan dibantu, mereka akan selalu bergantung pada induknya dan tak pernah belajar. Kalau terus-terusan mengandalkan induknya, mereka tak akan mengasah kemampuan yang mereka miliki sendiri.
Induk bebek itu hanya berada di sekitar sana untuk mengawasi dan memastikan semua anaknya bisa naik tangga sendiri. Anak-anak bebek ini mencoba dan tak jarang mereka berjatuhan, gagal dan gagal lagi. Meski begitu tekad mereka sangat kuat untuk mengikuti induknya. Karena induknya ada di sana, bukan meninggalkannya.

Photo copyright Facebook/The Mind Unleashed 
Photo copyright Facebook/The Mind Unleashed
Sobat, dalam perjalanan hidup kita, ada masa di mana kita mengalami kesulitan. Orang lain bisa membantu, tapi demi kebaikan, orang yang paling bisa menyelesaikan masalah itu adalah kita sendiri. Karena Tuhan tak pernah menguji di luar batas kemampuan insan-Nya, maka Anda akan menyadari bahwa tiap kesulitan akan membawa kekuatan yang lebih besar bagi Anda setiap kali Anda bisa melampauinya.
Baca SelengkapnyaTidak Hanya Anda, Anak-Anak Bebek Ini Juga Belajar Hidup Dari Induknya

Akankah Kau Membuang Ibu Yang Membesarkanmu Hingga Sehebat Sekarang?

Photo copyright Thinkstockphotos.com

Panti jompo. Pernah membayangkan kalau suatu hari, bisa saja kita yang ada di sana? Mungkin tidak, karena kita berpikir bahwa kita memiliki keluarga dan anak cucu nantinya. Apakah kita yakin mereka akan mencintai kita sampai akhir hayat?

Adalah sebuah kisah di Jepang tentang budaya 'membuang' orang tua. Di mana orang tua yang sudah manula dan renta, karena ketidakberdayaannya dan ketidakmampuannya, akhirnya dibawa ke hutan dan ditinggalkan di sana. Di sebuah tempat bernama Ubasuteyama.

Di sana, para orang tua ini akan ditinggalkan dengan makanan yang sudah mereka bawakan. Kemudian dibiarkan hingga meninggal dengan sendirinya. Orang tua semakin manula, kadang memang semakin rewel dan membuat anak cucu mereka menyerah sehingga mereka melakukan ini. Kalau jaman sekarang, mereka akan membawa orang tuanya ke panti jompo.

Alkisah ada seorang anak yang selama ini dibesarkan oleh ibunya yang seorang janda. Ibunya hanya orang desa biasa, tapi mampu membuat anaknya makan setiap hari dan sekolah tinggi. Suatu hari anak itu sukses, memiliki rumah yang layak, istri cantik dan anak-anak yang sehat.

Tibalah masa di mana ia akan melakukan ritual membuang ibunya. Sang ibu sudah hampir berusia satu abad, tak banyak bisa bicara dan semua yang dilakukan mulai melambat. meski begitu, ia sadar diri bahwa ia akan dibuang ke hutan. Si ibu pasrah dan tetap tenang.

Sang anak memanggulnya di punggung. Hutan ini sebegitu jauhnya, sementara sang ibu memetik dahan dan ranting di sekitarnya sepanjang perjalanan. Ketika sampai di tempat yang memungkinkan, si anak menata bekal yang ia bawa untuk sang ibu. Kemudian ia menurunkan ibunya tanpa memandang wajahnya.
Ia tak sampai hati sebenarnya untuk bicara, lidahnya juga kelu dan matanya malu memandang sang ibu. Sempat terdiam sejenak, sampai sang ibu berkata, "Nak, kamu tak perlu khawatir. Ibu selalu menyayangimu dan kasih ibu selalu makin besar setiap harinya."

Baru sampai situ, sang anak mulai tertegun. "Semoga kamu tidak tersesat dan pulang ke jalan yang benar. Aku sudah membuat jejak di jalan dengan ranting dan dahan yang kupatahkan. Hidup yang baik ya, Nak," ujarnya lagi.

Seketika dada sang anak seperti akan meledak. Kepalanya panas dan matanya berkaca-kaca. Ia membalikkan badan dengan cepat, melihat ibunya. Digendongnya lagi sang ibu dan dibawanya pulang kembali. Ia tak jadi membuang ibunya ke hutan dan bertekad merawat ibunya sampai akhir hayat.

Ladies, kadang kita terlalu sibuk menjadi dewasa dan lupa bahwa orang tua kita menua. Kadang kita lupa akan menua seperti mereka dan seperti apakah kita ingin diperlakukan saat tua nanti? 

Perlakukan orang tua kita dengan penuh sayang dan hormat. Karena begitulah kita akan diperlakukan oleh anak cucu kita nanti. Dan ingatlah, di antara mereka ada doa dan surga bagi kita. Semoga menginspirasi.
Baca SelengkapnyaAkankah Kau Membuang Ibu Yang Membesarkanmu Hingga Sehebat Sekarang?

Kisah Sebongkah Roti: Sebuah Kisah Pendek Penuh Hikmah

Foto: copyright thinkstockphotos.com

Berbuat baik pada sesama sudah menjadi kewajiban bagi setiap umat manusia. Tidak peduli apapun agama yang dianut, kita harus memperlakukan orang lain dengan baik jika ingin diperlakukan baik pula. Buah perbuatan baik seringkali tidak hanya berupa pahala bagi seseorang, bahkan ketika masih di dunia perbuatan yang dilakukan dapat kembali padanya dengan cara yang tidak diduga-duga.

Seperti dalam kisah berikut ini. Perbuatan baik yang dilakukan secara konsisten dan sabar ternyata memberikan hikmah luar biasa pada seorang wanita.
*****
Ada seorang wanita yang membuat roti untuk makanan keluarganya setiap hari. Setiap harinya, wanita ini membuat roti ekstra untuk diberikannya pada orang lain yang kebetulan melewati rumahnya. Dia meletakkan roti itu pada jendela rumahnya untuk siapa saja yang ingin mengambil roti tersebut.

Setiap hari, ada orang yang sudah bungkuk datang dan mengambil roti itu. Tetapi, bukannya mengucapkan terima kasih dan menunjukkan keramahan, pria itu malah menggerutu sejumlah kata yang selalu dia ucapkan setiap hari. Beginilah kira-kira ucapannya: "Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu."

Hal ini berlangsung secara terus-menerus, hari demi hari. Pria bungkuk itu selalu datang dan mengambil roti seraya mengatakan sesuatu dengan mengucapkan, "Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu." Wanita itu merasa sebal dengannya,"Bukannya berterima kasih..," katanya dalam hati.

'Setiap hari pria itu mengatakan hal yang sama, apa maksudnya?' pikir wanita itu.Suatu hari, tiba-tiba dia memiliki keinginan untuk menyingkirkan pria bungkuk itu. Dia berniat membuat roti dengan racun di dalamnya. Tetapi, ketika akan meletakkannya pada jendela, dia gemetar dan tersadar. "Apa yang telah aku lakukan?" katanya. Roti itu akhirnya dibakarnya habis dan dia menggantinya dengan roti biasa. Seperti hari-hari sebelumnya, pria itu datang lagi dan tetap mengatakan hal yang sama, tidak menyadari peperangan batin dalam wanita itu.

" Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu." "
Putra wanita itu pergi merantau jauh dari tempat tinggalnya. Dan sudah berbulan-bulan dirinya tak mendapatkan kabar tentang keberadaan putranya itu. Wanita ini terus berdoa agar putranya diberi keselamatan dan dapat kembali padanya.

Malam itu, pintu rumahnya diketuk dari luar, wanita itu pun membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat sang anak berdiri dihadapannya. Anaknya itu terlihat sangat kurus dan lemah, rupanya dia kelaparan.
Sang anak menatap ibunya dan berkata,"Ibu, ini keajaiban. Ketika aku masih jauh dari sini, aku kelelahan dan pingsan. Aku mungkin akan mati kelaparan, tetapi pada saat itu ada orang bungkuk datang melintas dan memberiku sebuah roti," ungkap sang anak. Pria itu berkata," Ini yang aku makan setiap hari. Hari ini aku harus memberikannya padamu karena kamu lebih membutuhkannya daripada aku."

Kemudian seketika wajah ibunya memucat dan tersandar di tembok.Dia teringat akan roti beracun yang hampir saja dia berikan pada orang bungkuk itu pagi tadi. Andai saja dia memberikannya pada orang bungkuk itu, tentu anaknya lah yang akan dia racuni dengan tangannya sendiri. Akhirnya dia menyadari arti kata yang selalu diucapkan pria bungkuk itu,"Perbuatan burukmu akan tetap bersamamu, perbuatan baikmu akan kembali kepadamu."
Baca SelengkapnyaKisah Sebongkah Roti: Sebuah Kisah Pendek Penuh Hikmah

Kisah Persahabatan Sejati: Demi Kesembuhannya, Aku Berjuang Mengumpulkan Puluhan Ribu Dolar




Memiliki sahabat di saat suka dan duka, tempat berbagi cerita dan keluh kesah, tentunya bagaikan harta berharga yang kita miliki di dunia. Apalagi jika persahabatan tersebut dipupuk sedari kecil.

Seorang sahabat dapat bertindak dan menyayangi kita bagaikan saudara kandung, setidaknya hal ini yang ditunjukkan oleh Quinn Callander dan Brayden Grozdanich. Dilansir oleh buzzfeed.com, Brayden mengidap cerebral palsy yang mengakibatkan tangan kanan dan kakinya tidak dapat berfungsi normal. Ia harus melakukan serangkaian terapi dan akhirnya dokter memutuskan sebaiknya Brayden menjalani operasi. Tentunya biaya operasi ini sangatlah mahal.

Mendengar sang sahabat dalam kesulitan, Quinn tak dapat menahan dirinya. Ia memutuskan untuk membuat stand minuman limun demi mengumpulkan dana untuk membantu biaya operasi Brayden. Dilansir oleh buzzfeed.com, pada tanggal 6 Juli lalu, Quinn membangun stand minuman limunnya di depan sebuah toko lokal di Maple Ridge, Kanada.
" Anda tak perlu melakukan hal besar dan menjadi orang besar untuk mengubah dunia. Hanya hal kecil dengan cinta besar maka Anda dapat mengubah dunia, setidaknya bagi dunia seseorang. "

Dengan cepat stand minuman limun ini didatangi oleh penduduk lokal yang berbondong-bondong ingin menyumbangkan sebagian rejekinya. Melihat apa yang dilakukan oleh Quinn, ibunda Quinn memutuskan untuk membantu dengan cara yang lebih besar lagi. Menggunakan situs crowdfunding, ibu Quinn berusaha mengumpulkan $ 20.000 untuk membantu biaya operasi sahabat sang anak. Tak disangka, jumlah yang dikumpulkan dari stand limun dan kampanye melalui internet ini mencapai $ 55.000! Wow! Kini Brayden sedang bersiap-siap menjalani operasinya sementara Quinn dengan setia menanti sahabatnya sembuh. Jika Anda tersentuh mendengar cerita ini, ya, semua ini dilakukan oleh seorang anak laki-laki berusia 7 tahun untuk sahabat tercintanya.
Brayden memeluk Quinn dengan penuh haru | Foto: copyright buzzfeed.com
Brayden memeluk Quinn dengan penuh haru | Foto: copyright buzzfeed.com
  Anda tak perlu melakukan hal besar dan menjadi orang besar untuk mengubah dunia. Hanya hal kecil dengan cinta besar maka Anda dapat mengubah dunia, setidaknya bagi dunia seseorang.


"There is a magnet in your heart that will attract true friends. That magnet is unselfishness, thinking of others first; when you learn to live for others, they will live for you."Paramahansa Yogananda 
Baca SelengkapnyaKisah Persahabatan Sejati: Demi Kesembuhannya, Aku Berjuang Mengumpulkan Puluhan Ribu Dolar

Bai Fangli, Tukang Becak Yang Dikenang Lewat Monumen Atas Kebaikannya

Photo copyright Chinasmack.com
Di masa tua, banyak orang yang memutuskan untuk pensiun dan menikmati sisa hidup mereka. Ada yang menikmati waktu bersama anak cucu mereka, ada juga yang sendirian. Tapi, ada seseorang yang lebih memilih bekerja keras demi anak-anak masa depan bangsa. Dia adalah, Bai Fangli.
Bai Fangli bukanlah seorang pensiunan biasa. Ia adalah sosok yang tak pernah berhenti memikirkan orang lain dan ingin selalu berguna bagi orang lain. Di usia 74 tahun, saat banyak orang tua memutuskan pensiun, ia malah memilih untuk menarik becak. 
Dengan tubuhnya yang renta, Bai Fangli masih bersemangat mengayuh becak dan mendapatkan sejumlah uang yang bahkan tak dinikmatinya sendiri. Uang itu ia sumbangkan untuk kelangsungan anak-anak yang kesulitan membayar biaya sekolah. Setidaknya kakek Bai Fangli sudah mendapatkan sekitar 350 ribu yuan dari membecak dan menyekolahkan 300 orang anak. 

Bai Fangli telah membantu anak-anak itu untuk meraih cita-citanya. Setiap peluh dan rasa lelah itu ia dedikasikan pada orang lain, sementara ia tak banyak menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Membantu orang lain adalah kepuasaan tersendiri dalam hidup baginya. 

Suatu hari di musim dingin, Bai Fangli menyerahkan sebuah kotak makan berisi uang sebanyak 300 yuan pada seorang guru. Ia mengatakan pada guru itu, "Aku makin tua. Sepertinya aku tidak akan bisa menyumbang lagi. Ini ada uang terakhir yang kumiliki." 

Photo copyright Chinasmack.comPhoto copyright Chinasmack.com
Pada tahun 2005, Bai Fangli meninggal dunia. Meski ia hanya seorang tukang becak, tapi jasanya begitu besar dan Bai Fangli dikenang lewat sebuah monumen. Ia begitu dihormati karena sebagai pria tua ia mampu melakukan apa yang seharusnya dilakukan pemerintah, bahkan hanya seorang diri. Adalah hal yang pantas kalau ia mendapat penghargaan dan penghormatan dari putra-putri yang ia sekolahkan. 

Dalam lingkungan sosial, selalu ada satu orang yang luar biasa hidupnya yang bisa mengingatkan kita bahwa kita harus peduli satu sama lain. Semoga terinspirasi dan bisa melakukan kebaikan seperti yang mereka lakukan.
Baca SelengkapnyaBai Fangli, Tukang Becak Yang Dikenang Lewat Monumen Atas Kebaikannya

Wow, Kisah Hidup Wanita Ini Berhasil Meraih Lebih Dari 1 Juta Like Dalam Waktu 24 Jam

Foto: copyright huffingtonpost.co.uk
Kisah dari wanita yang putus sekolah ini rupanya menginspirasi banyak orang. Dalam waktu 24 jam saja, kisah yang dia bagikan di Facebook 'Humans of New York' mendapatkan like lebih dari 1 juta.

Seperti dilansir huffingtonpost.co.uk, saat masih berusia 16 tahun, dia telah menjadi ibu. Dia dikeluarkan dari sekolahnya karena terlalu banyak absen dari kelas. Komunitas dan orangtuanya mengacuhkannya, tetapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya. Dia mendapatkan pekerjaan pada sebuah toko perlengkapan olahraga. Tidak lama setelah itu, dia mendapat pekerjaan pada resepsionis di sebuah perusahaan pajak. Di sana dia memikul cukup banyak tanggung jawab yang memaksanya belajar banyak seputar pajak.
Kisahnya di Facebook yang meraih jutaan like dalam waktu singkat.
Kisahnya di Facebook yang meraih jutaan like dalam waktu singkat.
Kemudian dia mendapat tawaran untuk bekerja di perusahaan yang lebih kecil. Meskipun gajinya lebih kecil, perusahaan ini menawarkan lebih banyak tanggung jawab seputar keuangan. Karena dia menginginkan pengalamannya, dia menerima tawaran itu dan mengambil resiko. Keputusan itu membawa kebahagiaan padanya, karena tidak lama setelah bekerja di tempat itu, bagian kontrol dari perusahaan itu keluar, dan dia menggantikannya. Tetapi, perusahaan itu tidak bisa mengangkatnya secara resmi karena dia tidak memiliki ijasah sarjana. Karena itu, dia akhirnya menyelesaikan kuliahnya 5 bulan yang lalu untuk membuatnya menjadi resmi. 
 
Luar biasa bukan? Dia dapat mengejar karirnya bahkan tanpa harus lulus kuliah. Dirinya mengaku telah menunggu lama untuk menceritakan kisahnya ini dan akhirnya dapat menceritakan kisah hidupnya lewat akun Facebook ini.

Kisah dari wanita ini mengajarkan pada kita untuk pantang menyerah dengan segala keterbatasan yang Anda miliki. jika Anda mau berjuang, maka Anda akan dapat menggapai mimpi-mimpi Anda.

sumber:   Vemale.com -
Baca SelengkapnyaWow, Kisah Hidup Wanita Ini Berhasil Meraih Lebih Dari 1 Juta Like Dalam Waktu 24 Jam

Penjara Pikiran


Sobat Blog Hot Motivasi... Tahukah kamu bahwa penemu sikat gigi modern adalah seorang pria asal Inggris yang bernama William Addis? Seperti yang dilansir oleh iphincow.com, pria ini menggunakan tulang yang sudah dilubangi kecil-kecil mengisinya dengan bulu binatang yang direkatkan menjadi satu.dan

William akhirnya menjadi jutawan setelah ide cemerlangnya tersebut dikembangkan menjadi sikat gigi berbulu nilon dan diproduksi massal oleh perusahaan Amerika yang bernama Du Pont pada tahun 1938.

Yang Anda belum tahu mungkin kisah di balik pembuatan sikat gigi ini. Saat menemukan konsep sikat gigi ini, William Addis rupanya sedang menjalani hukuman di penjara lho.

Yang perlu ditiru dari pria ini ialah sikap pantang menyerahnya tersebut. Tubuh William mungkin berada di penjara, namun pikirannya tidak. Ia tetap membiarkan pikirannya bekerja bebas. Sementara itu banyak orang yang tubuhnya bebas tidak terpenjara oleh apapun namun pikirannya terpenjara. Penjara tersebut berupa kata-kata "tidak mungkin", "tidak bisa", "tidak mau", "tidak berani" atau kata-kata penghalang lainnya yang membuat Anda tidak bisa berkembang.

Tuhan telah memberikan manusia potensi untuk dikembangkan. Jangan biarkan keadaan apapun untuk memenjarakan pikiran Anda. Selalu berpikiran positif dan bekerja semaksimal mungkin untuk memperoleh keadaan yang jauh lebih baik.

Pikirkan kemenangan, jangan pernah berpikir negatif atas diri Anda. Selalu tanamkan pada diri Anda bahwa Anda mampu untuk melakukan hal-hal tersebut.
Baca SelengkapnyaPenjara Pikiran

Johnny, Penderita Down Syndrome yang Inspiratif Menarik Pembeli


Johnny usianya sekira 20-an tahun, bekerja sebagai pengemas barang di samping kasir  di sebuah toko ritel besar yang lesu penjualannya. Yang membuat Johnny tampak berbeda dari pegawai lainnya, ia pengidap down syndrome.

Suatu kali ia mendengar ceramah motivasi seorang ahli pemasaran di radio, Barbara Glanz. “Pikirkan tentang sesuatu yang bisa kalian berikan pada pelanggan dan membuat mereka merasa spesial sehingga mereka terdorong untuk datang lagi,” ujar Barbara.
Entah bagaimana, Johnny tertarik pada ceramah itu. Ia ingin memberikan sesuatu yang spesial pada para pelanggannya, namun apa? Ia sempat menelepon Barbara dan mengatakan tertarik pada ceramahnya namun ia tak bisa mewujudkannya karena ia hanya seorang down syndrome.


Hingga suatu hari terlontar ide untuk membuat catatan Renungan harian - Thought for the Day, yang berisi kalimat motivasi yang sederhana namun menyentuh yang ingin ia bagikan pada para pelanggannya.

Johnny meminta bantuan ayahnya untuk mengetikkannya di komputer dan mencetaknya menjadi beberapa kopi. Setiap potongan kecil hasil perenungan hariannya itu ia beri nama dirinya di belakangnya dan ucapan, “Terima Kasih Telah Berbelanja di Tempat Kami”. Hasil cetakan itu ia bawa ke tempat kerjanya.

Aksi Johnny pun dimulai. Setiap kali selesai mengemas, Johnny menyisipkan satu Thought for the Day bagi tiap pelanggannya yang membayar di meja kasir tempatnya bertugas. 

Sebulan kemudian manajernya melihat keanehan. Antrean pelanggan di kasir tempat Johnny bertugas panjangnya tiga kali dari kasir lain. Lazimnya toko ritel, selalu ada beberapa meja kasir. 

Sang manajer pun meminta para pelangan itu itu mengisi barisan sebelahnya agar lebih cepat terlayani. Uniknya, mereka bukannya mengikuti saran itu, mereka malah serempak mengatakan, “Tak apa-apa, kami rela mengantre, yang penting dapat ‘Thought for the Day ‘dari Johnny,” katanya.

Yang membuat si manajer tersentuh, banyak pelanggannya yang mengaku, biasanya mereka datang belanja di situ seminggu sekali. Namun supaya mendapat Thought for the Day setiap hari, belanjanya jadi tiap hari. Belum lagi mereka yang merekomendasikan teman-teman mereka untuk belanja di situ agar mendapatkan Thought of the Day dari Johnny juga.

Gerai ritel itupun jadi ramai. Bahkan divisi pemasaran bunga yang semula hampir bangkrut bisa kembali hidup karena ide cemerlang Johnny yang adalah seorang down syndrome.

Ayooo... yang masih dikasih fisik sehat, jangan mau kalah untuk teru bermanfaat bagi sesama, ya! ^_^

Sumber: apakabardunia.com
Baca SelengkapnyaJohnny, Penderita Down Syndrome yang Inspiratif Menarik Pembeli

Dahsyatnya Doa Ibu Hingga Mengantarkan Dokter Spesialis

Kisah nyata, terjadi di Pakistan.
Seorang Dr Ahli Bedah terkenal (Dr. Ishan) tergesa-gesa menuju airport. Beliau berencana akan menghadiri Seminar Dunia dalam bidang kedokteran, yang akan membahas penemuan terbesarnya di bidang kedokteran.

Setelah perjalanan pesawat sekitar 1 jam, tiba-tiba diumumkan bahwa pesawat mengalami gangguan dan harus mendarat di airport terdekat. Beliau mendatangi ruangan penerangan dan berkata: Saya ini dokter spesialis, tiap menit nyawa manusia bergantung ke saya, dan sekarang kalian meminta saya  menunggu pesawat diperbaiki dlm 16 jam?

Pegawai menjawab: Wahai dokter, jika anda terburu-buru, anda bisa menyewa mobil, tujuan anda tidak jauh lagi dari sini, kira-kira dengan mobil 3 jam tiba.

Dr. Ishan setuju dengan usul pegawai tersebut dan menyewa mobil. Baru berjalan 5 menit, tiba-tiba cuaca mendung, disusul dengan hujan besar disertai petir yang mengakibatkan jarak pandang sangat pendek. Setelah berlalu hampir 2 jam, mereka tersadar tersesat dan terasa kelelahan.

Terlihat sebuah rumah kecil tidak jauh dari hadapannya, dihampirilah rumah tersebut dan mengetuk pintunya. Terdengar suara seorang wanita tua: Silakan masuk, siapa ya?
Terbukalah pintunya. Dia masuk dan meminta kepada ibu itu untuk istirahat duduk dan mau meminjam telponnya.

Ibu itu tertawa dan berkata: Telpon apa Nak? Apa anda tidak sadar ada di mana? Di sini tdk ada listrik, apalagi telpon. Namun demikian, masuklah silakan duduk saja dulu istirahat, sebentar saya buatkan teh dan sedikit makanan untuk menyegarkan dan mengembalikan kekuatan anda.

Dr. Ishan mengucapkan terima kasih kepada ibu itu, lalu memakan hidangan sementara ibu itu sholat dan berdoa serta perlahan-lahan mendekati seorang anak kecil yg terbaring tak bergerak di atas kasur di sisi ibu tersebut, dan dia terlihat gelisah di antara tiap sholatnya. 


Ibu tersebut melanjutkan sholatnya dengan doa yang panjang, Dr Ihsan mendatanginya dan berkata: Demi Allah, anda telah membuat saya kagum dengan keramahan anda dan kemuliaan akhlak anda, semoga Allah menjawab do'a-do'a anda.

Berkata ibu itu: Nak, anda ini adalah ibnu sabil yang sudah diwasiatkan Allah untuk dibantu. Sedangkan do'a-do'a saya sudah dijawab Allah semuanya, kecuali satu.

Bertanya Dr. Ishan: Apa itu doanya?
Ibu itu berkata: Anak ini adalah cucu saya, dia yatim piatu. Dia menderita sakit yang tdk bisa disembuhkan oleh dokter-dokter di sini. Mereka berkata kepada saya ada seorang dokter ahli bedah yang akan mampu menyembuhkannya, katanya namanya Dr. Ishan, akan tetapi dia tinggal jauh dari sini, yang tidak memungkinkan saya membawa anak ini ke sana, dan saya khawatir terjadi apa-apa di jalan. Makanya saya berdo'a kpd Allah agar memudahkannya.

Menangislah Dr. Ishan dan berkata sambil terisak: Allahu Akbar, Laa haula wala quwwata illa billah. Demi Allah, sungguh do'a ibu telah membuat pesawat rusak dan harus diperbaiki lama serta membuat hujan petir dan menyesatkan kami, hanya untuk mengantarkan saya ke ibu secara cepat dan tepat. Sayalah Dr. Ishan, Bu, sungguh Allah swt telah menciptakan sebab seperti ini kepada hambaNya yang mukmin dengan do'a. Ini adalah perintah Allah kpd saya utk mengobati anak ini.

Sooo, Sobat Blog Hot Motivasi... Jangan pernah berhenti berdo'a sampai Allah menjawabnya. Oke. ^_^
Baca SelengkapnyaDahsyatnya Doa Ibu Hingga Mengantarkan Dokter Spesialis

Bergeraklah, Sekalipun Kau Ada di Ruang Tunggu

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

 Bila mengalir jernih, airnya, jika tidak kan keruh menggenang

 Dua baris kalimat di atas merupakan penggalan dari syair karangan Imam Syafi’i yang bercerita tentang keutamaan merantau. Namun, tulisan ini tidak akan membahas tentang hal tersebut. Merantau, pada dasarnya adalah berpindah dari daerah asalnya menuju satu tempat baru. Ada gerakan di dalamnya, yakni gerak berpindah. Nah, tulisan ini akan membahas tentang pentingnya bergerak melakukan sebuah kegiatan positif dibandingkan diam di tempat. 


Di antara teman-teman, adakah yang saat ini sedang terperangkap di ruang tunggu? Mungkin karena sedang menanti pengumuman kelulusan sekolah, menanti diterima kerja, menanti dilamar ataupun penantian lain.

 

Menanti sesuatu memang terkadang membosankan. Terlebih jika kita tidak tahu “kapan” waktunya kita (misalnya dalam menanti jodoh). Namun, terkadang, karena kita terlalu fokus dengan apa yang kita tunggu, kita justru melupakan apa-apa yang bisa kita lakukan di ruang tunggu. Kita terbiasa hanya diam, pasif, padahal diam adalah sumber keruhnya pikiran. Sering kita justru menjadi malas-malasan dan tidak produktif saat pikiran kita hanya dipenuhi pertanyaan “Kapan yang kita tunggu tiba?” 


Cobalah kita ambil hikmah dari sebuah fenomena alam di wilayah Palestina. Ada dua laut di sana, yang mana memiliki sifat dan karakteristik berbeda. Laut pertama bernama laut Galilea, merupakan sebuah laut jernih dan bisa diminum airnya. Manusia maupun ikan bisa berenang di sana. Ladang dan perkebunan hijau pun mengelilingi laut tersebut. Banyak orang mendirikan rumah di sekitarnya.


Laut kedua bernama Laut Mati. Sesuai namanya, segala sesuatu yang ada di dalamnya mati. Airnya sangat asin, sehingga manusia bisa sakit jika meminumnya. Dalam laut itu, tak ada ikan dan tak ada sesuatupun yang bisa tumbuh di tepiannya. Tak satupun orang ingin bertempat tinggal di sekitarnya, karena baunya sangat tidak sedap.


Yang menarik dari kedua laut itu adalah adanya satu sungai yang mengaliri keduanya. Namanya sungai Jordan. Namun, mengapa sifat dan karakteristik kedua laut tersebut bisa berbeda walau dialiri sungai yang sama?


Perbedaannya adalah, Laut Galilea menerima aliran air dari sungai Jordan lantas mengalirkannya lagi ke arah lain. Sementara, Laut Mati hanya menampung air dari sungai dan tidak mengalirkannya. 


Sungai Jordan mengalir ke Laut Galilea dan mengalir keluar dari dasar laut tersebut. Laut itu memanfaatkan air sungai Jordan kemudian meneruskan ke laut lain yang juga memanfaatkannya. Sungai Jordan kemudian mengalir ke Laut Mati, tetapi airnya tak pernah keluar lagi. Laut Mati menyimpan air Jordan itu untuk dirinya sendiri, dan itulah yang membuatnya mati.


Nah, jika kita kembali pada permasalahan tentang penantian, kita bisa umpamakan, aliran sungai Jordan sebagai aliran waktu, dan kitalah lautnya. Ada dua pilihan yang bisa kita ambil. Apakah kita memanfaatkan aliran “waktu”, atau justru diam, hingga kita mati.


Coba sejenak amati keadaan orang-orang di ruang tunggu. Entah itu di stasiun, kantor pos, ataupun situasi dan tempat yang lain. Kira-kira, apa yang mereka lakukan? Ah, bahkan tak perlu jauh-jauh mengamati orang lain, kita cukup menilik diri sendiri, apa yang biasa kita lakukan dalam situasi di ruang tunggu?


Apakah kita temui diri sebagai seseorang yang terus menerus melirik meja pelayanan dan layar penunjuk nomor antrian? Adakah kita termasuk dalam orang-orang yang terus mengubah posisi, diam sejenak lantas berdiri lalu duduk lagi, terlihat gelisah dan seringkali melihat ke jam tangan? Atau kita termasuk yang sering mengomel “Lama banget sih…”


Sekarang, kita beralih pada ruang tunggu yang lebih tak pasti. Saat menjadi jobseeker, atau saat mengikhtiarkan jodoh. Dua peristiwa yang kita tidak bisa tahu pasti kapan waktunya kita. Apa yang kita lakukan pada saat-saat itu? Terutama saat penolakan demi penolakan tiba? Terutama saat orang-orang sekitar sudah mulai meninggalkan ruang tunggunya masing-masing?


Adakah kita termasuk yang terus mengeluh, galau, gelisah, dan terus mempertanyakan “Kenapa saya yang harus menanti sedemikian lama?” 


Jika iya, maka kita sudah menjelma menjadi Laut Mati. Kita hanya membiarkan aliran waktu itu menumpuk di kepala kita, tanpa dimanfaatkan. Kita telah menjelma menjadi air yang menggenang. Patutlah jika lantas pikiran kita keruh, serasa ingin terus marah, gelisah, ketika giliran kita belum juga tiba.


Namun, alangkah leganya jika ternyata kita menemui diri ini sebagai orang-orang yang tetap tenang di ruang tunggu, mungkin memanfaatkan aliran waktu dengan membaca koran, buku atau lebih menenangkan lagi jika langsung memegang Al Qur’an untuk tilawah. Lalu, seperti Laut Galilea, kita mengalokasikan aliran waktu untuk orang lain. Di ruang tunggu, tanpa sengaja lensa mata menangkap adanya seorang Bapak yang kesulitan mengisi formulir karena kacamatanya tertinggal, lantas kita menawarkan untuk membantu. Alangkah jauh lebih menentramkan.


Alangkah leganya ketika kita mendapati diri sebagai mereka tetap tenang meski didera badai ketidakpastian. Tidak termenung dan mudah bangkit jika yang ada adalah penolakan. Terus mengupayakan agar aliran waktu yang diterima bermanfaat, meniru Laut Galilea. Mungkin, sembari menanti datangnya jodoh, atau datangnya tawaran kerja, kita bisa memberikan waktu kita untuk lebih memperhatikan orang tua, memberikan waktu kita untuk menulis, belajar, membaca, berbisnis, atau bahkan yang lebih mulia, bekerja untuk kepentingan umat, misal melalui organisasi kemasyarakatan. Alangkah lebih menentramkan, alangkah lebih menjernihkan batin dan pikiran.


Jadi, kesimpulannya, tetaplah bergerak walau engkau sedang di ruang tunggu. Sebab bergerak akan membuat kita lebih jernih. Sebab diam menggenang mengeruhkan pikir. Mengalirlah dengan penuh manfaat! Kemudian tanpa terasa, tiba-tiba nama kita telah dipanggil, bahwa giliran kita sudah tiba. Dan masa menanti kita, telah dipenuhi oleh hal-hal yang bermanfaat. Bukan sekedar diam. Inilah yang dimaksud “Bersabarlah kamu dengan sabar yang baik.” Sabar yang aktif, bukan sabar yang pasif. Nah, sekarang, sudah siapkah kita untuk terus bergerak?


NB: Referensi tentang fenomena Laut Galilea dan Laut Mati diambil dari buku “Sesegar Telaga Kautsar” karya DR. Ahmad Hatta, PhD


Hanifati Nur Shabrina,


Sumber: http://annida-online.com/artikel-9097-bergeraklah-meski-kau-ada-di-ruang-tunggu.html


Terus Baca Kisah Motivasi lainnya disini. 

Baca SelengkapnyaBergeraklah, Sekalipun Kau Ada di Ruang Tunggu

Kisah Anak Burung Gagak, Bukti Allah Maha Pemberi Rezeki


Seorang ulama menceritakan kepadaku tentang doa yang selalu ia lantunkan. Ia selalu mengucapkan doa seperti ini:

( اللهم ارزقنا كما ترزق البغاث)
"Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats."

Apakah "bughats" itu? Dan bagaimana kisahnya?

"Bughats" adalah anak burung gagak yang baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yang disebut "bughats". Ketika sudah besar dia menjadi gagak (gurab). Apa perbedaan antara bughats dan gurab?

Telah terbukti secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih. Di saat induknya menyaksikannya, ia tidak terima itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu mengintainya dari kejauhan saja.

Anak burung kecil malang yang baru keluar dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang. Lalu bagaimana ia makan dan minum?

Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya. Allah menciptakan AROMA tertentu yang keluar dari tubuh ank gagak yang dapat mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Lalu berbagai macam ulat dan serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak, dan ia pun memakannya. Subhanallah...

Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh.

Ketika itu barulah gagak mengetahui itu adalah anaknya dan ia pun mau memberi makannya sampai tumbuh dewasa dan bisa terbang mencari makan sendiri. Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuhnyapun hilang & serangga-serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Dia-lah Allah, Yang Maha Pemberi Rezeki...

"Kamilah yang membagi-bagikan penghidupan di antara mereka dalam kehidupan di dunia ini." (QS. Az-Zukhruf:32)

 
sumber: fanpage Ust SHL 
Terus Baca Kisah Motivasi lainnya disini.
Baca SelengkapnyaKisah Anak Burung Gagak, Bukti Allah Maha Pemberi Rezeki

Hancur Karena Hal Sepele


Annie Taylor tercatat menjadi orang pertama yang terjun dari air terjun Niagara. Namun namanya kalah populer dengan Bobby Leach, padahal pria ini baru terjun di tahun 1911 setelah Annie. 

Saat Bobby Leach terjun bebas dari air terjun Niagara dengan pelindung karet seadanya,  Ia hanya terluka ringan di bagian lutut serta rahangnya. Setelah itu, ia menjadi terkenal. Bahkan, ia menjadi lebih terkenal dari Annie Taylor.

Di restorannya yang dibangun di Bridge Street, ia selalu sesumbar bahwa apapun yang dilakukan oleh Annie Taylor, ia bisa melakukannya lebih baik.

Ironis, beberapa tahun kemudian, Bobby Leach diberitakan meninggal. Penyebabnya, sangat sepele! Dalam turnya di Selandia Baru, ia terpeleset kulit jeruk lalu ia terjatuh kemudian mengalami infeksi. Dan akibatnya, kakinya harus diamputasi dan diapun meninggal di rumah sakit beberapa bulan kemudian. 

Tragis! Itulah kesimpulannya. Orang yang berani menerjang bahaya terjun dari salah satu air terjun tertinggi di dunia, mati gara-gara hal yang sepele: kulit jeruk. 

Sebuah pembelajaran penting bagi kita semua, Sob. Ketika sukses, nggak usahlah sombong. Dan kedua, kehancuran kita, baik reputasi, karir, kesuksesan, kadang-kadang bisa disebabkan oleh hal yang sepele. Karena itu, waspadai pula dengan hal-hal kecil yang kadang bisa menghancurkan kita, seperti: kebiasaan, pertemanan, sikap buruk, sopan santun, kata-kata serta tindakan kita. Okeee? ^_^
Sumber: apakabardunia.com
Terus Baca Kisah Motivasi lainnya disini.
Baca SelengkapnyaHancur Karena Hal Sepele