Sabtu, 09 Agustus 2014

Kisah Tukang Tambal Ban dan Pedagang Susu yang Kalahkan Insinyur Lulusan Oxford

Kisah Tukang Tambal Ban dan Pedagang Susu yang Kalahkan Insinyur Lulusan Oxford
Arfi an Fuadi dan M. Arie Kurniawan, kakak beradik lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) bisa mengalahkan insinyur lulusan University of Oxford
Kakak beradik asal Salatiga, Arfian Fuadi (28) dan Arie Kurniawan (23), sukses menyabet juara pertama dalam "3D Printing Challenge" yang diadakan General Electric (GE) tahun ini. Hebatnya, mereka mengalahkan para insinyur lulusan universitas top di dunia. Yang semakin membanggakan, Arfian dan Arie hanya lulusan SMA, yaitu SMA Negeri 7 Semarang dan SMK Negeri 2 Salatiga, Jawa Tengah.

Apa yang dicapai Arfian dan Arie dalam kancah internasional tidak terjadi tiba-tiba. Sebelum berkecimpung di dunia desain engineering  mereka adalah pedagang susu dan tukang tambal ban. 
Kehidupan ekonomi  keluarga yang tidak mencukupi membuat mereka harus bekerja apa saja untuk mendapatkan penghasilan.  

“Rumah sudah hampir rubuh jadi kita butuh kerjaan. Dari kecil memang kita diwajibkan berwirausaha, bahkan pernah jualan susu, pernah juga jadi tukang tambal ban,” kata Arie kepadakompas.com. 
Lucunya, kalau lah boleh dibilang begitu, baik Arfian dan Arie tak memiliki latar belakang akademis di dunia desain engineering. Arfian yang lahir pada 2 Juli 1986 lulusan SMA, sedang Arie yang lahir pada 11 Juli 1991 lulusan SMK jurusan otomotif.

Arfian lah yang pertama-tama tertarik dengan dunia ini. Ia semata-mata hobi, belajar sendiri dengan meminjam komputer milik sepupunya. Komputer adalah barang yang amat mewah yang tidak mungkin mereka miliki. 
“Dulu ketika masih sekolah, sering pinjam komputer sepupu untuk belajar. Tapi minjem-nya kalau sepupu sudah tidur,” kata dia. 
 
Arie mengenal desain engineering dari kakaknya. Arie mengaku secara akademis dirinya tidak cemerlang di bangku sekolah. Ia mengalami kesulitan memahami setiap pelajaran. Kata dia, materi pelajaran di sekolah kebanyak disampaikan dalam bentuk teori tanpa praktik. Siswa di kelas hanya membayangakan apa yang diajarkan oleh guru.

Sumber: http://www.tribunnews.com/regional/2014/07/29/kisah-tukang-tambal-ban-dan-pedagang-susu-yang-kalahkan-insinyur-lulusan-oxford
Baca Selengkapnya → Kisah Tukang Tambal Ban dan Pedagang Susu yang Kalahkan Insinyur Lulusan Oxford

Kamis, 07 Agustus 2014

Berharap Ada Perwira Indonesia Tampil di Jalur Gaza

ORANG PENTING: Rais Abin di kantor pusat LVRI, lantai 11 Plaza Semanggi, Jakarta. Foto: Bayu Putra/Jawa Pos
ORANG PENTING: Rais Abin di kantor pusat LVRI, lantai 11 Plaza Semanggi, Jakarta. Foto: Bayu Putra/Jawa Pos

KONFLIK di Jalur Gaza antara Palestina dan Israel mengingatkan Letjen (pur) Rais Abin pada peristiwa 36 tahun silam. Saat itu dia dipercaya sebagai panglima pasukan perdamaian PBB. Kiprahnya ikut mendamaikan Mesir dan Israel membuahkan Perjanjian Camp David.

 PERISTIWA penandatanganan Perjanjian Camp David itu tidak bisa dilupakan Rais Abin. Perjanjian tersebut telah meredakan konflik antara Mesir dan Israel yang menduduki wilayah Gurun Sinai.
Perjanjian Camp David juga nyaris berdampak kepada perdamaian Israel-Palestina kalau saja presiden Mesir kala itu, Anwar Sadat, tidak terbunuh.

Saat ditemui di kantor pusat Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) di kawasan Semanggi, Jakarta, Selasa lalu (22/7), wajah Rais tampak berseri-seri. Dia selalu bersemangat setiap kali diminta bercerita tentang memori ketika memimpin pasukan perdamaian PBB di Gurun Sinai, Mesir.

Hingga saat ini Rais tercatat sebagai satu-satunya perwira militer Indonesia yang pernah memimpin pasukan perdamaian PBB. Apalagi, misi yang diemban sangat penting: mengawal perdamaian Mesir-Israel.
Ruang kerja Rais di lantai 11 Plaza Semanggi cukup lapang dan tidak banyak berisi perabotan. Selain meja kerja, tampak rak kayu untuk menyimpan kenang-kenangan penghargaan yang pernah diraihnya. Ada pula bendera LVRI, meja rapat, dan sofa untuk menerima tamu.

Saat ini Rais menjabat ketua umum Dewan Pimpinan Pusat LVRI. Di usianya yang tahun ini akan mencapai 88 tahun, Rais masih terlihat prima. Hanya keriput di wajah dan tangannya yang tidak bisa ditutupi bahwa pejuang kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, itu sudah lanjut usia.

Rais mengharumkan nama Indonesia di kancah politik keamanan internasional saat terlibat dalam pasukan perdamaian PBB di Gurun Sinai pada 1976–1979. Dia dipercaya PBB sebagai panglima pasukan perdamaian yang mengomandoi 6.000 tentara dari tujuh negara perwakilan lima benua.

Selain tentara Indonesia, ada yang dari Polandia, Swedia, Finlandia, Kanada, Australia, dan dua negara Afrika (Senegal dan Ghana). Kiprah Rais dalam pasukan perdamaian itu dimulai saat dia bermain tenis dengan koleganya, Pangdam Siliwangi Mayjen Himawan Soetanto. Kala itu Rais masih menjabat wakil komandan Seskoad berpangkat brigjen.

Rais menuturkan, di tengah permainan itu mendadak Himawan harus menerima telepon dari Mabes ABRI (kini TNI). Tidak lama kemudian, telepon diberikan ke Rais. Rupanya, yang menelepon adalah Asisten Pembinaan Personel ABRI Susilo Sudarman. ”Saya diminta menjadi kepala staf UNEF (United Nation Emergency Force) di Gurun Sinai,” tuturnya.

Alumnus Seskoad Bandung dan Australia itu pun tidak kuasa menolak perintah tersebut karena penunjukan itu tidak bernada perintah, melainkan meminta tolong. Usut punya usut, ternyata Himawan yang merekomendasikan Rais kepada Susilo Sudarman saat menerima telepon. ”Kalau diingat itu kayak joke saja,” ujarnya seraya tertawa.

Rais pun berangkat ke Sinai pada 28 Desember 1975 dan memulai tugas awal Januari 1976 pada misi UNEF II. Karena kiprahnya yang dinilai baik dan mendapat persetujuan dari seluruh anggota Dewan Keamanan PBB, setahun kemudian Rais ditunjuk sebagai panglima UNEF II dengan pangkat mayjen atau bintang dua.

Dia menggantikan Letjen Bengt Liljenstrand asal Swedia yang mengundurkan diri pada 1 Desember 1976. Penunjukan Rais dilakukan lewat surat kawat pribadi dari Sekjen PBB kala itu, Kurt Waldheim. Tugas Rais adalah mendamaikan Mesir dan Israel yang bertikai gara-gara pendudukan Israel atas Gurun Sinai yang merupakan bagian teritori Mesir.

Bukan hal mudah untuk mendamaikan kedua negara yang sama-sama mengklaim Sinai sebagai bagian wilayahnya. Apalagi, posisi Rais saat itu tergolong sulit. Sebab, dia adalah warga negara Indonesia, dan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Dengan susah payah, akhirnya Rais berhasil menemui Menteri Pertahanan Israel Shimon Peres. Peres kemudian menjadi presiden Israel hingga Kamis lalu (24/7) mengundurkan diri dari jabatannya itu di usia 90 tahun.

Persoalan belum berhenti sampai di situ. Menurut purnawirawan kelahiran 15 Agustus 1926 tersebut, meyakinkan pihak Mesir juga sulit. Blokade-blokade oleh tentara Mesir membuat dia dan pasukannya tidak bisa leluasa bergerak.

Mantan Dubes RI di Malaysia dan Singapura itu akhirnya menemui panglima militer Mesir untuk meminta keleluasaan bergerak. Rais mengancam akan mundur dari Sinai jika aktivitas pasukannya dipersulit.
Setelah blokade-blokade dibuka, Rais pun berkali-kali mengundang kedua pihak untuk berunding di markas UNEF di Sinai. ”Tiap dua minggu sekali saya adakan rapat dan selalu di situ (Sinai) karena Sinai merupakan wilayah PBB,” tutur bapak 3 putra, kakek 7 cucu, dan buyut 3 cicit itu.

Setelah Rais beberapa kali memfasilitasi pertemuan antara kedua pihak, tanda-tanda perdamaian mulai muncul. Lalu, dibuatlah konsep perjanjian damai yang akhirnya dinamai Camp David. Perjanjian tersebut sebenarnya memiliki benang merah dengan Palestina.

Ada dua kerangka perjanjian yang disusun. Kerangka pertama berkaitan dengan perdamaian di Timur Tengah, dalam hal ini penarikan mundur pasukan Israel dari Gaza dan Tepi Barat serta melarang pendirian permukiman baru Yahudi. Kerangka kedua berhubungan dengan perdamaian antara Mesir dan Israel. Pada akhirnya, hanya kerangka kedua yang ditandatangani.

Menjadi panglima pasukan perdamaian PBB membuat Rais dikenal banyak pemimpin dunia. Dia cukup akrab dengan Anwar Sadat dan pemimpin PLO Palestina Yasser Arafat.

Sebagai pejabat teras di PBB, dia bisa berkomunikasi langsung dengan Kurt Waldheim yang menjadi Sekjen PBB saat itu. Selama masa perundingan Mesir dan Israel, Gurun Sinai menjadi wilayah kekuasaan Rais.
Suami Dewi Asiah itu menuturkan, pada 1981 Anwar Sadat tewas karena dibunuh rakyatnya yang tidak setuju atas kunjungan Sadat ke Jerusalem. Itulah hal yang sangat disayangkan Rais. ”Sadat saat itu sedang berupaya untuk mengembalikan kedaulatan Palestina sesuai Resolusi PBB No 242 Tahun 1967,” tuturnya.
Kala itu Sadat merupakan satu-satunya pemimpin negara di Timur Tengah yang suaranya didengar Israel dan Amerika Serikat. Munculnya Resolusi 242 yang mewajibkan penarikan pasukan Israel dan mengatur batas antara Israel-Palestina juga tidak lepas dari lobi yang dilakukan Sadat.

Penerus Sadat, Husni Mubarak, ternyata tidak bisa tegas memperjuangkan resolusi tersebut. Penjajahan atas Palestina pun terus berlangsung sampai sekarang dengan kekuatan yang tidak sebanding. Menurut Rais, sebenarnya roket-roket pejuang Palestina tidak memberikan dampak apa pun kepada Israel selain perasaan risi.

Keberadaan Hamas dengan pasukannya, Brigade Izzudin Al Qassam, juga tidak lepas dari perang enam hari pada 1967. Gaza saat itu adalah tempat penampungan yang disediakan PBB bagi para pengungsi palestina yang terusir dari tanah airnya. Maka, tidak heran jika saat ini Hamas sangat membenci Israel.
Bagi Rais, untuk mengembalikan kedamaian di bumi Palestina, hanya ada satu solusi. ”Kembalikan batas negara sesuai Resolusi 242. Kalau tidak, konflik ini tidak akan pernah berakhir,” ucapnya. Resolusi 242 mengatur batas kedua negara, Israel di utara dan Palestina di selatan.

Karena itu, dia mengharapkan presiden Indonesia punya keberanian untuk mengungkit kembali resolusi tersebut di hadapan Sekjen PBB Ban Ki-moon. Perhatian Indonesia ke Palestina saat ini sudah cukup baik, namun akan lebih signifikan dampaknya jika bisa membuat PBB membahas lagi Resolusi 242.

Di luar kiprahnya sebagai panglima pasukan perdamaian, Rais punya peran penting di masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Kala itu Rais muda menjadi bagian Tentara Keamanan Rakyat yang menghadapi upaya agresi Belanda. Dia dan beberapa rekannya ditugasi menyuplai senjata untuk tentara maupun pejuang rakyat.

Dia diminta untuk menyelundupkan senjata dari Tumasek (Singapura). Untuk menyelundupkan senjata tersebut tanpa ketahuan Belanda, Rais dkk mengambil jalur laut. ”Kami berangkat dari Tegal (Jateng) menggunakan perahu yang panjangnya hanya 5 meter,” kenangnya.

Pilihan itu terpaksa diambil demi keselamatan. Saat itu Laut Jawa dikuasai armada AL Belanda. Jika nekat menggunakan kapal besar, sudah pasti mereka akan diserang. Upaya mereka tidak sia-sia karena berhasil menuntaskan misi tersebut.

Di usianya yang hampir satu abad, Rais kini menikmati kesibukannya di LVRI. Saat ditanya apa kunci kebugarannya, dia menjawab kesehatan fisik dan pikiran. ”Saya tidak punya ambisi, tidak ingin tenar,” ujarnya.

Bahkan, Rais mengaku tidak memiliki rumah di Indonesia. Ya, rumah yang saat ini ditempati Rais di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, adalah rumah milik istrinya. Rumah tersebut merupakan warisan mertua Rais. Satu-satunya rumah milik Rais berada di Sinai. Rumah tersebut merupakan pemberian PBB sebagai fasilitas jabatannya menjadi panglima pasukan perdamaian.

Satu hal yang masih menjadi keinginan Rais adalah melihat perwira TNI generasi sekarang menjabat panglima pasukan perdamaian PBB seperti dirinya. ”Kita punya banyak perwira hebat, saya yakin kita bisa punya peran yang lebih besar dalam perdamaian,” tandasnya
Baca Selengkapnya → Berharap Ada Perwira Indonesia Tampil di Jalur Gaza

Bagus Nugroho, Peneliti Indonesia untuk Ekspedisi Mars Lembaga Antariksa Jepang

ASET INDONESIA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) menyalami Bagus Nugroho dalam sebuah acara. Foto: Bagus Nugroho for Jawa Pos
ASET INDONESIA: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) menyalami Bagus Nugroho dalam sebuah acara. Foto: Bagus Nugroho for Jawa Pos
SEMAKIN banyak anak muda Indonesia yang go international. Yang terbaru adalah Bagus Nugroho yang terpilih sebagai salah seorang peneliti untuk program misi Lembaga Penelitian Antariksa Jepang (JAXA) menuju planet Mars. Namun, keahliannya belum bisa dimanfaatkan di tanah air sendiri.
 
 INFORMASI adanya mahasiswa Indonesia yang terpilih sebagai peneliti intern di JAXA muncul di salah satu situs berita Australia. Saat Jawa Pos mengirimkan draf wawancara via e-mail, Bagus Nugroho, anak muda yang masih berkuliah S-3 di Melbourne University Australia itu, tengah berada di Jepang. Dia sedang menjalankan tugasnya sebagai salah seorang peneliti JAXA untuk ekspedisi planet Mars.

”Saya merasa beruntung bisa terlibat di proyek ini. Karena saya apply (melamar, Red) di hari terakhir batas pengumpulan aplikasi,” ujar Bagus menjawab pertanyaan Jawa Pos awal pekan lalu. Keterlibatan Bagus dalam proyek itu terjadi secara tidak sengaja. Sebab, awalnya dia hanya iseng membuka web JAXA saat sedang memikirkan tesis yang di-submit pada Agustus nanti.

"Di web JAXA itulah saya membaca bahwa mereka sedang membuka lamaran bagi peneliti untuk ekspedisi planet Mars,” ungkapnya.

Sekitar tiga bulan setelah Bagus mengirimkan aplikasi, JAXA membalas dengan sejumlah pertanyaan. Mereka ingin mengetahui sosok Bagus secara lebih detail. Sebulan kemudian JAXA memberi tahu bahwa Bagus diterima sebagai peneliti intern selama satu bulan di Jepang.

”Saingan saya waktu itu ada puluhan dari berbagai institusi dunia. Tapi, JAXA hanya menerima dua orang. Selain saya, ada mahasiswa dari salah satu universitas elite di Prancis,” ujar calon doktor bidang mekanika fluida tersebut.

Misi Jepang ke Mars pada 2020, jelas Bagus, adalah misi mahapenting. JAXA berencana mengirimkan robot atau probe untuk meneliti planet itu. Mereka ingin mengetahui tanda-tanda kehidupan di sana.
”Eksperimen yang saya kerjakan adalah menyelidiki parasut supersonik mereka yang akan digunakan pada misi ke Mars,” terang pria 31 tahun tersebut.

Parasut itu, jelas Bagus, harus dapat menahan robot pada saat memasuki atmosfer Mars. ”Robot akan masuk di atmosfer Mars dengan kecepatan sangat tinggi dan parasut akan membantu mendaratkannya dengan aman di permukaan Mars,” papar ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia 2012–2013 itu.
Bagus sudah sekitar satu minggu berada di JAXA saat wawancara tersebut dilakukan. Dia menyatakan, banyak eksperimen yang sudah dilakukan. Fokus tugasnya ada pada pekerjaan menggunakan wind tunnel atau terowongan angin serta berbagai model parasut yang dikembangkan.

Dia dibimbing ilmuwan Jepang, salah satunya guru besar Universitas Tokyo. Tugas Bagus menganalisis data setiap eksperimen. ”Kurang lebih ada 60 eksperimen yang saya kerjakan selama di Jepang,” kata dia.
Bagi Bagus, riset di sebuah fasilitas terowongan angin bukan hal yang baru. Di kampusnya, Melbourne University, terdapat terowongan angin boundary layer (subsonik) terbesar dan terbaik di dunia.

”Eksperimen saya di kampus menggunakan terowongan subsonik, sementara bekerja di terowongan supersonik seperti di Jepang ini adalah pengalaman baru,” ujarnya.

Terowongan angin supersonic milik JAXA, kata Bagus, merupakan salah satu yang paling impresif yang pernah dilihatnya. Fasilitasnya luar biasa besar karena berada di dalam gedung seluas lapangan sepak bola dengan ketinggian ruangan hampir 30 meter. JAXA juga memiliki fasilitas komputer serta sistem akuisisi paling modern yang pernah dilihatnya.

’’Ruangannya sangat bersih dan steril. Bahkan, di ruang kontrol, sepatu dilarang masuk,’’ bebernya. Bagus menggambarkan, ruang kontrol terowongan angin JAXA mirip ruang kontrol pesawat antariksa seperti yang terlihat dalam film-film Hollywood.

Apresiasi peneliti JAXA terhadap Bagus sangat tinggi. Dia menuturkan, setiap hari sebelum pulang, dirinya wajib menyelesaikan analisis eksperimen pada hari itu dan diberikan kepada mentornya. Selain itu, Bagus dibebaskan untuk memodifikasi atau mengembangkan lebih jauh eksperimen yang sudah dikerjakan ilmuwan di JAXA.

’’Mereka sangat menghargai input orang lain. Terutama dari orang baru karena akan memberikan perspektif baru dan segar. Mereka sangat butuh sudut pandang lain yang dapat menambah pengetahuan dan menyelesaikan eksperimen dengan cepat serta tepat,’’ jelasnya.

Menurut Bagus, perhatian pemerintah Jepang terhadap JAXA dalam hal penyediaan peralatan dan berbagai macam eksperimen sangat tinggi. Itu belum termasuk fasilitas peluncuran satelit mereka yang hanya bisa disaingi negara-negara besar seperti Rusia, AS, Tiongkok, dan Uni Eropa.

Bagus mengaku terkesan atas kedisiplinan, kerja sama, serta rasa hormat setiap personel di JAXA terhadap setiap riset. Personel yang dimaksud bukan hanya para profesor, peneliti, maupun mekanik, tetapi juga para petugas cleaning service mereka.

Setiap pagi seluruh personel di JAXA tanpa kecuali bertemu untuk melakukan rapat. Mereka membahas hasil eksperimen sebelumnya dan apa yang akan dilakukan hari itu.

’’Walau cleaning service, dia tetap berhak memberikan pendapat serta berbicara tentang hasil eksperimen kemarin. Semua harus mengerti apa yang telah terjadi kemarin dan apa yang akan terjadi hari ini,’’ ujar kontributor untuk majalah Angkasa itu.

Latar belakang Bagus terbilang komplet. Saat masih mengenyam pendidikan S-1 di Australia, dia berkesempatan menjadi peneliti intern di sejumlah perusahaan/badan usaha di Indonesia. Di antaranya, di Daimler Mercedes-Benz, PT Dirgantara Indonesia (DI), dan PT Garuda Maintenance Facility (GMF).
Saat di DI, Bagus mengaku membantu insinyur senior menyelidiki performa CN 235 NG. Ketika di GMF, dia membantu tugas harian insinyur, dalam hal ini membuat program komputer sederhana untuk mendukung kerja harian mereka.

’’Kebetulan, di dua penelitian internal itu, minat saya di bidang aerospace,’’ ucap lulusan S-1 bidang fisika dan mekanika University of Melbourne tersebut.

Prestasi dan nilai akademik istimewa yang didapat Bagus di jenjang S-1 membuat dirinya mendapat izin untuk langsung mengambil kuliah S-3, tanpa harus mengenyam pendidikan S-2 terlebih dahulu. Pemerintah Australia juga mengeluarkan program untuk kampus di Melbourne bahwa mahasiswa S-3 bidang sains, teknik, dan kedokteran dibekali kemampuan berbisnis dengan mengambil program pascasarjana sampingan di Melbourne Business School.

’’Saya ambillah program itu karena mereka memberikan uang tambahan untuk biaya hidup, biaya konferensi atau riset USD 10.000,’’ ujar Bagus.

Karena itu, selama kuliah S-3 Bagus juga nyambi kuliah di kelas bisnis tiga kali seminggu selama setahun. Uang tambahan yang dia peroleh juga digunakan untuk sekolah yang lain. Dia tercatat sebagai lulusan pascasarjana bidang nano teknologi di Universitas Oxford, Inggris. Kuliah di Oxford dilakukan secara online, hanya sesekali dia harus terbang ke Inggris untuk mengambil kelas langsung.

’’Kuliah itu penting karena mengajar saya pengetahuan dari segi scientific, ekonomi, etika, dan kebijakan pemerintah di bidang nano teknologi,’’ ujar pemuda asal Jogjakarta itu.

Meski punya keahlian di bidang ilmu langka, Bagus kesulitan menerapkan di Indonesia. Pasalnya, perusahaan-perusahaan yang dilamarnya tidak pernah mau memanfaatkan keahlian Bagus.

’’Aplikasi saya ditolak semua karena tidak sesuai dengan yang mereka cari. Kenyataannya memang susah untuk orang seperti saya bekerja di Indonesia dengan latar belakang keilmuan saya,’’ imbuhnya.
Bagus mengaku agak sedih dengan kenyataan itu. Sebab, di Australia, latar belakang pendidikan Bagus benar-benar dicari. Tahun lalu Bagus pernah ditawari untuk bekerja di badan riset Departemen Pertahanan Australia.

’’Namun, karena berbagai pertimbangan, saya urung untuk apply. Terutama karena syaratnya harus menjadi warga negara Australia. Jujur saja, godaannya sangat banyak,’’ tuturnya.

Godaan itu, misalnya, Dephan Australia menawari Bagus bekerja dalam tim yang mendesain kapal selam militer masa depan mereka. Program tersebut sungguh menantang bagi peneliti pemula seperti dia. Apalagi, gaji yang dijanjikan menggiurkan. Baru masuk menjadi ’’PNS’’ di Dephan Australia, gajinya sudah sekitar Rp 50 juta. ’’Itu belum termasuk tunjangan dan benefit lain,’’ ujar Bagus.

Bagus kini mengerti mengapa banyak orang bilang: seorang yang memiliki latar belakang scientific tertentu susah bekerja di Indonesia. Pengalamannya menunjukkan, saat ini baru Australia dan Jepang yang mengapresiasi latar belakang pendidikan itu.

’’Saya tentu saja ingin kembali ke Indonesia, berbuat lebih. Namun, tampaknya saat ini belum bisa. Keadaan di Indonesia masih belum mengizinkan,’’ tuturnya.

Lajang yang tahun depan menikah itu mengatakan masih memiliki obsesi melanjutkan sekolah. Kali ini dia ingin mengambil master bidang kebijakan teknologi di Cambridge University. Reputasi Cambridge sebagai tempat lahir fisika klasik dan modern serta kampus dengan alumni penerima Nobel terbanyak membuat Bagus tertarik mencoba. Program yang akan dia ambil mengajarkan seseorang bagaimana membuat keputusan dengan menggabungkan teknologi, riset, manajemen, serta kebijakan.

’’Saya rasa ini program yang penting. Negara kita memiliki banyak ilmuwan pintar yang tersebar di berbagai negara. Apabila kita tidak bisa me-manage dan memiliki plan serta kebijakan yang baik, niscaya mereka akan enggan kembali pulang,” tandas dia

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2014/07/27/248656/Sebulan-Buat-60-Eksperimen-Daratkan-Robot-di-Mars-
Baca Selengkapnya → Bagus Nugroho, Peneliti Indonesia untuk Ekspedisi Mars Lembaga Antariksa Jepang

Tenggang Rasa Berbuah Panen Penghargaan


DEDIKASI TOTAL: May Ronald di Terminal Bungurasih. Sudah sepuluh kali dia tidak mudik Lebaran. Foto: Suryo Eko Prasetyo/Jawa Pos

DEDIKASI TOTAL: May Ronald di Terminal Bungurasih. Sudah sepuluh kali dia tidak mudik Lebaran. Foto: Suryo Eko Prasetyo/Jawa Pos

BANYAK pejabat tidak bisa berlebaran dengan layak karena tugas. Salah seorang yang tidak bisa kumpul keluarga adalah May Ronald. Kepala UPTD Terminal Purabaya itu harus turun langsung untuk mengawal kelancaran transportasi di terminal terbesar di Jatim tersebut.

JARUM jam di dinding ruangan siaran keberangkatan hampir mendekati pukul 24.00. Lalu-lalang penumpang dan bus yang datang dan yang berangkat menjelang Jumat (25/7) dini hari itu terlihat sambung-menyambung. Sambil membawa handy talkie (HT), May Ronald memonitor suasana jalur keberangkatan dari dalam pos siar yang dikelilingi kaca bening.

Sesekali Ronald keluar ruangan menuju selasar ruang tunggu penumpang bus antarkota di lantai 1 untuk mendapat udara segar.

’’Sampai pukul 22.00 pada H-4 Lebaran tahun ini (Kamis, 24 Juli 2014), jumlah penumpang datang maupun berangkat sedikitnya 62 ribu orang,’’ terang Ronald. Update data setiap saat dilakukan jajarannya. Selain dilaporkan ke kantor Dinas Perhubungan Surabaya, data tersebut menjadi acuan.

Jika mendekati angka 75 ribu penumpang, kecenderungannya terjadi kelangkaan armada bus antarkota. Apalagi, jika menembus 100 ribu penumpang, Terminal Purabaya akan menjadi seperti lautan manusia.
Keamanan dan kenyamanan pengguna jasa terminal seluas 12 hektare itu terancam terganggu. Kalau sudah begitu, atas izin Dishub dan Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Jatim, mereka mendapat lampu hijau mengoperasikan armada cadangan.

Menjaga keseimbangan antara jumlah permintaan dari penumpang berangkat dan ketersediaan bus menjadi seni tersendiri bagi Ronald. Selain mengelola aspek pelayanan kepada pengguna jasa terminal, pejabat yang membawahi sedikitnya 202 pegawai itu harus menjaga tiga aspek lain. Yakni, keamanan dan ketertiban, tata kelola terminal, serta target pendapatan untuk disetor ke kas Pemkot Surabaya.

Di terminal yang terletak di Bungurasih, Waru, tersebut, Ronald adalah personel UPTD terlama. Banyak rekan seangkatannya dari era dishub masih berupa Kantor Wilayah (Kanwil) Perhubungan Darat VIII Jatim-Bali (awal 1980-an) hingga Dinas LLAJ Jatim (era akhir 1980-an) yang pensiun. Arek Suroboyo kelahiran Kalianak, Asemrowo, yang baru genap 56 tahun pada 29 Mei 2014 lalu itu sejatinya sudah purnatugas.

’’Padahal, saya sudah melengkapi berkas pengunduran diri. Berkas saya ajukan mulai awal 2014 agar pas akhir Mei kemarin dipensiun,’’ ujar Ronald dengan pandangan menerawang.

Ronald bisa menunjukkan sepak terjang di Purabaya berkat berbagai penugasan sebagai abdi negara. Dia merintis karir dari staf urusan data penyeberangan kapal feri lalu lintas angkutan sungai danau dan penyeberangan kanwil pada 1982–1988.

Selama masa peralihan kanwil menjelang era otonomi daerah, Ronald ditarik sebagai staf DLLAJ Jatim. Setahun kemudian, dia dimutasi ke DLLAJ Jatim Cabang Probolinggo, tepatnya di Terminal Lama Bayuangga. Sejak itu, Ronald bergelut dengan urusan terminal.

’’Tugas saya sebagai staf ketika itu serabutan. Seringnya membantu menjaga pos-pos di terminal,’’ kenang suami Siti Aisyah, rekan sekantornya saat dinas di DLLAJ Jatim, itu.

Mulai mei 1990, dia dimutasi ke Cabang Lumajang. Kala itu Ronald ditempatkan sebagai staf jembatan timbang Klakah. Dunia baru dia lakoni ketika dimutasi lagi menjadi staf Tata Usaha DLLAJ Jatim Cabang Lumajang.

Prinsip di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung diterapkan Ronald untuk mempermudah adaptasi. Tidak sampai genap empat tahun sebagai staf TU, dia dimutasi kembali ke Surabaya. Tantangan mengawaki Terminal Purabaya yang pengoperasiannya baru diresmikan dirasakan Ronald pada 1991. Meski secara administratif berada di wilayah Pemkab Sidoarjo, terminal tipe A itu berada di bawah pengelolaan DLLAJ Jatim Cabang Wiyung.

’’Ketika itu saya menjadi anggota regu C yang berkekuatan sekitar 20 personel,’’ imbuhnya. Tugasnya lebih fokus ke operasional. Urusan terkait pendapatan dikelola dinas terminal.

Sebelum menjabat kepala UPTD Terminal Purabaya, alumnus SMA Frateran Surabaya itu berstatus staf di Bungurasih selama 15 tahun. Selama itu, lima periode kepala terminal silih berganti menjabat. Mulai Mulyono, Budi Utomo, Eddi (sekarang kepala Dishub Surabaya), Indera Gani (kepala UPTD Terminal Tambak Osowilangun), dan Eddi lagi (periode kedua).

Selama belasan tahun, anak sulung sembilan bersaudara tersebut dapat merampungkan pendidikan tinggi strata satu hingga strata dua. Sebelum itu, Ronald hanya mengenyam pendidikan sarjana muda Ekonomi Manajemen Universitas Surabaya.

Tugas menjaga pos dia manfaatkan untuk menyelesaikan skripsi ketika melanjutkan kuliah tiga tahun di Universitas Sunan Giri Surabaya hingga 2002. Tiga tahun berselang, dia menuntaskan pendidikan strata dua Manajemen Sumber Daya Manusia STIE Mahardika Surabaya. ’’Berkat menjaga pos bus kota dan pos taksi di bagian belakang (terminal sisi selatan), saya bisa menyelesaikan tugas-tugas kuliah,’’ ucapnya.

Berkat kinerja yang mumpuni, Ronald mendapat promosi fungsional dari staf biasa menjadi kepala sub pelaksana (Kasubpel) Regu C UPTD Terminal Purabaya. Setelah itu, Ronald dipromosikan menjadi Kasubpel pendapatan dan kepala UPTD menggantikan Eddi. Peningkatan karir setapak demi setapak itu Ronald akui diraih berkat didikan Sawir Adnan, sang ayah yang merupakan prajurit TNI-AL.

Juru mesin kapal perang keturunan Padang, Sumatera Barat, tersebut pernah bertugas di KRI Irian, KRI Sisingamangaraja, KRI Sawunggaling, dan KRI Pulau Aru. Berbagai negara di Eropa maupun Amerika pernah dijelajahi Sawir. Ketegasan dan kedisiplinan yang diterapkan orang tua membuat Ronald menjadi contoh sukses delapan adik-adiknya.

’’Contoh sederhana ajaran bapak saya, pakai segala baju harus dimasukkan. Rambut pantang panjang, apalagi sampai gondrong,’’ kenang bapak tiga anak dan dua cucu itu.

Nama May Ronald sendiri diberikan lantaran dia dilahirkan pada Mei. Kemudian, Sawir, ketika istrinya mengandung anak pertama, menggandrungi figur Ronald Reagan, aktor film koboi Amerika Serikat era 1950-an yang menjadi presiden AS 1981–1989.

Ronald memang punya garis keturunan Belanda dari neneknya. Sang ibu berasal dari Sangihe Talaud, Sulawesi Utara. ’’Istri saya asli Tulungagung. Kami keluarga Bineka Tunggal Ika,’’ seloroh Ronald.
Dipercayanya Ronald menjadi orang nomor satu di Purabaya sejak 28 Desember 2008 semula tidak dia duga. Ronald mendapat undangan Wali Kota Surabaya era Bambang D.H. untuk menyaksikan pelantikan pejabat eselon III dan IV di Graha Sawunggaling.

’’Begitu sampai lokasi, saya dibariskan dengan pejabat yang hendak dilantik di depan wali kota. Saya kaget dan tidak mengira jadi kepala UPT karena sebelumnya memang gak tahu,’’ ujarnya.

Selama hampir enam tahun memimpin Purabaya, berbagai apresiasi atau penghargaan dia sabet. Di antaranya, sertifikasi ISO 9001:2008, Unit Pelayanan Publik Predikat Baik dari Pemprov Jatim (2009 dan 2011), Plakat Terminal Terbaik (2011), gelar Lingkungan Kerja Aman dari Polres Sidoarjo (2012), serta Penyelenggara dan Kebersihan dari Kemenhub (2013).

’’Era kepemimpinan saya gak pernah studi banding. Justru pengelola terminal hampir se-Indonesia dan dari Timor Leste pada belajar ke Purabaya,’’ katanya dengan bangga.Hal itu diraih berkat tangan dingin Ronald melanjutkan estafet Eddi yang memang dikenal tegas. Selain tanpa kompromi, dia berupaya menegakkan aturan.

’’Prinsip saya tepa selira (tenggang rasa). Asal tidak mau dirusuhi (diganggu), ya jangan ngrusuni (mengganggu)’’ tutur Ronald. Di sisi lain, perpanjangan masa pensiun hingga 2016 saat dia berumur 58 tahun mendatang membuat momen Lebaran Ronald bersama keluarga di kampung halaman terancam sirna.

Dari 19 tahun bertugas di Purabaya, hampir 10 kali perayaan Idul Fitri tidak dapat Ronald rayakan bersama istri, anak-anak, cucu, serta keluarga besar mertuanya di Tulungagung. ’’Lebaran 2014 nanti yang ke-10 di Bungur. Harapan saya pribadi, akan ada penyegaran,’’ katanya.
Baca Selengkapnya → Tenggang Rasa Berbuah Panen Penghargaan

Rangsang Bahasa Asing Lewat Kafe Unik

DEDIKASI TINGGI: Dari kiri, Agus Saleh, Evan Patrick Philips, dan Evi Yulia berbincang di sela-sela melayani tamu di Cafe Inggris Pare. Foto: Dimas Alif/Jawa Pos
DEDIKASI TINGGI: Dari kiri, Agus Saleh, Evan Patrick Philips, dan Evi Yulia berbincang di sela-sela melayani tamu di Cafe Inggris Pare. Foto: Dimas Alif/Jawa Pos
BANYAK pengusaha kafe yang menyajikan suasana khas untuk menarik perhatian pengunjung. Agus Saleh, pengusaha Café Inggris Pare, juga melakukan itu. Tidak sekadar menarik minat, dia juga mengajari pengunjung kafenya.
 
 ANDA boleh beranggapan bahwa kafe di City of Tomorrow itu seperti tempat nongkrong lainnya. Penataan kursinya tidak menunjukkan keistimewaan khas. Minibar dan sejumlah mejanya pun lazimnya kafe ’’biasa’’.
Tapi, kalau Anda sudah bertemu dengan dua pelayan di kafe tersebut, Evan Patrick Philips dan Evi Yulia, pikiran Anda pasti berubah. Ini kafe spesial betul.

Evan adalah pemuda Amerika. Sedangkan Evi, warga Indonesia, fasih casciscus dalam bahasa asing. Selama melayani tamu, keduanya tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia. Selalu bahasa Inggris plus beberapa bahasa lainnya.

’’Sesuai namanya, kafe ini identik dengan bahasa asing,’’ ujar Evi. Konsep itu berlaku pula bagi pengunjung. Untuk memesan menu, mereka harus menggunakan bahasa Inggris.

Tanpa bahasa itu, dua orang tersebut tidak akan melayani. ’’Kami paksa mereka untuk berbicara dengan bahasa Inggris,’’ paparnya.

Itu dialami Hendry, warga Ketintang, yang mengunjungi kafe tersebut. Dia kaget ketika Evan menyajikan menu dengan bahasa Inggris. ’’Silakan pilih dan saya akan membantu Anda,’’ ucap pria 23 tahun itu dalam bahasa Inggris.

 Hendry yang merasa tidak percaya diri kelihatan kikuk. Dia bertanya dengan bahasa Indonesia tentang menu di kafe itu. Tapi Evan menolak. ’’No, no. You must speak in English,’’ ucapnya.

Pelan-pelan Evan mengajak Hendry berkomunikasi. Berawal dengan menanyakan nama, alamat, dan dengan siapa Hendry datang ke kafe tersebut. Awalnya, Hendry terlihat terpaksa. Dengan bahasa yang belepotan, Hendry mencoba menjawab pertanyaan Evan. Jika salah, Evan membenarkan kosakata yang diungkapkan Hendry secara telaten.

Tidak lama, Evan memperlihatkan buku menu yang dibawanya sejak tadi. Dia menunjukkan beberapa menu yang tercantum di buku itu. Komunikasi antara Hendry dan Evan pun terjalin. Hanya sesekali Hendry terlihat bingung karena ada kosakata yang belum dipahami.pPerlahan-lahan, Hendry melihat menu-menu khas kafe, seperti aneka sajian kopi, roti isi, kentang goreng, dan lain-lain.

Pada waktu yang hampir bersamaan, ada pengunjung lain yang masuk ke kafe itu. Dia warga Tionghoa. Sepertinya, perempuan bernama Mey Ling tersebut sudah terbiasa datang ke kafe itu. Begitu masuk, dia langsung menemui Evi.

’’Ni hao ma (apa kabar, Red)?’’ kata Mey Ling sambil menjabat tangan Evi. Dua perempuan itu lantas bercakap-cakap dalam bahasa Mandarin. Suasana interaksi dengan berbagai bahasa pun terwujud di kafe tersebut. Hendry yang semula malu-malu berbahasa Inggris juga terlihat sudah biasa. Bahkan, dia mulai bercanda tawa dengan Evan yang berasal dari New York.

Pengalaman Hendry sangat menarik. Pasti banyak yang ingin merasakannya. Saat ini hampir semua orang pernah belajar bahasa Inggris. Namun, sedikit yang bisa mempraktikkannya. Salah satu kendala adalah kurangnya partner berkomunikasi dengan bahasa tersebut. Padahal, bahasa lebih luwes jika dipraktikkan, bukan dihafal.

Ide dan konsep tersebut dihadirkan Agus Saleh, 49. Pria kelahiran Surabaya itu awalnya prihatin dengan potensi masyarakat Indonesia yang belum tergali. Dia merenung arti pentingnya bahasa untuk kehidupan sehari-hari. ’’Tapi, masyarakat masih lemah di bidang itu,’’ ucapnya.

Agus tidak menyalahkan kurikulum pendidikan di Indonesia. Pengenalan bahasa asing dimulai sejak dini. Bahkan, TK sekarang sudah mengenal bahasa tersebut. Namun, praktik untuk mengucapkan, mendengarkan, dan menulis yang masih kurang. ’’Dari situ, muncul ide membuat tempat kongko-kongko dengan bahasa asing,’’ ujar Agus.

Di kafe itu, kata dia, siapa pun boleh masuk. Mereka yang fasih atau tidak dalam berbahasa Inggris bisa kongko-kongko di tempat tersebut. Yang grotal-gratul pasti banyak diam. Namun, dua pelayan itu akan terus mengajak ngobrol hingga akhirnya berani mengucapkan kata demi kata.

Langkah yang diutamakan adalah percakapan atau conversation. Masalah grammar dan lainnya akan ditata melalui kebiasaan dalam bercakap langsung.

Penghobi baca itu menyebut lebih dari 113 pemuda dari beberapa negara yang sudah berkomunikasi dengan dirinya. Mereka sangat tertarik dan sanggup bertukar ilmu dengan masyarakat Indonesia. Evan adalah satu di antara mereka.

Café Inggris Pare sudah dua tahun berdiri. Nama Pare diambil dari sebuah wilayah di Kediri yang dikenal dengan kawasan pendidikan bahasa. Di wilayah itu, dikenal sosok pria yang bernama Kalend Osen. Lelaki tersebut pendiri lembaga pendidikan bahasa Inggris yang sudah meluluskan ribuan siswa.

Bersama Kalend, Agus menuturkan keinginannya mendirikan tempat nonformal yang bernuansa bahasa. Kalend tertarik dan mendukung rencana itu. Perlahan keinginan tersebut diwujudkan dalam bentuk kafe sederhana. ’’Meski sederhana, ilmu yang diserap dari tempat ini luar biasa,’’ ucapnya.
Pelayan di kafe itu juga bukan orang sembarangan. Dia menyebut Evi yang hampir setahun bekerja di kafe tersebut mahir tiga bahasa.

Selain Inggris, dia memahami bahasa Spanyol dan Mandarin. ’’Tamu yang ingin belajar berbahasa Spanyol bisa juga bercakap-cakap di kafe ini,’’ paparnya.

Begitu pula Evan. Pemuda itu mampu berbahasa Prancis dengan fasih. Keahliannya tersebut juga ditularkan kepada pengunjung kafe. Suami Dian Rusdiana itu berharap kafe tersebut mampu menjadi jembatan bagi masyarakat Surabaya. Mereka yang ingin fasih belajar berbahasa Inggris cukup nongkrong di tempat itu. Tidak harus berlama-lama membahas metode bahasa Inggris yang terangkum dalam buku tebal.

’’Cukup banyak praktik berbicara langsung dengan buleyang setia melayani di kafe ini,’’ ucapnya dalam bahasa Inggris. Yes, Sir..!

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2014/08/01/249262/Satu-Meja-Pakai-Bahasa-Inggris,-Meja-Lain-Mandarin-
Baca Selengkapnya → Rangsang Bahasa Asing Lewat Kafe Unik

Theizard Saiya, Pelukis Ambon yang Hasilkan Karya Kolaborasi Bersama ABK Tunarungu Hingga ke Belanda

MASIH BELAJAR: Theizard Saiya menunjukkan dua lukisan barunya. Dia sedang menyiapkan pameran bersama pelukis Ambon.
MASIH BELAJAR: Theizard Saiya menunjukkan dua lukisan barunya. Dia sedang menyiapkan pameran bersama pelukis Ambon.
SIANG itu (22/7) senyum lebar di bibir Theizard jadi sambutan hangat di sebuah kafe di sekitar kampus Universitas Pattimura Ambon, Maluku. Begitu memasuki kafe, terlihat beberapa lukisan dengan warna-warna alam seperti cokelat, hijau, oranye, hitam, dan putih menghiasi dindingnya.

Ada yang bergambar segelas kopi, sketsa wajah, hingga kopi yang tumpah dari dalam gelas. ”Ini beberapa lukisan yang beta gambar,” kata Theizard yang langsung jadi pembuka obrolan di siang yang terik itu.
Sekejap mahasiswa Jurusan Manajemen Sumber Daya Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura tersebut mengeluarkan handphone dari dalam saku celananya.

Dia lalu memperlihatkan foto lukisan di atas tiga kanvas yang terpisah. Saat kanvas-kanvas berukuran 120 x 80 cm itu dipisah, yang terlihat hanyalah penggalan lukisan yang belum tuntas. Namun, begitu disatukan, tiga lukisan tersebut menampakkan gambar anak lelaki yang sedang menyeruput papeda, makanan dari sagu khas Ambon.

Sambil sesekali membetulkan bajunya, pria kelahiran 16 Mei 1992 itu mengatakan bahwa lukisan di tiga kanvas berbeda tersebut merupakan karya kolaborasi dirinya dengan dua remaja tunarungu dan seorang pengamat anak berkebutuhan khusus (ABK) dari Belanda bernama Nadine.

Mereka melukis tanpa kesepakatan tema, ide, maupun gaya, secara terpisah namun hasil akhirnya di luar dugaan. Lukisan itu menjadi satu kesatuan yang utuh dan bercerita.

”Beta dan Nadine sempat kaget mengetahui hasilnya seperti itu. Sungguh di luar dugaan kami,” ujar Theiza –panggilan pemuda hitam manis itu– mengenang aksi kolaborasi April lalu.

Menurut sulung tiga bersaudara tersebut, kolaborasi itu tercipta setelah dirinya berkenalan dengan Nadine yang selama ini banyak berkecimpung menangani ABK di ibu kota Maluku tersebut. Sedangkan Theiza sendiri aktif di komunitas Kanvas Alifuru, gerakan jujaro mungare (sebutan anak muda lelaki dan perempuan dalam bahasa Ambon) anti-mainstream. Mereka berkiprah di dunia seni, tapi bukan seni musik seperti kebanyakan orang Ambon. Komunitas itu lebih banyak bergerak di bidang seni rupa.

Dari perkenalan tersebut, Theiza dan Nadine sepakat untuk berkolaborasi melakukan kerja seni bersama. Mereka juga mencari bakat-bakat terpendam dalam diri anak-anak berkebutuhan khusus.Pencarian itu membawa mereka bertemu Gio dan Elvis. Dua remaja 16 tahun tersebut punya ”kelebihan”. ”Gio dan Elvis itu tunarungu. Keduanya suka menggambar. Tapi hanya mau menggambar objek yang sama setiap hari,” papar nyong Ambon yang juga piawai membunyikan harmonika tersebut.

Berbekal kemampuan melukis secara otodidak, Theiza dan Nadine kemudian intens berkomunikasi dengan Gio dan Elvis tentang rencana kerja seni rupa kolaborasi itu. Mereka tidak menggunakan kata-kata verbal, namun dengan isyarat tangan, ekspresi wajah, dan gerakan bibir. 

Mereka mengajari dua remaja tunarungu tersebut tentang garis lurus, ruang, dan persepsi dengan hanya mengandalkan insting dan kepekaan menangkap maksud gerakan bibir dan tangan. Tak ada alat peraga, alat bantu dengar, atau penerjemah khusus.

Beberapa saat kemudian, Theiza mengajari mereka soal bentuk dan garis. Sedangkan Nadine mengajari soal warna dan persepsi. Sambil sesekali Theiza memintanya mengikuti gerakan tangan yang membentuk sebuah garis di atas kertas.

Saat itulah terlihat bakat terpendam dua remaja tersebut di bidang seni rupa. ”Karena mereka punya bakat alamiah, tak sulit bagi beta mengajari mereka,” ungkap Theiza yang tinggal di Kayu Putih, Ambon.

Saat aksi melukis kolaborasi dimulai, Theiza mendapat giliran pertama menggoreskan kuasnya di kanvas secara on the spot itu. Awalnya sekumpulan titik dan garis, kemudian muncul bentuk wajah seorang anak laki-laki yang sedang makan papeda. Lukisan tersebut diselesaikan sekitar 20 menit.

Aksi kedua dilakukan Nadine di kanvas kedua. Hasil goresannya berupa tangan yang sedang ”bale papeda” (mengambil papeda). Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut warga Belanda tersebut saat itu (kini sudah pulang ke negaranya). Yang jelas, lukisan tersebut ternyata ”nyambung” dengan lukisan Theiza sebelumnya di kanvas lain.

Setelah itu, giliran Gio dan Elvis menjadi penutup aksi melukis kolaborasi tersebut di kanvas ketiga. Tanpa canggung mereka menyambar kuas dan menuangkan imajinasi ke bidang gambar di depannya.

”Selama proses melukis itu, kami sama sekali tidak berkomunikasi. Kami diam membisu berjam-jam sampai ketiga kanvas selesai dilukis. Hanya sesekali mata kami melihat lukisan karya yang sudah jadi,” jelas Theiza.

”Semua mengalir begitu saja. Beta juga seng (tidak, Red) cerita pada Nadine dan Gio-Elvis soal ide lukisan itu. Tapi, hasilnya kok bisa menyatu dan bercerita,” tambah pelukis yang serius melukis sejak 2003 itu keheranan.

Lukisan tiga kanvas tersebut ketika digabung ternyata menggambarkan seorang anak laki-laki mengenakan kaus sedang menyeruput papeda dari dalam piring menggunakan gata-gata (alat berbentuk garpu dengan dua ujung panjang terbuat dari kayu). Karya itu menghasilkan gambar yang tidak mereka duga sebelumnya.

”Lukisan itu lalu dibawa Nadine ke negaranya. Kata dia mau diikutkan dalam sebuah pameran lukisan di sana,” kata alumnus SMAN 2 Ambon tersebut dengan bangga.

Lelaki asal Kampung Aboru, Maluku Tengah, itu menjelaskan, ide lukisan objek makan papeda tersebut muncul saat dirinya makan siang bersama dua remaja tunarungu dan tunawicara itu. Menu utamanya papeda.
Tanpa pikir panjang, Theiza menuangkan ide spontan seorang anak makan papeda ke kanvas tersebut. Bagi anggota komunitas Ambon Bergerak itu, papeda adalah salah satu warisan budaya khas orang timur, orang Maluku.

Sehingga dia memilih konsep yang tak muluk-muluk, namun punya arti mendalam. ”Beta hanya pakai feeling. Apa yang terjadi saat itu beta gambar,” katanya. Tak diduga, Nadine dan Gio-Elvis punya imaji yang sama.
Saat ini Theiza tengah sibuk menyiapkan karya terbaru untuk mengikuti pameran bersama para pelukis Ambon September mendatang. Dia menyiapkan delapan lukisan.

”Yang empat sudah disimpan di kantor dinas kebudayaan. Empat lainnya masih di rumah,” paparnya sambil menunjukkan salah satu lukisannya. ”Beta tidak menggambar manusia, tapi menggambar kemanusiaan,” tandasnya.

Baca Selengkapnya → Theizard Saiya, Pelukis Ambon yang Hasilkan Karya Kolaborasi Bersama ABK Tunarungu Hingga ke Belanda

Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional


DI RUMAH: Arfi’an Fuadi (kiri) dan M. Arie Kurniawan di markas D-Tech Engineering, Salatiga. Kakak beradik ini menggarap proyek dari berbagai negara. Foto: M. Salsabyl Adn


 
 
 
 
 
 
 
 
 
  RUMAH: Arfi’an Fuadi (kiri) dan M. Arie Kurniawan di markas D-Tech Engineering, Salatiga. Kakak beradik ini menggarap proyek dari berbagai negara. Foto: M. Salsabyl Adn
SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung.

Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.

Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.

”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).

Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya. Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.

Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.

Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.

”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.

Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung.

Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.

Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.

”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.

Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.

Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.

”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”

Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.

Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.

”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.

Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.

”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.

Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.
Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK.

”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.
Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.

”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.

Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.

”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.

Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin.

”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.

Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.

”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya.

Sumber: http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=249923
Baca Selengkapnya → Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional