Jumat, 13 Juni 2014

Raeni, Anak tukang becak yang Lulus Cumlaude dengan IPK 3,96

SEMARANG, KOMPAS.com — Di acara wisuda Universitas Negeri Semarang (Unnes), Selasa (10/6/2014), perhatian para keluarga wisudawan dan handai taulan yang hadir mengarah pada sosok Raeni, wisudawati dari Jurusan Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi (FE).

Raeni yang datang dengan mengenakan kebaya dan kain lengkap dengan toga wisudanya tiba di lokasi wisuda dengan menggunakan becak.

Seperti ditulis dalam situs resmi Unnes, Raeni diantar oleh ayahnya, Mugiyono, yang memang sehari-hari berprofesi sebagai tukang becak.

Meski hidup dalam keluarga dengan ekonomi pas-pasan, Raeni justru membuktikan keunggulan dan prestasinya untuk meniti masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya.

Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Prestasi itu dipertahankan hingga akhirnya dia lulus dan ditetapkan sebagai wisudawan terbaik dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,96.

“Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Penginnya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.

Keberhasilan Raeni tentu saja tak lepas dari peran dan dukungan Mugiyono, ayahnya. Dia mengaku terus mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah agar bisa menjadi guru sesuai dengan cita-citanya.

“Sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu setelah berhenti bekerja.

Setiap hari, Mugiyono kerap mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal. Dalam sehari, dia bisa mengumpulkan uang antara Rp 10.000 – Rp 50.000.

Namun, penghasilannya kerap tak menentu. Oleh karena itu, dia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp 450.000 per bulan.

Sementara itu, Rektor Unnes, Fathur Rokhman, mengatakan, sosok Raeni membuktikan bahwa tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.

“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26 persen dari jumlah kursi yang dimilikinya untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” katanya.

Dia bahkan yakin akan makin banyak anak-anak dari keluarga tidak mampu yang bisa menjadi kaum terpelajar dan sukses, bahkan mungkin menjadi pemimpin negara. Untuk mewujudkannya, Unnes sendiri menyalurkan sekitar 1.850 beasiswa Bidikmisi setiap tahun.


Sumber: http://regional.kompas.com/read/2014/06/11/1319587/Wisudawati.dengan.IPK.3.96.Itu.Diantar.Ayahnya.dengan.Becak
Baca Selengkapnya → Raeni, Anak tukang becak yang Lulus Cumlaude dengan IPK 3,96

As'ad, Gadis Palestina yang Menjadi Dokter Termuda di Dunia

Di saat seseorang pada umumnya menyelesaikan kuliah kedokteran hingga umur 30 tahun atau paling tidak di akhir usia 20-an menjelang 30 tahun, tetapi gadis Muslimah Palestina ini memulai sekolah kedokterannya pada usia 14 tahun, demikian laporan myhijab.info, seperti dilansir World Bulletin.

Ia diketahui bernama Iqbal Asa’d, 20 tahun. Asa’d mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran dan ditetapkan sebagai dokter termuda di dunia oleh Guinness World Records. Tokoh Hamas Palestina Ismail Haniyah sangat menghormati Iqbal Asa’d. Haniyah menegaskan bahwa Asa’d, 20, sebagai sosok dokter yang hebat.
Setelah ini Asa’d akan pergi ke Ohio, Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan, meraih cita-citanya menjadi dokter spesialis anak.

Asa’d merupakan salah satu Muslimah yang berprestasi di tingkat dunia dalam dunia ilmu pengetahuan. Selain membanggakan dunia Muslim, prestasi yang diraih Muslimah seperti Asa’d membantah propaganda orang-orang kafir yang menganggap Islam mengekang bahkan melarang pendidikan bagi perempuan. Haaren.wordpress.com menyebut dalam artikelnya bahwa Eqbal Asa’d kecil adalah seorang anak jenius.
Guinness World Records menetapkan Asa’d sebagai dokter termuda di dunia.

Asa’d adalah seorang pengungsi Palestina yang tinggal di kamp pengungsi Palestina di Lebanon. Ia terdaftar di Weil Cornell Medical Collage di Qatar saat usianya baru 14. Pada usia 20, dia mendapat gelar sarjana di bidang kedokteran dengan nilai yang memuaskan.

Sejak kecil Asa’d adalah seorang anak jenius. ”Seorang anak wanita  jenius. Seorang gadis yang tamat SD pada usia 7 tahun,” tulis Haaren.

Setiap tiga bulan, saat di bangku sekolah secara menakjubkan dia menelan program satu tahun. Membuat kelasnya melompat, tapi semuanya baik. ”Dia membaca, belajar, berlomba untuk mendapatkan nilai terbaik,” tulis Haaren. ”Dalam tiga bulan, dia mampu melampaui siswa kelas barunya.”

Begitu banyak sehingga pada usia 12 tahun, ia memperoleh Baccalaureate-nya. Kemudian dia ditemukan oleh media dan sebuah penghargaan beasiswa negara asing diterimanya untuk belajar kedokteran. Dia magang untuk menjadi dokter termuda di dunia di usia 17 tahun.

“Ini benar-benar cincin cerita dongeng yang nyata,” kata bloger Haaren.
Haaren mengungkapkan, Asa’d adalah putri dari seorang pengungsi Palestina dari Lembah Bekaa, Lebanon. Pemerintah yang membayar pendidikannya adalah Qatar.

Iqbal Asa’d bercita-cita ingin membuka kantor di desanya Bekaa. Orang-orang Palestina tidak punya hak untuk melakukan profesi pengacara dan dokter di Lebanon. (arrahmah.com/RoL)
salam-online

Sumber: http://salam-online.com/2014/06/gadis-palestina-ini-menjadi-dokter-termuda-di-dunia.html

Baca Selengkapnya → As'ad, Gadis Palestina yang Menjadi Dokter Termuda di Dunia

MENGAPA PILIH PRABOWO? (Curhatan WNI di Belanda)

Ini adalah catatan malam saya, saya bukan profesor atau pun penulis, profesi saya hanya seorang Ibu rumah tangga yang sedang merantau di negeri orang, yang berusaha memahami pilihan yang ada saat ini di Indonesia, sebuah perenungan pribadi tentang nasib masa depan bangsa yang saya cintai.

Siapakah sosok yang pantas menjadi Presiden di Indonesia periode 2014-2019. 2 Bulan lalu, saya mengatakan Jokowi, saya terpana dengan popularitas dia di media massa yang hampir setiap harinya blusukan ke desa-desa. Waktu itu tidak terbesit di benak saya, orang lain selain Jokowi. Tapi kemudian, ketika sosok Prabowo mulai ditetapkan sebagai capres juga, saya kemudian mencoba mempelajari dia juga. Siapa sebenarnya dia? Lalu saya menemukan fakta-fakta ini yang tidak pernah saya tahu sebelumnya jika saya tidak membiarkan diri saya waktu itu untuk membaca dan membaca.

Setelah membaca dan mempelajari, sungguh saya malu pada diri saya sendiri, karna jasa-jasa dia sebagai patriot bangsa hampir saya tak mengetahui. Beliau ternyata mempunyai sepak terjang dalam hidupnya yang telah banyak mengharumkan nama Indonesia tapi anehnya malah tidak pernah diangkat di media massa. Jika kita menggunakan akal jernih dan hati nurani kita, semestinya kita akan tergerak melihat prestasi dan jasa-jasa dia untuk bangsa kita. Dan saya pun mulai berpikir, ada apa dengan media massa di Indonesia? Saya pun melakukan banyak membaca lagi untuk menjawab semua kegelisahan saya tentang media massa di Indonesia dan siapa-siapa saja di belakang pemilik media massa yang selama ini sudah dipersiapkan memang untuk mengangkat nama Jokowi sejak beberapa tahun akhir ini. Ada agenda luar biasa ternyata di balik pembentukan karakter Jokowi selama ini.

Setelah banyak membaca, membaca, membaca dan mempelajari, saya pikir dialah yang terbaik di antara pilihan yang ada untuk memimpin negara kita saat ini. Prabowo Subianto. Salah satu Putra terbaik bangsa yang hampir terlupakan.

Ini beberapa alasan mengapa saya akhirnya menjatuhkan pilihan saya kepadanya setelah mendalami dengan detil kedua profil capres yang ada.

1. Beliau adalah seorang prajurit sejati di bawah Sumpah Sapta Marga. Salah satunya yang nomer 5 berbunyi : "Kami Prajurit Tentara Nasional Indonesia, memegang teguh disiplin, patuh dan taat kepada pimpinan serta menjunjung tinggi sikap dan kehormatan Prajurit."

2. Beliau telah berhasil membebaskan para sandera berkewarganegaraan Indonesia, Belanda dan Inggris yang ditawan oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka) di Papua selama kurang lebih 4 bulan sejak 8 Januari 1996, dan akhirnya pada tanggal 9 Mei 1996, mereka berhasil bebas. Operasi pembebasan ini taruhannya adalah nyawa, dan beliau berani mempertaruhkan nyawanya demi orang lain. Beliau punya prestasi yang begitu besar tapi tidak pernah mau menonjolkannya. Sosok yang humble dan rendah hatilah yang selalu dia junjung tinggi.

3. Beliau memprioritaskan keutuhan NKRI ketimbang kehormatan pribadi sehingga beliau rela diberhentikan oleh atasannya dan difitnah oleh oknum yang keji. Beliau ikhlas menerima itu semua tanpa perlawanan apapun demi menjaga keutuhan NKRI.

4. Ternyata beliaulah pencetus ide untuk mendaki Mount Everest, puncak gunung tertinggi di dunia. Pada tahun 1997, team yang dipimpin oleh beliau akhirnya bisa mengibarkan bendera merah putih YANG PERTAMA KALI di antara negara Asia Tenggara lainnya, bahkan bisa mengalahkan tim dari Malaysia.

5. Beliau seorang pekerja keras, begitu ulet dan telaten dalam berbisnis, menjadi pedagang dan saudagar yang kaya raya, bangkit dari keterpurukannya setelah difitnah, dan meskipun kaya raya, beliau sangat dermawan dan sering membantu korps baret merah, membuat beliau sangat dihormati oleh banyak orang. sehingga ada beberapa seniornya di kemiliteran yang kemudian iri hati. Yang ternyata para senior di miilter yang "iri" tadi semuanya berada di kubu pendukung Jokowi. Masya Allah...

6. Beliau memiliki kuda-kuda yang dirawat dengan baik dan punya kandang untuk berlatih, dan dari kuda-kuda miliknya inilah atlet polo Indonesia dilatih dan akhirnya untuk PERTAMA KALINYA Indonesia menurunkan atlet cabang olah raga polo di Sea Games 2007 di Bangkok, Thailand.

7. Beliau lantang menolak imperialisme barat yang menginjak-injak martabat bangsa. Makanya Amerika kurang suka dengan beliau. Ini salah satu kenapa saya suka dengan kebijaksanaan beliau untuk merenegosiasi kontrak karya dengan negara asing yang menggerus kekayaan alam kita.

8. Beliau adalah anak bangsa yang begitu setia dengan tanah air Indonesia, bahkan ketika Yordania menawari kewarganegaraan, beliau menolak.

9. Beliau adalah seorang nasionalis utuh, tidak hanya simbolis. Terbukti, ketika beliau mencoba mempertahankan perusahaan nasional milik Bob Hasan di Kalimantan Timur yang hampir bangkrut, dengan membelinya, daripada membiarkan jatuh ke tangan asing.

10. Beliau merasa peduli dengan perjuangan para TKW dan TKI yang menderita di luar negeri, salah satunya ketika beliau rela membayar pengacara mahal (Tan Sri Moh. Shafee Abdullah) untuk membebaskan TKI Wilfrida yg terancam hukuman mati.

11. Beliau sangat concern dengan ketahanan pangan di Indonesia dan kehidupan para petani. Beliau adalah ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia yang berjuang memberikan kesejahteraan kepada petani di Indonesia.

12. Beliau adalah ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) di mana beliau selalu menyuarakan kepada pemerintah untuk mementingkan nasib pedagang kecil dibandingkan hypermarket yang sekarang makin menjamur dan mematikan nasib para pedagang kecil.

13. Beliau sangat peduli dengan nasib olahragawan dan atlet di Indonesia salah satunya dalam bidang pencak silat. Beliau menjadi ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sejak tahun 2004 dan di bawah kepemimpinannya, pencak silat berhasil mendapatkan juara umum pada Sea Games 2011.

14. Beliau termasuk genius, karna bisa berbahasa lebih dari 5 bahasa. Ada 6 bahasa yang dikuasainya. Yaitu bahasa jawa, bahasa Indonesia, bahasa inggris, bahasa belanda, bahasa jerman dan bahasa prancis. Saya salut untuk yang satu ini. Belajar bahasa menurut pengalaman saya sungguh membutuhkan ketekunan dan dedikasi tinggi. Kemampuan berbahasa inggris dengan fasih menjadi syarat mutlak untuk menjadi pemimpin bangsa kita di era globalisasi ini.

Prestasi beliau ternyata banyak sekali, tidak bisa saya list semua di sini, saya sungguh malu hanya karna saya malas membaca, jasa-jasa anda hampir saya tak pernah ketahui Pak.

Sebelum memutuskan, saya berusaha dengan jeli dan teliti membaca kedua profil capres yang ada, pada ujungnya, pilihan kita lah nantinya yang akan menentukan nasib bangsa kita di masa depan. Akhir kata, semoga Allah memberikan pertolongan dan keselamatan untuk negeri tercinta kita.
Catatan kecil ini adalah gubahan bebas hasil dari membaca, menelusuri lautan sumber-sumber valid dan menginspirasi.

Coretan Malam dari seorang ibu rumah tangga.
Untuk Negeriku Indonesia,
Tasniem Fauzia Rais
Nijmegen, Belanda.
10 Juni 2014 jam 23:13

Sumber: https://www.facebook.com/tasniemrais


Baca Selengkapnya → MENGAPA PILIH PRABOWO? (Curhatan WNI di Belanda)

Minggu, 01 Juni 2014

1 ONS bukan 100 Gram – Pendidikan yang Menjadi Boomerang

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. 
Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan
1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah.
Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram.Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.
SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN. Prihatin dan penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada lembaga yang paling berwenang atas sistem takar-timbang dan ukur di Indonesia , yaitu Direktorat Metrologi .Ternyata, pihak Dir. Metrologi-pun telah lama melarang pemakaian satuan ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan yang termasuk dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia . Untuk ukuran berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya.
Satuan Ons bukanlah bagian dari sistem metrik ini dan untuk menghilangkan kebiasaan memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan semua anak timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan “ons” dan “pound”.
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, ternyata tidak pernah ada acuan sistem takar-timbang legal atau pengakuan internasional atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram. Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, tidak pernah dikenal adanya satuan ONS khusus Indonesia . Jadi, hal ini adalah suatu kesalahan yang diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku sekolah dasar. Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang nyata-nyata diajarkan itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan. Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran akan penggunaan sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran secara benar, dan bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari. Sungguh memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa
1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram, dan anak-anak kita pun  menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. “Racun” ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini. Dari para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan seperti itu. Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama Dep. Pendidikan belum merubah atau memberi-kan petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA ?
Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas, Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan. Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang mengajarkan kesalahan ini, salah satu alasannya agar tidak menjadi beban psikologis bagi mereka ; “acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui / diberlakukan secara internasional , y
ang menyatakan bahwa : 1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.”
Kalau Dep. Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini diajarkan secara resmi di sekolah sampai sekarang ? Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, dinegara mana saja selain Indonesia berlaku konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram ?
Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini ? Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan ons yang keliru ini, sementara pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan “ons” dalam transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru timbangan Indonesia (versi Depdiknas)..
Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum diajarkan kepada anak-anak. Perlukah adanya sistem timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons (Depdiknas) = 100 gram dan 1 pound (Depdiknas) = 500 gram. ?
Bagaimana “Ons dan Pound (Depdiknas)” ini dimasukkan dalam sistem metrik yang sudah baku diseluruh dunia ? Siapa yang mau pakai ?.
HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI.
Contoh kasus diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar. Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana kesalahannya. Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus segera dihentikan.
Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi diplomatis mengenai hal ini. Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia . Berikan teladan kepada bangsa ini untuk tidak malu memperbaiki kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling berwenang di Indonesia . Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita harus dipersiapkan dengan benar. Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah pendidikannya. Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja sudah merupakan upaya yang sangat berat. Janganlah malah diperberat dengan pelajaran sampah yang justru bakal menyesatkan.
Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa lokal saja. Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah. Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional. Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh dengan tantangan berat.
ACUAN MANA YANG BENAR ?
Banyak sekali literatur, khususnya yang dipakai dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford , dll. (maaf, ini bukan promosi) menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak perlu diragukan lagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian / diary/agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk sebagai sarana promosi. Salah satu konversi untuk satuan berat yang umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois / avdp. (baca : averdupoiz).
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100 g.)
1 pound = 453 gram (bukan 500 g.)
1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons)
Bayangkan saja, bagaimana jadinya kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi 28 gram, namun diberi 100 gram. Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malapraktek ?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum !!! Jadi, kalau malapraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan. (ini hanya gambaran / ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan, bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali terjadi)
KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA ?.
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan pemerintah, akademis, profesi, bisnis / pedagang, sekolah dan orang tua dan juga yang lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan “ons dan pound yang keliru” dari kegiatan kita sehari-hari. Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta rumus konversi yang benar. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam kebiasaan kita, yang bisa mencelakakan / menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa ini. # # # # #
Tulisan ini akan dikirimkan kepada media masa, baik cetak maupun elektronik yang mau menyiarkannya demi kepentingan bangsa. Dipersilahkan mengubah formatnya sesuai dengan ketentuan penyiaran masing-masing. Juga kepada sekolah-sekolah, pabrik-pabrik serta LSM dan masyarakat umum, untuk diketahui secara luas. Bila anda merasa sependapat dengan saya, setuju untuk menghentikan kesalahan ini demi masa depan anak bangsa Indonesia , silahkan diperbanyak/ difoto copy dan disebar-luaskan sendiri. Bila anda ragu-ragu terhadap kebenaran tulisan ini, silahkan menanyakannya langsung kepada Direktorat Metrologi atau Balai Metrologi setempat dikota anda berada.
Terima kasih saya ucapkan kepada anda yang peduli dan mau berpar-tisipasi menyelamatkan masa depan anak-anak Indonesia . Semoga Tuhan memberkati upaya ini, yang kita lakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih sedikitpun.
Yoppy Martha Aditya
PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
 Sumber:  http://www.sdnmenteng01.com/archives/1504#.T1rvs9FAcSc.facebook
Baca Selengkapnya → 1 ONS bukan 100 Gram – Pendidikan yang Menjadi Boomerang

Minggu, 25 Mei 2014

Buat kulkas tanpa listrik, 2 siswi SMA Sekayu raih award di AS


Putra putri Indonesia kembali menoreh prestasi di dunia akademik. Muhtaza Aziziya Syafiq dan Anjani Rahma Putri, siswi SMA Negeri 2 Sekayu, Sumatera Selatan itu berhasil meraih 2 award dalam Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2014 yang diselenggarakan di Los Angeles, Amerika Serikat. Ajang bergengsi international itu diselenggarakan tanggal 11-16 Mei 2014.

Dengan karya ilmiah berjudul Green Refrigerant Box, Muhtaza dan Anjani meraih the Development Focus Award senilai US$10,000 dari the U.S. Agency for International Development (USAID). Selain itu mereka juga meraih penghargaan senilai US$1,000 di kategori Engineering, Materials & Bioengineering.

Keberhasilan meraih 2 Award tersebut berdasarkan penilaian atas dasar karya ilmiah yang mereka buat. Yakni Green Refrigerant Box (kulkas tanpa freon dan listrik) dengan fokus pada penggunaan kayu Gelam sebagai solusi alternatif untuk pendingin buah-buahan dan sayur-sayuran.

Kedua siswa tersebut meneliti bahwa Kabupaten Musi Banyuasin kaya akan potensi buah-buahan dan sayur-sayuran. Namun memiliki persoalan yang berkaitan dengan listrik. Kemudian muncul ide untuk membuat alat pendingin untuk menyimpan buah yang tidak bergantung pada listrik dan freon berupa Green Refrigerant Box. Sehingga dalam waktu 2 jam 20 menit, suhu semula 28 derajat celcius mampu turun menjadi 5,5 derajat celcius.

"Dunia membutuhkan lebih banyak ilmuwan, creator dan pengusaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengatasi tekanan tantangan global," kata Director Public Affairs Intel Indonesia, Deva Rachman, dalam siaran pers yang diterima merdeka.com di Jakarta, Sabtu (17/5).

Tahun ini, Intel International Science and Engineering Fair diikuti oleh lebih dari
1.700 ilmuwan muda yang dipilih dari 435 kompetisi di lebih dari 70 negara di seluruh dunia. Selain pemenang utama, lebih dari 500 finalis menerima penghargaan dan hadiah untuk penelitian inovatif mereka, termasuk 17 pemenang "Best of Category", yang masing-masing menerima hadiah sebesar USD 5.000.

Intel Foundation juga memberikan hibah senilai USD 1.000 untuk masing-masing sekolah dari pemenang dan kompetisi lokal yang mereka wakili. Selain itu, Intel Foundation juga memilih sejumlah siswa untuk mendapakan pengalaman penghargaan, termasuk perjalanan 11-hari ke China untuk menghadiri kompetisi sains nasional terbesar di negara itu, berbicara dengan para peneliti di lab Intel di Shanghai, dan mengunjungi Pusat Penelitian Panda di Chengdu.
Baca Selengkapnya → Buat kulkas tanpa listrik, 2 siswi SMA Sekayu raih award di AS

Masih S-1 di Unila, Farhan Ngajar Mahasiswa S-2 di Turki


Mahasiswa Unila Farhan Kurnia Mayendri mengajar mahasiswa S-2 di Turki. (Foto: Facebook Farhan Kurnia Mayendri)
Sebuah kebanggaan jika buah pemikiran kita meraih apresiasi dari orang lain, apalagi ketika penghargaan itu datang dalam skala internasional. Seperti mahasiswa Universitas Lampung (Unila) Farhan Kurnia Mayendri yang meraih penghargaan di Izmir, Turki.

Farhan merupakan satu dari ribuan orang yang tergabung dalam seleksi penulisan jurnal ilmiah 10th International Student Conference (ISC) 2014. Dalam kompetisi bergengsi itu, pemuda kelahiran 9 April 1994 itu berkesempatan mempresentasikan makalah ilmiahnya berjudul "Strenghten Creative Economy Industries for Increasing National Income in Indonesia."

Di hadapan dewan juri dan 53 mahasiswa terpilih dari seluruh dunia, Farhan dengan percaya diri membawakan jurnal yang membahas seluk beluk penguatan ekonomi kreatif itu. Dalam seleksi tersebut, dia berhasil mengalahkan peserta lain hingga tersisa 254 orang. Dari jumlah itu terpilihlah 15 besar Top World Jurnal, termasuk Farhan yang menempati posisi 14.

Berlokasi di Izmir University of Economics (IUE), mahasiswa kelahiran Padang itu melakukan presentasi dengan mantap. Menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, presentasi ilmiah tersebut berjalan lancar dan sukses.

"Pesertanya cukup beragam, mulai dari sarjana, master, hingga doktor. Dan itu pun berasal dari berbagai universitas terkemuka di dunia seperti Harvard dan Oxford. Yang dari Indonesia hanya Unila dan Universitas Indonesia (UI)," kata Farhan, seperti dikutip dari laman Unila, Rabu (21/5/2014).

Karya ilmiah bertema "Penguatan Ekonomi Kreatif Dalam Meningkatkan Industri Nasional di Indonesia" itu rupanya tak hanya menarik untuk dipresentasikan di dalam  konferensi. Makalah dan teori ekonomi yang dikuasai Farhan juga memiliki nilai tersendiri bagi Prof. Hakan Yetkiner.

Moderator yang juga ketua tim penjurian mengaku tertarik dengan presentasi jurnal yang dipresentasikan oleh Farhan. Bahkan, dia menginginkan makalah tersebut disampaikan di hadapan mahasiswa saat jam perkuliahan berlangsung.

"Jadi setelah presentasi dalam konferensi, saya sempat ditarik profesor Hakan untuk mengisi kelas perkuliahannya. Dan ternyata yang saya ajar waktu itu mahasiswa S-2. Karena belum ada persiapan sebelumnya ya terpaksa saya jelaskan teori-teori itu dengan menulis di papan tulis," ujarnya sembari tersenyum.

Sebagai bukti pencapaian dari forum ilmiah bertaraf internasional itu, sebuah sertifikat "Top Fifteen World Jurnal" pun diterima putra pasangan Mayendri Putra dan Nini Meidila itu. Tak hanya itu, karya ilmiah Farhan yang berhasil dipresentasikannya juga dipublikasikan oleh universitas-universitas di Turki dan China-USA.

"Untuk terbitan Business Review juga akan dipublikasikan dalam lima minggu ke depan. Saat ini kelimanya masih dalam tahap proseding. Dan kemungkinan besar dalam lima minggu ke depan karya ilmiah saya menjadi yang pertama terbit di jurnal internasional," urai mahasiswa jurusan Ekonomi Manajemen Pembangunan itu.

Tidak puas sampai di situ, usai mengikuti ISC 2014, Farhan tengah mempersiapkan diri mengikuti pemilihan calon mahasiswa berprestasi (camapres) Indonesia 2014. Seleksi awal di tingkat fakultas pada 21 April lalu telah dilewati dengan mengalahkan lima delegasi yang mewakili tiga jurusan di FEB. Seleksi lanjutan digelar di tingkat universitas pada 6 Mei 2014.

"Kalau di tingkat fakultas dan universitas saya berada di posisi pertama. Saat ini saya sedang melengkapi persyaratan untuk masuk 15 besar nasional. Presentasi jurnal yang saya gunakan tetap sama, namun lebih ke penguatan perekonomian Indonesia dalam pembangunan bangsa," beber Farhan. 

Sumber Resmi: http://kampus.okezone.com/read/2014/05/21/373/988240/masih-s-1-farhan-ngajar-mahasiswa-s-2-di-turki

Baca kisah seru lainnya di http://www.hotmotivasi.blogspot.com/
Baca Selengkapnya → Masih S-1 di Unila, Farhan Ngajar Mahasiswa S-2 di Turki

Sabtu, 17 Mei 2014

Mendikbud Ditantang Siswa SMA

 Dilematika UNAS: Saat Nilai Salah Berbicara
 Sebuah surat terbuka, untuk Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat,
di Tempat.

16. Mencontek adalah sebuah perbuatan…
a. terpaksa
b. terpuji
c. tercela
d. terbiasa

Ardi berhenti di soal nomor enam belas itu, salah satu soal ulangan Budi Pekerti semasa dia kelas 2 SD dulu. Ia tertegun, dan hatinya berdenyut perih saat dilihatnya sebuah coretan menyilang pilihan jawaban C. Coretan tebal, panjang, ciri khas si Ardi kecil yang menjawab nomor itu tanpa ragu, melainkan dengan penuh keyakinan…

Handphonenya berdering pelan, sebuah SMS masuk. Ardi membukanya, dan ia menghela nafas dalam-dalam begitu membaca isinya.

Jadi gimana Di, ikutan pakai ‘itu’ nggak?

Barangkali bukan kebetulan Ardi menemukan soal-soal ulangan SD-nya saat ia mau mencari buku-buku lamanya, barangkali bukan kebetulan Ardi membaca soal nomor enam belas dan jawaban polosnya itu, sebab denyut perih di hatinya baru mereda setelah ia mengirim sebaris kalimat yakin…

Nggak, Jo, aku mau jujur aja.

Sebuah balasan pahit mampir selang beberapa detik setelahnya

Ah, cemen kamu.

Tapi tidak, Ardi tak goyah. Ia mengulum senyum dan batinnya berbisik pelan, salah, Jo.

Jujur itu keren.
UNAS. Sebuah jadwal tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah untuk mengevaluasi hasil belajar siswa selama tahun-tahun sebelumnya. Sebuah penentu kelayakan seorang siswa untuk lulus dari jenjang pendidikan yang sudah dia jalani atau tidak. UNAS sudah sejak lama ada, meliputi berbagai tingkat pendidikan, mulai dari SD, SMP, sampai yang terakhir, yakni SMA. Sudah sejak lama pula UNAS menuai pro dan kontra, yang mana rupanya kontra itu belakangan ini berhasil 'memaksa' pemerintah untuk menghapuskan UNAS di tingkatan SD. Sedang untuk tingkat SMP dan SMA, kemungkinan itu masih harus menunggu.

Tiap kali UNAS akan digelar, seluruh elemen masyarakat ikut tertarik ke dalam pusaran perbincangannya. Perdebatan tentang perlu-tidaknya diadakan UNAS tak pernah absen dari obrolan ringan di warung kopi, dan acara-acara yang mengklaim ingin memotivasi para peserta UNAS pun bermunculan di berbagai channel televisi. Di sela-sela program motivasi itu, jikalau ada sesi tanya-jawab, hampir bisa dipastikan akan ada seorang partisipan yang melempar tanya:

"Bagaimana dengan kecurangan UNAS?"

Ah, ya, UNAS memang belum pernah lepas dari ketidakjujuran.

Sekarang, jangan marah jika saya bilang bahwa UNAS identik dengan kecurangan. Sebab jika tidak, pertanyaan itu tidak akan terlalu sering terdengar. Tapi nyatanya, semakin lama pertanyaan itu semakin berdengung di tiap sudut daerah yang punya lembaga pendidikan; dan tahukah apa yang menyedihkan? Yang paling menyedihkan adalah saat lembaga-lembaga pendidikan itu, tempat kita belajar mengeja kalimat 'kejujuran adalah kunci kesuksesan' itu, hanya mampu tersenyum tipis dan menahan kata di depan berita-berita ketidakjujuran yang simpang-siur di berbagai media.

UNAS dengan segala problematika dan dilematika yang dibawanya memang tak pernah habis untuk dikupas, dan sayangnya ia tak pernah bosan pula menemui jalan buntu. Dari tahun ke tahun selalu ada laporan tentang kecurangan, tetapi ironisnya setiap tahun itu pula pemerintah tetap tersenyum dan mengabarkan dengan bahagia bahwa 'UNAS tahun ini mengalami peningkatan, kelulusan tahun ini mengalami kenaikan, rata-rata tahun ini mengalami kemajuan', dan hal-hal indah lainnya. Dulu, saat saya belum menginjak kelas tiga, saya berpikir bahwa grafik itu benar adanya dan saya pun terkagum-kagum oleh peningkatan pendidikan yang dialami oleh generasi muda Indonesia.

Tetapi sekarang, sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS... dengan berat hati saya mengaku bahwa saya tidak bisa lagi percaya pada dongeng-dongeng itu. Sebagai pelajar yang baru saja menjalani UNAS, saya justru punya banyak pertanyaan yang saya pendam dalam hati saya. Banyak beban pikiran yang ingin saya utarakan kepada Bapak Menteri Pendidikan. Tapi tenang saja, Bapak tidak perlu menjadi pembaca pikiran untuk tahu semua itu, karena saya akan menceritakannya sedikit demi sedikit di sini. Dari berbagai kekalutan dan tanda tanya yang menyesaki otak sempit saya, saya merumuskannya menjadi tiga poin penting...

Pertama, tentang kesamarataan bobot pertanyaan-pertanyaan UNAS, yang tahun ini Alhamdulillah ada dua puluh paket.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat... pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Bahasa Indonesia bisa membuat 20 soal yang berbeda, dengan tingkat kesulitan yang sama, untuk satu SKL saja? Pernah tidak terpikir oleh Bapak bagaimana caranya seorang guru Biologi membuat 20 soal yang berbeda, dengan taraf kesulitan yang sama, hanya untuk satu indikator 'menjelaskan fungsi organel sel pada tumbuhan dan hewan'?

Menurut otak sempit saya, sejujurnya, itu mustahil. Mau tidak mau akan ada satu tipe soal yang memuat pertanyaan dengan bobot lebih susah dari tipe lain. Hal ini jelas tidak adil untuk siswa yang kebetulan apes, kebetulan mendapatkan tipe dengan soal susah sedemikian itu. Sebab orang tidak akan pernah peduli apakah soal yang saya terima lebih susah dari si A atau tidak. Manusia itu makhluk yang seringkali terpaku pada niai akhir, Pak. Orang tidak akan pernah bertanya, 'tipe soalmu ada berapa nomor yang susah?' melainkan akan langsung bertanya, 'nilai UNASmu berapa?'.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, di sini Bapak akan beralasan, barangkali, bahwa jika siswa sudah belajar, maka sesusah apapun soalnya tidak akan bermasalah. Tapi coba ingat kembali, Pak, apa sih tujuan diadakannya Ujian Nasional itu? Membuat sebuah standard untuk mengevaluasi siswa Indonesia, 'kan? Untuk menetapkan sebuah garis yang akan jadi acuan bersama, 'kan? Sekarang, bagaimana bisa UNAS dijadikan patokan nasional saat antar paket saja ada ketidakmerataan bobot soal? Ini belum tentang ketidakmerataan pendidikan antar daerah, lho, Pak.

Kedua, tentang pertanyaan-pertanyaan UNAS tahun ini, yang, menurut saya, menyimpang dari SKL.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya tahu Bapak sudah mengklarifikasinya di twitter, bahwa soal tahun ini bobot kesulitannya di naikkan sedikit (saya tertawa miris di bagian kata 'sedikit' ini). Tapi, aduh, jujur saya bingung juga Pak bagaimana menanggapinya. Pertama, bobot soal kami dinaikkan hanya sampai standard Internasional. Kedua, konfirmasi itu Bapak sampaikan setelah UNAS selesai. Saya jadi paham kenapa di sekolah saya disiapkan tabung oksigen selama pelaksanaan UNAS. Mungkin sekolah khawatir kami pingsan saking bahagianya menemui soal-soal itu, 'kan?

Bapak, saya tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti... apa yang ada di pikiran Bapak-Bapak semua saat membuat, menyusun, dan mencetak soal-soal itu? Bapak mengatakan di twitter Bapak, 'tiap tahun selalu ada keluhan siswa karena soal yang baru'. Tapi, Pak, sekali ini saja... sekali ini saja saya mohon, Bapak duduk dengan santai, kumpulkan contoh soal UNAS tahun dua ribu sebelas, dua ribu dua belas, dua ribu tiga belas, dan dua ribu empat belas. Dengan kepala dingin coba Bapak bandingkan, perbedaan tingkat kesulitan dua ribu sebelas dengan dua ribu dua belas seperti apa. Perbedaan bobot dua ribu dua belas dengan dua ribu tiga belas seperti apa. Dan pada akhirnya, coba perhatikan dan kaji baik-baik, perbedaan tipe dan taraf kerumitan soal dua ribu tiga belas dengan dua ribu empat belas itu seperti apa.

Kalau Bapak masih merasa tidak ada yang salah dengan soal-soal itu, saya ceritai sesuatu deh Pak. Bapak tahu tidak, saat hari kedua UNAS, saya sempat mengingat-ingat dua soal Matematika yang tidak saya bisa. Saya ingat-ingat sampai ke pilihan jawabannya sekalipun. Kemudian, setelah UNAS selesai, saya pergi menghadap ke guru Matematika saya untuk menanyakan dua soal itu. Saya tuliskan ke selembar kertas, saya serahkan ke beliau dan saya tunggu. Lalu, hasilnya? Guru Matematika saya menggelengkan kepalanya setelah berkutat dengan dua soal itu selama sepuluh menit. Ya... beliau bilang ada yang salah dengan kedua soal itu. Tetapi yang ada di kepala saya hanya pertanyaan-pertanyaan heran...

Bagaimana bisa Bapak menyuruh saya menjawab sesuatu yang guru saya saja belum tentu bisa menjawabnya?

Tidak diuji dulukah kevalidan soal-soal UNAS itu?

Bapak ujikan ke siapa soal-soal itu? Para dosen perguruan tinggi? Mahasiswa-mahasiswa semester enam?

Lupakah Bapak bahwa nanti yang akan menghadapi soal-soal itu adalah kami, para pelajar kelas tiga SMA dari seluruh Indonesia?

Haruskah saya ingatkan lagi kepada Bapak bahwa di Indonesia ini masih ada banyak sekolah-sekolah yang jangankan mencicipi soal berstandard Internasional, dilengkapi dengan fasilitas pengajaran yang layak saja sudah sujud syukur?

Etiskah menuntut sebelum memberi?

Etiskah memberi kami soal berstandard Internasional di saat Bapak belum mampu memastikan bahwa seluruh Indonesia ini siap untuk soal setingkat itu?

Pada bagian ini, Bapak mungkin akan teringat dengan berita, 'Pelajar Mengatakan bahwa UNAS Menyenangkan'. Kemudian Bapak akan merasa tidak percaya dengan semua yang sudah saya katakan. Kalau sudah begitu, itu hak Bapak. Saya sendiri juga tidak percaya kenapa ada yang bisa mengatakan bahwa UNAS kemarin menyenangkan. Awalnya saya malah mengira bahwa itu sarkasme, sebab sejujurnya, tidak sedikit teman-teman saya yang menangis sesudah mengerjakan Biologi. Mereka menangis lagi setelah Matematika dan Kimia. Lalu airmata mereka juga masih keluar seusai mengerjakan Fisika. Sekarang, di mana letak 'UNAS menyenangkan' itu? Bagi saya, hanya ada dua jawabannya; antara narasumber berita itu memang sangat pintar, atau dia menempuh jalan pintas...

Jalan pintas itu adalah hal ketiga yang menganggu pikiran saya selama UNAS ini. Sebuah bentuk kecurangan yang tidak pernah saya pahami mengapa bisa terjadi, yaitu joki.

Mengapa saya tidak paham joki itu bisa terjadi? Sebab, setiap tahun pemerintah selalu gembar-gembor bahwa "Soal UNAS aman! Tidak akan bocor! Pasti terjamin steril dan bersih!", tetapi ketika hari H pelaksanaan... voila! Ada saja joki yang jawabannya tembus. Jika bocor itu paling-paling hanya lima puluh persen benar, ini ada joki yang bisa sampai sembilan puluh persen akurat. Sembilan puluh persen! Astaghfirullah hal adzim, itu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir. Kemudian ajaibnya pula, yang sudah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi hal ini sepanjang yang saya lihat baru satu: menambah tipe soal! Kalau sewaktu saya SD dulu tipe UNAS hanya satu, sewaktu SMP beranak-pinak menjadi lima. Puncaknya sewaktu SMA ini, berkembang-biak menjadi 20 paket soal. Pemerintah agaknya menganggap bahwa banyaknya paket soal akan membuat jawaban joki meleset dan UNAS dapat berjalan mulus, murni, bersih, sebersih pakaian yang dicuci pakai detergen mahal.

Iya langsung bersih cling begitu, toh?

Nyatanya tidak.

Sekalipun dengan 20 paket soal, joki-joki itu rupanya masih bisa memprediksi soal sekaligus jawabannya. Peningkatan jumlah paket itu hanya membuat tarif mereka makin naik. Setahu saya, mereka bahkan bisa menyertakan kalimat pertama untuk empat nomor tententu di tiap paket agar para siswa bisa mencari yang mana paket mereka. Lho, kok bisa? Ya entah. Tidak sampai di sana, jawaban yang mereka berikan pun bisa tembus sampai di atas sembilan puluh persen. Lho, kok bisa? Ya sekali lagi, entah. Seperti yang saya bilang, kalau sudah sampai sembilan puluh persen akurat begitu bukan bocor lagi namanya, melainkan banjir bandang. Saat joki sudah bisa menyertakan soal, bukan hanya jawaban, maka adalah sebuah misteri Ilahi jika pemerintah masih sanggup bersumpah tidak ada main-main dari pihak dalam.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya memang hanya pelajar biasa. Tapi saya juga bisa membedakan mana jawaban yang mengandalkan dukun dan mana jawaban yang didapat karena sempat melihat soal. Apa salah kalau akhirnya saya mempertanyakan kredibilitas tim penyusun dan pencetak soal? Sebab jujur saja, air hujan tidak akan menetesi lantai rumah jika tidak ada kebocoran di atapnya.

Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat... tiga hal yang saya paparkan di atas sudah sejak lama menggumpal di hati dan pikiran saya, menggedor-gedor batas kemampuan saya, menekan keyakinan dan iman saya.

Pernah terpikirkah oleh Bapak, bahwa tingkat soal yang sedemikian inilah yang memacu kami, para pelajar, untuk berbuat curang? Jika tidak... saya beritahu satu hal, Pak. Ada beberapa teman saya yang tadinya bertekad untuk jujur. Mereka belajar mati-matian, memfokuskan diri pada materi yang diajarkan oleh para guru, dan berdoa dengan khusyuk. Tetapi setelah melihat soal yang tidak berperikesiswaan itu, tekad mereka luruh. Saat dihadapkan pada soal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya itu, mereka runtuh. Mereka menangis, Pak. Apa kesalahan mereka sehingga mereka pantas untuk dibuat menangis bahkan setelah mereka berusaha keras? Beberapa dari mereka terpaksa mengintip jawaban yang disebar teman-teman, karena dihantui oleh perasaan takut tidak lulus. Beberapa lainnya hanya bisa bertahan dalam diam, menggenggam semangat mereka untuk jujur, berdoa di antara airmata mereka... berharap Tuhan membantu.


Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan teman-teman yang terpaksa curang setelah mereka belajar tetapi soal yang keluar seperti itu. Kami mengemban harapan dan angan yang tak sedikit di pundak kami, Pak. Harapan guru. Harapan sekolah. Harapan orangtua. Semakin jujur kami, semakin berat beban itu. Sebelum sampai di gerbang UNAS, kami telah melewati ulangan sekolah, ulangan praktek, dan berbagai ulangan lainnya. Tenaga, biaya, dan pikiran kami sudah banyak terkuras. Tetapi saat kami menggenggam harapan dan doa, apa yang Bapak hadapkan pada kami? Soal-soal yang menurut para penyusunnya sendiri memuat soal OSN. Yang benar saja, Pak. Saya tantang Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika yang kami dapat di UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun internet. Jika Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui pantas menjadi Menteri. Kalau Bapak berdalih 'ah, ini bukan bidang saya', lantas Bapak anggap kami ini apa? Apa Bapak kira kami semua ini anak OSN? Apa Bapak kira kami semua pintar di Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris sekaligus? Teganya Bapak menyuruh kami untuk lulus di semua bidang itu? Sudah sepercaya itukah Bapak pada kecerdasan kami?

Tidak.


Tentu saja Bapak tidak sepercaya itu pada kami. Sebab jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sampai terpikir untuk membuat dua puluh paket soal, padahal lima paket saja belum tentu bobot soal kelima paket itu seratus persen sama. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan sengaja meletakkan persentase UNAS di atas persentase nilai sekolah untuk nilai akhir kami, padahal belum tentu kemurnian nilai UNAS itu di atas kemurnian nilai sekolah. Jika Bapak percaya, Bapak tidak akan merasa perlu untuk melakukan sidak. Jika Bapak percaya... mungkin Bapak bahkan tidak akan merasa perlu untuk mengadakan UNAS.

Anda akan mengatakan kalimat klise itu, Pak, bahwa nilai itu tidak penting, yang penting itu kejujuran.

Tapi tahukah, bahwa kebijakan Bapak sangat kontradiktif dengan kata-kata Bapak itu? Bapak memasukkan nilai UNAS sebagai pertimbangan SNMPTN Undangan. Bapak meletakkan bobot UNAS (yang hanya berlangsung tiga hari tanpa jaminan bahwa siswa yang menjalani berada dalam kondisi optimalnya) di atas bobot nilai sekolah (yang selama tiga tahun sudah susah payah kami perjuangkan) dalam rumus nilai akhir kami. Bapak secara tidak langsung menekankan bahwa UNAS itu penting, dan itulah kenyataannya, Pak. Itulah kenyataan yang membuat kami, para pelajar, goyah. Takut. Tertekan. Tahukah Bapak bahwa kepercayaan diri siswa mudah hancur? Pertahanan kami semakin remuk ketika kami dihadapkan oleh soal yang berada di luar pengalaman kami. Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelumnya? Bahwa soal yang di luar kemampuan kami, soal yang luput Bapak sosialisasikan kepada kami meskipun persiapan UNAS tidak hanya satu-dua minggu dan Bapak sebetulnya punya banyak kesempatan jika saja Bapak mau, sesungguhnya bisa membuat kami mengalami mental breakdown yang sangat kuat? Pernahkah Bapak pikirkan ini sebelum memutuskan untuk mengeluarkan soal-soal tidak berperikesiswaan itu dalam UNAS, yang notabene adalah penentu kelulusan kami?

Pada akhirnya, Pak, izinkan saya untuk mengatakan, bahwa apa yang sudah Bapak lakukan sejauh ini tentang UNAS justru hanya membuat kecurangan semakin merebak. Bapak dan orang-orang dewasa lainnya sering mengatakan bahwa kami adalah remaja yang masih labil. Masih dalam proses pencarian jati diri. Sering bertingkah tidak tahu diri, melanggar norma, dan berbuat onar. Tapi tahukah, ketika seharusnya Bapak selaku orangtua kami memberikan kami petunjuk ke jalan yang baik, apa yang Bapak lakukan dengan UNAS selama tiga hari ini justru mengarahkan kami kepada jati diri yang buruk. Tingkat kesulitan yang belum pernah disosialisasikan ke siswa, joki yang tidak pernah diusut sampai tuntas letak kebocorannya, paket soal yang belum jelas kesamarataan bobotnya, semua itu justru mengarahkan kami, para siswa, untuk mengambil jalan pintas. Sekolah pun ditekan oleh target lulus seratus persen, sehingga mereka diam menghadapi fenomena itu alih-alih menentang keras. Para pendidik terdiam ketika seharusnya mereka berteriak lantang menentang dusta. Kalau perlu, sekalian jalin kesepakatan dengan sekolah lain yang kebetulan menjadi pengawas, agar anak didiknya tidak dipersulit.

Sampai sini, masih beranikah Bapak katakan bahwa tidak ada yang salah dengan UNAS? Ada yang salah, Pak. Ada lubang yang menganga sangat besar tidak hanya pada UNAS tetapi juga pada sistem pendidikan di negeri ini. Siapa yang salah? Barangkali sekolah yang salah, karena telah membiarkan kami untuk menyeberang di jalur yang tak benar. Barangkali kami yang salah, karena kami terlalu pengecut untuk mempertahankan kejujuran. Barangkali joki-joki itu yang salah, karena mereka menjual kecurangan dan melecehkan ilmu untuk mendapat uang.

Tapi tidak salah jugakah pemerintah? Tidak salah jugakah tim penyusun UNAS? Tidak salah jugakah tim pencetak UNAS? Ingat Pak, kejahatan terjadi karena ada kesempatan. Bukankah sudah menjadi tugas Bapak selaku yang berwenang untuk memastikan bahwa kesempatan untuk berlaku curang itu tidak ada?

Mungkin Bapak tidak akan percaya pada saya, dan Bapak akan berkata, "Kita lihat saja hasilnya nanti."

Kemudian sebulan lagi ketika hasil yang keluar membahagiakan, ketika angka delapan dan sembilan bertebaran di mana-mana, Bapak akan melupakan semua protes yang saya sampaikan. Bapak akan menganggap ini semua angin lalu. Bapak akan berpesta di atas grafik indah itu, menggelar ucapan selamat kepada mereka yang lulus, kepada tim UNAS, kepada diri Bapak sendiri, dan Bapak akan lupa. Bapak yang saya yakin sudah berkali-kali mendengar pepatah 'don't judge a book by its cover', akan lupa untuk melihat ke balik kover indah itu. Bapak akan melupakan kemungkinan bahwa yang Bapak lihat itu adalah hasil kerja para 'ghost writer UNAS'. Bapak akan lupa untuk bertanya kepada diri Bapak, berapa persen dari grafik itu yang mengerjakan dengan jujur? Kemudian Bapak akan memutuskan bahwa Indonesia sudah siap dengan UNAS berstandard Internasional, padahal kenyataannya belum. Joki-jokinyalah yang sudah siap, bukan kami. Mengerikan bukan, Pak, efek dari tidak terusut tuntasnya joki di negeri ini? Mengerikan bukan, Pak, ketika kebohongan menjelma menjadi kebenaran semu?

Bapak, tiga hari ini, kami yang jujur sudah menelan pil pahit. Pil pahit karena ketika kami berusaha begitu keras, beberapa teman kami dengan nyamannya tertidur pulas karena sudah mendapat wangsit sebelum ulangan. Pil pahit karena ketika kami masih harus berjuang menjawab beberapa soal di waktu yang semakin sempit, beberapa teman kami membuat keributan dengan santai, sedangkan para pengawas terlalu takut untuk menegur karena sudah ada perjanjian antar sekolah. Pil pahit, karena kami tidak tahu hasil apa yang akan kami terima nanti, apakah kami bisa tersenyum, ataukah harus menangis lagi...

Berhentilah bersembunyi di balik kata-kata, "Saya percaya masih ada yang jujur di generasi muda kita". Ya ampun Pak, kalau hanya itu saya juga percaya. Tetapi masalahnya bukan ada atau tidak ada, melainkan berapa, dan banyakan yang mana? Sebab yang akan Bapak lihat di grafik itu adalah grafik mayoritas. Bagaimana jika mayoritas justru yang tidak jujur, Pak? Cobalah, untuk kali ini saja tanyakan ke dalam hati Bapak, berapa persen siswa yang bisa dijamin jujur dalam UNAS, dibandingkan dengan yang hanya jujur di atas kertas?
(Ngomong-ngomong, Pak, banyak dosa bisa menyebabkan negara celaka. Kalau mau membantu mengurangi dosa masyarakat Indonesia, saya punya satu usul efektif. Hapuskan kolom 'saya mengerjakan ujian dengan jujur' dari lembar jawaban UNAS.)

UNAS bukan hal remeh, Pak, sama sekali bukan; terutama ketika hasilnya dijadikan parameter kelulusan siswa, parameter hasil belajar tiga tahun, sekaligus pertimbangan layak tidaknya kami untuk masuk universitas tujuan kami. Jika derajat UNAS diletakkan setinggi itu, mestinya kredibilitas UNAS juga dijunjung tinggi pula. Mestinya tak ada cerita tentang soal bocor, bobot tidak merata, dan tingkat kesulitan luput disosialisasikan ke siswa.

Kejujuran itu awalnya sakit, tapi buahnya manis.

Dan saya tahu itu, Pak.

Tapi bukankah Pengadilan Negeri tetap ada meski kita semua tahu keadilan pasti akan menang?

Bukankah satuan kepolisian masih terus merekrut polisi-polisi baru meski kita semua tahu kebenaran pasti akan menang?

Dan bukankah itu tugas Bapak dan instansi-instansi pendidikan, untuk menunjukkan pada kami, para generasi muda, bahwa kejujuran itu layak untuk dicoba dan tidak mustahil untuk dilakukan?

Kejujuran itu awalnya sakit, buahnya manis.

Tapi itu bukan alasan bagi Bapak untuk menutup mata terhadap kecurangan yang terjadi di wilayah kewenangan Bapak.

Kami yang berusaha jujur masih belum tahu bagaimana nasib nilai UNAS kami, Pak. Tapi barangkali hal itu terlalu remeh jika dibandingkan dengan urusan Bapak Menteri yang bejibun dan jauh lebih berbobot. Maka permintaan saya mewakili teman-teman pelajar cuma satu; tolong, perbaikilah UNAS, perbaikilah sistem pendidikan di negeri ini, dan kembalikan sekolah yang kami kenal. Sekolah yang mengajarkan pada kami bahwa kejujuran itu adalah segalanya. Sekolah yang tidak akan diam saat melihat kadernya melakukan tindak kecurangan. Kami mulai kehilangan arah, Pak. Kami mulai tidak tahu kepada siapa lagi kami harus percaya. Kepada siapa lagi kami harus mencari kejujuran, ketika lembaga yang mengajarkannya justru diam membisu ketika saat untuk mengamalkannya tiba...

Dari anakmu yang meredam sakit,
Pelajar yang baru saja mengikuti UNAS.

===================================================== 

Sumber: https://www.facebook.com/notes/nurmillaty-abadiah/dilematika-unas-saat-nilai-salah-berbicara/10152134575249926?refid=13
Baca Selengkapnya → Mendikbud Ditantang Siswa SMA